Pak Eka, ada tambahan tentang emic dan etic. Dalam logbook yang biasa saya 
kerjakan, catatan emic sering saya artikan "catatan apa adanya" dan tidak hanya 
tentang gagasan / pemikiran masyarakat lokal yang dicatat. Hal ini saya 
kerjakan sebab kita adalah pemerhati ruang, maka catatan tentang karakter ruang 
dimasukkan dengan rinci, dan itu dituliskan apa adanya. Catatan tentang ruang 
ini yang membedakan kita dari para antropolog yang lebih menekankan pada dunia 
ide. 

Sedangkan catatan etik yang intinya adalah catatan dari kita para pengamat bisa 
banyak jenisnya. Ada catatan komparasi, misalnya, membandingkan ni-ainaf (kolom 
tengah rumah bulat di Timor) dengan tonggak tuo di arsitektur Minangkabau. Ada 
catatan reflektif, ketika kita menemukan sesuatu setelah berkali-kali 
merenungkan kembali catatan-catatan kita. Ada juga catatan kritis yang lain, 
Nah ketika kita menambahkan "catatan-catatan etic" ke dalam "tulisan-tulisan 
emic" maka logbook kita akan menjadi semakin lengkap dan sempurna. 

Kedua jenis catatan itu biasanya kita jadikan satu dalam naskah yang sama, dan 
saya biasanya menggunakan teknik warna, hitam untuk data (emic) dan biru untuk 
catatan-catatan kita (etic). Demikian Pak, tambahannya., dan semoga semakin 
menariklah catatan-catatan kita dan membawa kita kepada "the deep structure" di 
balik fenomena.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 10/7/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Logbook dan Etnografi
To: [email protected], [email protected]
Date: Wednesday, October 7, 2009, 9:11 AM






 




    
                  Pak Djarot ysh,
Tradisi menyusun logbook telah kita mulai cukup lama di milis ini, dapat 
dilihat pada ruang arsip milis. Bila ada bahan-bahan baru dari Pak Djarot, bisa 
juga disumbang ke arsip kita, sekalian mau lihat juga standar nilai A+ 
(hehehe). Kita telah melahirkan juga beberapa etnografer, mulai dari Pak 
Risman, Pak Aby, dst, dan secara parsial dan amatir adalah para kontributor 
milis ini.

Sedikit yang saya ketahui, catatan etnografi pada mulanya disusun oleh para 
misionaris, zending, dan pegawai pemerintahan pada daerah-daerah jajahan, dan 
akhirnya berkembang sebagai suatu kajian ilmiah hingga saat ini. Model dan 
formatnya juga mengalami perkembangan, termasuk teknik penyajian seperti yang 
sudah Pak Djarot sampaikan. Perlu konten kualitatif serta emic (perspektif 
masyarakat yang diobservasi) dan etic (perspektif etnografer), untuk mengungkap 
gambaran secara utuh. Selain sosiolog dan antropolog, saya kira perencana perlu 
memiliki keahlian etnografis ini, sebelum melangkah ke dalam 
positivism/idealism . Beberapa dewa non sosiolog yang kita kenal sekarang ini 
berangkat dari pendekatan kemasyarakatan ini, mulai dari Adam Smith, Marx, 
Schumpeter, dll.

Demikian pak. Salam.
 
-ekadj

2009/10/7 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  







Pak Ekadj, terima kasih atas apresiasinya. Mengenai catatan, saya punya 
pengalaman teknis, yaitu dikumpulkan secara baik-baik, bahkan saya jilid dengan 
rapi, ada kop di depan dan daftar isinya, termasuk ada kata pengantarnya. Buku 
catatan itu (logbook rapi) saya perlakukan dengan hormat seperti pustaka yang 
lain sebab di situlah terletak harta karun pengetahuan. Koleksi saya sudah ada 
beberapa, misalnya penelitian tentang Parangtritis, Malioboro, dan Kaenbaun. 
Catatan saya dalam riset Malioboro bahkan memuat banyak foto kejadian, termasuk 
juga rekaman apapun yang merupakan ungkapan bahasa non-verbal, misalnya poster, 
spanduk, grafiti, dll. 


Pak Ekadj, foto-foto juga bisa dibuat menjadi catatan yang rapi, misalnya bisa 
dikelompok-kelompok kan menurut berbagai kategori, waktu, tempat, dan tematik 
yang lain. Rahasianya, jika foto harus diberi narasi yang menjelaskan apa yang 
ditangkap pada foto itu, termasuk ada keterangan tentang tempat, waktu 
pemotretan, siapa yang memotret. Saya kira pada saat seperti itu kita sedang 
melakukan dokumentasi dan validasi data. Sebab foto tanpa keterangan akan turun 
validitasnya sebagai data maupun informasi biasa. Logbook foto saya tentang 
"fenomena visual" di Kaenbaun bahkan sudah saya terbitkan sebagian menjadi buku 
format pdf full color, sebab jika diterbitkan versi hardcopy akan sangat mahal. 
Jadi logbook dalam cara kerja fenomenologi ada dua yaitu yang berisi teks dan 
yang berisi foto-foto saja. Ketekunan saya membuat logbook dua jenis ini pernah 
membuahkan nilai A+ dalam tugas saya dibawah bimbingan Pak Hedy Shri-Ahimsa. 
..katanya: pak Djarot bisa
 mengalahkan antropolog.. .hehehee. ...ini serius tetapi juga guyonan Pak.


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com 


--- On Tue, 10/6/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:



From: ffekadj <4ek...@gmail. com>

Subject: [referensi] Re: Disaster Management - Pak If
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, October 6, 2009, 9:38 PM



  



Pak BSP dan Pak Djarot ysh, terima kasih atas informasi pengalaman gempa
yang diberikan. Informasi ini telah saya kumpulkan dan diteruskan ke
beberapa pihak untuk menjadi bahan perhatian, dan telah ada reaksi yang

positif. Memang prihatin bila hingga saat ini manajemen evakuasi dan
bantuan masih belum berjalan dengan baik.

Sebenarnya catatan Pak BSP dan Pak Djarot ini lebih merupakan catatan
etnografis, melalui observasi lapangan, memuat deep structure,

eksplanatoris, sehingga memiliki kandungan ilmiah. Memang mengherankan
bila selama ini etnografi dilakukan oleh sosiolog dan antropolog, namun
dapat dengan mudah dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan pembelajaran.

Ke depan kita akan senang mengumpulkan catatan-catatan seperti ini,
sebagai referensi untuk berbagai kebutuhan. Salam.

-ekadj




--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@... > wrote:
>
> Uda Eka ysh,

>
> Uda menuliskan :
>
> Pak Risfan ysh, mungkin permasalahannya selama ini 'kegiatan
pembangunan' itu dilaksanakan 'secara terprogram', jadi strukturalism
itu sangat kental. Perbandingannya adalah seperti yang disampaikan dalam

catatan Pak BSP, kalau TNI sudah sampai di lapangan beberapa waktu
setelah bencana dan langsung melakukan evakuasi atau 3 jam sebelum
aparat Pemda baru mengumpul untuk memulai koordinasi.
>
> Dari kejadian Sumbar kemarin, yang turun justru 2 batalyon tempur,

bukan zeni, yang tidak mengerti mengenai bangunan. Namun sepertinya itu
adalah satuan yang berada pada lokasi terdekat, mereka datang dengan
bekal pangan untuk 2 hari dan semangat. Saya kira ini fungsionalism.
>

> Tanggapan saya :
>
> Problem yang dihadapi oleh PNS Pemda adalah bahwa mereka cenderung
juga ikut menjadi korban. Saya justru sangat sangat menghormati pegawai
Kabupaten Bantul yang bisa mengkonsolidasi diri dalam waktu 3 hari.

>
> Bayangkan, lebih dari 80% pegawai itu yang rumahnya, atau rumah
keluarganya luluh lantak karena gempa. Mereka justru diminta untuk
membantu masyarakat.
>
> Saya sangat mengalami sendiri. Waktu itu saya punya staf dari dinas

sosial. Mereka sangat giat melakukan koordinasi pembagian bantuan. Tiba2
saya mendengar dari temannya berkata : "pak rumahnya juga hancur dan
satu anaknya luka". Saya langsung panggil dan minta dia berhenti untuk

lebih dulu menyelesaikan masalah keluarganya. Ini gambaran riil Uda.
>
> Selain itu dalam gempa, mereka juga mengalami trauma. Saya masih
melihat pada hari ke 7 banyak PNS yang ekspresinya mendadak pucat gara2

mendengar truk tronton lewat. Mereka menduga ada gempa lagi.
>
> Saya beruntung (atau memang sudah disain Allah), sebenarnya saya ada
di Jogja sehari sebelum gempat. Tetapi entah mengapa waktu shalat asyar

kok merasa ada yang membisiki untuk saya kembali ke Jakarta kumpul
keluarga. Jadi saya terhindar dari moment itu. Implikasinya, saya sangat
jernih dalam mengendalikan penanganan bantuan.
>
> Jadi, tolong melihat gempa jangan dari kacamata diluar. Kita harus

bisa merasakan apa yang terjadi di dalam sana. Karena itu saya sangat
paham dengan apa yang terjadi di Sumbar.
>
> Yang sangat saya sayangkan ada pejabat di sumbar yang nampang di TV
dan berbicara dengan nada tinggi. Yang dibutuhkan saat itu adalah kerja

keras dan bukan menyombongkan diri. Apalagi saya melihat si pejabat itu
dengan baju yang klimis dan muka kayak habis mandi (bukan mandi peluh he
he he). Itu benar2 sangat menyakitkan hati masyarakat. Rapi is oke, tapi

bukan bersolek. Saya masih ingat bagaimana bupati klaten, bupati Bantul,
walikota Jogja waktu diwawancarai lusuh namun dengan sorot mata yang
pasti. Saya lebih suka melihat performance dari pak Gubenur Sumbar yang

firm danb tidak berlebihan.
>
> Selanjutnya tentang TNI. Ada prosedur standar tentang penanganan
tanggap darurat. Pasti yang diperintahkan adalah yang tidak terkena
langsung dengan bencana itu.
>

> Demikian Uda tanggapan saya.
>
> Salam
>
> bambang sp
>



. 




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke