Pak Eka, komentar dan catatan panjenengan hebat banget. Dalam praktek kita memang tidak boleh membawa "kerangka teori" ketika melihat fenomena apapun yang kita hadapi. Penyimpulan sementara dan tergesa-gesa memang diperlukan, tentu atas dasar data yang kita peroleh, tetapi itu harus disikapi sebagai "temuan sementara". Nah, setelah interaksi kita semakin intens dan semakin mendalam, maka refleksi (ini sebuah langkah dahsyat) akan memegang peranan penting dalam menegaskan kesimpulan kita. Hanya fenomenolog atau antropolog yang sudah berpengalaman dapat segera melihat temuan-temuan yang tersembunyi bagi mata kita yang kurang terlatih.
Melaksanakan etnografi atau fenomenografi (dalam terminologi saya) memerlukan latihan, baik melatih pikiran kira, yang harus berjalan seiring sejalan dengan otak kita, agar menemukan hal-hal yang semula subyektif kemudian lambat-laun diobyektivasi karena banyak informasi lokal yang segera menjelaskannya. Proses pengamatan sambil melakukan skipping sementara kecenderungan teoritik kita ini merupakan titik krusial agar kita bisa tegas mengatakan informasi tertentu adalah emic ataukah etic. Sementara demikian ya Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Wed, 10/7/09, - ekadj <[email protected]> wrote: From: - ekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Logbook dan Etnografi To: [email protected], [email protected] Date: Wednesday, October 7, 2009, 10:48 PM Pak Djarot ysh, sebenarnya yang mengerti mengenai etnografi di milis ini adalah Pak Yando dan rekan-rekannya, kalau saya hanya hobby saja. Ada beberapa referensi yang saya baca, mudah-mudahan tidak salah tafsir. Saya kira kekuatan etnografi adalah obyektivitasnya, dan ini kiranya membedakan dengan buku log (di internet: blog) dan model penulisan lainnya. Jadi emic view memang semata-mata merupakan pendapat responden atau penafsirannya terhadap lingkungan dan norma di sekitarnya. Etnografer memang seharusnya 'tidak berposisi', seperti posisi yang dimainkan oleh Pak Risman pada kompilasi pertama milis kita (dapat dilihat di arsip). Ada seorang etnografer terkemuka Amerika, namanya Margaret Wade, mendapat kritik karena korespondensinya kepada seorang kolega. Suratnya berbunyi kurang lebih : "Dear ....., saya berbahagia sekali dalam perjalanan beberapa waktu yang lalu kami menemukan 'masyarakat primitif'' di ..... Ketika perahu kami berlabuh di pantai, mereka langsung berlari-larian masuk ke dalam hutan ....." Kritiknya adalah terdapat pandangan subyektif dari etnografer sekelas Margaret Wade yang telah berani menyimpulkan 'masyarakat primitif', kurang lebih seperti itulah. Memang sulit menghindarkan pandangan pribadi etnografer, sehingga masih ditoleransi etic view dalam etnografi. Saya kira masih dalam perdebatan seberapa besar toleransi itu, apakah 10%, 40%, hingga 60%? Seharusnya etnografi sangat obyektif, walau masih di bawah hasil penelitian lab kimia dan fisika. Namun upaya bapak untuk membedakan perspektif itu, patut dihargai. Mungkin untuk menghargai teknik etnografi ini kita perlu membedakannya dengan bahan-bahan lain. Jadi katakanlah perlu suatu bab khusus. Beberapa kajian teknis keruangan lainnya, apakah berdasarkan hasil penelitian lain, data-data baku, uji standar dan pedoman, atau analisis perencanaan lainnya, bisa disusun dalam bab-bab lainnya. Mengenai metoda, sebenarnya bukan comparative (dulu) tetapi comparison, dan sangat populer digunakan. Yang lain adalah pen-tipe-an (bukan pemodelan), mikroskopis (representasi, digunakan Geertz), dan juga ada analisis kuantitatif. Bagi kita yang masih amatiran dan penganut Mushashian, tidak usah memikirkan metode, setidaknya menimbang beberapa prinsip di atas saya kira sudah cukup. Memang sesuai penuturan bapak dan Pak Risfan bila penerapan etnografi ini sudah merambah ke berbagai bidang. Saya kira pandangan bapak sama dengan Geertz, bila etnografi dapat dimanfaatkan untuk 'diagnosa' dan bukan 'prediksi'. Sementara itu dulu pak. Salam. -ekadj 2009/10/7 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Eka, ada tambahan tentang emic dan etic. Dalam logbook yang biasa saya kerjakan, catatan emic sering saya artikan "catatan apa adanya" dan tidak hanya tentang gagasan / pemikiran masyarakat lokal yang dicatat. Hal ini saya kerjakan sebab kita adalah pemerhati ruang, maka catatan tentang karakter ruang dimasukkan dengan rinci, dan itu dituliskan apa adanya. Catatan tentang ruang ini yang membedakan kita dari para antropolog yang lebih menekankan pada dunia ide. Sedangkan catatan etik yang intinya adalah catatan dari kita para pengamat bisa banyak jenisnya. Ada catatan komparasi, misalnya, membandingkan ni-ainaf (kolom tengah rumah bulat di Timor) dengan tonggak tuo di arsitektur Minangkabau. Ada catatan reflektif, ketika kita menemukan sesuatu setelah berkali-kali merenungkan kembali catatan-catatan kita. Ada juga catatan kritis yang lain, Nah ketika kita menambahkan "catatan-catatan etic" ke dalam "tulisan-tulisan emic" maka logbook kita akan menjadi semakin lengkap dan sempurna. Kedua jenis catatan itu biasanya kita jadikan satu dalam naskah yang sama, dan saya biasanya menggunakan teknik warna, hitam untuk data (emic) dan biru untuk catatan-catatan kita (etic). Demikian Pak, tambahannya. , dan semoga semakin menariklah catatan-catatan kita dan membawa kita kepada "the deep structure" di balik fenomena. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 10/7/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: - ekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] Logbook dan Etnografi To: refere...@yahoogrou ps.com, kebuday...@yahoogro ups.com Date: Wednesday, October 7, 2009, 9:11 AM Pak Djarot ysh, Tradisi menyusun logbook telah kita mulai cukup lama di milis ini, dapat dilihat pada ruang arsip milis. Bila ada bahan-bahan baru dari Pak Djarot, bisa juga disumbang ke arsip kita, sekalian mau lihat juga standar nilai A+ (hehehe). Kita telah melahirkan juga beberapa etnografer, mulai dari Pak Risman, Pak Aby, dst, dan secara parsial dan amatir adalah para kontributor milis ini. Sedikit yang saya ketahui, catatan etnografi pada mulanya disusun oleh para misionaris, zending, dan pegawai pemerintahan pada daerah-daerah jajahan, dan akhirnya berkembang sebagai suatu kajian ilmiah hingga saat ini. Model dan formatnya juga mengalami perkembangan, termasuk teknik penyajian seperti yang sudah Pak Djarot sampaikan. Perlu konten kualitatif serta emic (perspektif masyarakat yang diobservasi) dan etic (perspektif etnografer), untuk mengungkap gambaran secara utuh. Selain sosiolog dan antropolog, saya kira perencana perlu memiliki keahlian etnografis ini, sebelum melangkah ke dalam positivism/idealism . Beberapa dewa non sosiolog yang kita kenal sekarang ini berangkat dari pendekatan kemasyarakatan ini, mulai dari Adam Smith, Marx, Schumpeter, dll. Demikian pak. Salam. -ekadj 2009/10/7 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Ekadj, terima kasih atas apresiasinya. Mengenai catatan, saya punya pengalaman teknis, yaitu dikumpulkan secara baik-baik, bahkan saya jilid dengan rapi, ada kop di depan dan daftar isinya, termasuk ada kata pengantarnya. Buku catatan itu (logbook rapi) saya perlakukan dengan hormat seperti pustaka yang lain sebab di situlah terletak harta karun pengetahuan. Koleksi saya sudah ada beberapa, misalnya penelitian tentang Parangtritis, Malioboro, dan Kaenbaun. Catatan saya dalam riset Malioboro bahkan memuat banyak foto kejadian, termasuk juga rekaman apapun yang merupakan ungkapan bahasa non-verbal, misalnya poster, spanduk, grafiti, dll. Pak Ekadj, foto-foto juga bisa dibuat menjadi catatan yang rapi, misalnya bisa dikelompok-kelompok kan menurut berbagai kategori, waktu, tempat, dan tematik yang lain. Rahasianya, jika foto harus diberi narasi yang menjelaskan apa yang ditangkap pada foto itu, termasuk ada keterangan tentang tempat, waktu pemotretan, siapa yang memotret. Saya kira pada saat seperti itu kita sedang melakukan dokumentasi dan validasi data. Sebab foto tanpa keterangan akan turun validitasnya sebagai data maupun informasi biasa. Logbook foto saya tentang "fenomena visual" di Kaenbaun bahkan sudah saya terbitkan sebagian menjadi buku format pdf full color, sebab jika diterbitkan versi hardcopy akan sangat mahal. Jadi logbook dalam cara kerja fenomenologi ada dua yaitu yang berisi teks dan yang berisi foto-foto saja. Ketekunan saya membuat logbook dua jenis ini pernah membuahkan nilai A+ dalam tugas saya dibawah bimbingan Pak Hedy Shri-Ahimsa. ..katanya: pak Djarot bisa mengalahkan antropolog.. .hehehee. ...ini serius tetapi juga guyonan Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com . .

