Pak Risfan dan rekan2 ysh.,

Betul Pak, bicara masalah "pembangunan" memang luas Pak... kalau kita bicara 
ttg ilmu sosial, misalkan, masih sangat jelas terlihat benang merah satu sama 
lain, antara geografi, sosiologi, ekonomi, anthropologi... tapi ketika 
berbicara ttg "studi pembangunan" misalkan, lebih sulit lagi... ada satu 
institut studi pembangunan di Bonn yg risetnya mulai dari biodiversity sampai 
international trade. Di mana benang merah nya, mungkin para prof di sana juga 
bingung hehe...

Tapi bisa juga kita katakan bahwa penekanan dr "pembangunan" dlm hal ini 
sebenarnya lebih pd pembangunan ekonomi... utk konteks Indonesia yg keragaman 
antar wilayahnya tinggi tentu pemahaman akan aspek keruangan mutlak 
diperlukan... karenanya, di luar pendapat bahwa pemilihan menteri lebih terkait 
aspek politis, selain itu, menurut saya idealnya Ka Bappenas memiliki 
pengetahuan ttg ekonomi dan spasial seperti Bu Armida misalkan... tapi yg 
memilih kan ya Presiden RI Pak, jadi bisa saja suatu saat Ka Bappenas dr FISIP 
... saya sebetulnya lebih tertarik utk menanyakan ke Pak Aby yg mengangkat isu 
ini: Mengapa hanya Ka Bappenas yg dirasa perlu dari Planologi? Mengapa tidak 
Menteri PU, Menteri KLH, Menpera, atau Menteri Penataan Ruang, misalkan? 

Memang idealnya ada dosen PL yg ke KSG Harvard ya Pak, tapi mungkin masuknya 
saja sudah cukup sulit, dan lebih sulit lagi mencari beasiswanya, walaupun 
sekrg sudah ada beasiswa dikti yg saking banyaknya duitnya bahkan kuota 
menyekolahkan S3 ke negara2 maju pun sering tidak tercapai sehingga Malaysia 
pun ikut menjadi negara tujuan dan diturunkan hingga ke program S2... kadang 
takjub juga melihat list staf pengajar MIT yg banyak juga orang2 India, Cina, 
bahkan Korea...

salam..


--- On Sun, 10/25/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: [email protected]
Date: Sunday, October 25, 2009, 2:38 AM






 




    
                  Trims atas koreksinya. Pengetahuan saya tentang mereka memang 
kabar burung saja. Tapi kalau tak salah jaman kejayaan ekonom Berkeley dulu, 
Emil Salim doktornya juga Public Administration, Widjojo N. Demografi?

Tapi kembali ke soalnya, kata kuncinya kan "pembangunan" , dan ekonomi satu 
aspek saja disamping aspek fisik, lingkungan, sosbud, dst. Ekonom sendiri dalam 
sektor riil tidak terlalu mengesankan sebetulnya. 
Mereka berhasil mengajari bangsa dengan angka pertumbuhan dan indikator 
moneter, tapi soal lapangan kerja, sektor riil pertanian, industri, jasa kadang 
"dominasi ekonom" yang kurang tahu aspek riil malah sering jadi penghambat. 

Sekali lagi, apa ya mesti jadi ekonom? Saya sendiri hampir 8 tahun 
memfasilitasi klaster-klaster UMKM dan stakeholder ekonomi di berbagai daerah 
dalam payung "pengembangan ekonomi lokal", ternyata masalahnya terutama 
kelembagaan. Mungkin karena itu, sejak 3 tahun lalu istilah "local economic 
governance" lebih ditonjolkan daripada PEL (LED). Mungkin juga sedang jadi 
trend dunia, sehingga Nobel pun diarahkan ke economic governance. Tapi saya 
praktisi ya, Bang Nuzul tentu lebih tahu petanya.

Mungkin perkawinan ilmu-ilmu "pembangunan" itu yang dicari ya. Tapi mungkin 
bukan model regional science yang makin menjauhkan planner dari "dunia". Ada 
baiknya ada dosen yang ambil S3 ke KSG Harvard atau sejenisnya, biar kita lebih 
faham aspek governance, public administration. 

Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com






From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Sent: Saturday, October 24, 2009 4:21 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?

  Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.

Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak Eko 
Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan 
Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu 
dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg 
dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics 
bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah 
usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... 
Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non 
Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi 
dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream 
Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan pendekatannya 
tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg ditulis oleh Ostrom lah 
yg cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg
 dikutip Koko)...

Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd 
pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, tapi 
dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat dibandingkan 
pendahulunya. ..

salam.






--- On Sat, 10/24/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, October 24, 2009, 6:41 AM

  Pak Eko, Pak Eka dan eko..planners ysh, Banyak lah planner yang akhirnya 
mendalami ekonomi di S3nya seperti Eko Wuryanto, Ek..eh Heri Darwanto, 
Syafrudin Tumenggung dst. Syaf ini malah sempat jadi Ka BPPN kan (entah apa 
hubungannya dengan planning?).Ekonomi sendiri, kalau menurut saya sudah lebih 
dari ilmu, sudah menjadi "aspek" sehingga siapapun bisa mempelajari dan 
terlibat, entah sebagai pelaku atau ahli (embel-embel bidangnya).Dalam dunia 
lintas ilmu jaman sekarang ini kayaknya yang bisa "menjembatani" dua bidang 
kayaknya malah yang mendapat peluang lebih luas daripada "murni" satu ilmu 
tertentu saja.Kalau pemenang Nobel ekonomi kan juga macam-macam, ada ahli 
sejarah ekonomi, ekonomi kelembagaan (North), ekonomi spatial (Krugman), 
sekarang terkait governance. Salam,Risfan Munirwww.samuraisejati. blogspot. 
com      

--- On Fri, 10/23/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, October 23, 2009, 10:16 PM

  Pak Dr. Eko, saya kira juga juri Nobel memilih Ostrom  karena sudah sampai 
pada penilaian fundamental. Mengingat nenek moyang kaum ekonom itu mulai dari 
Adam Smith dst adalah etnografer, seperti dapat dilihat dari buku-bukunya. 
Salam.-ekadj
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Aby, Pak Risfan,
>
> Menurut saya Ka Bappenas selain mengerti masalah keruangan juga perlu sangat 
> mengerti masalah ekonomi, karena banyak implikasi dr pembangunan wilayah yg 
> juga terkait masalah ekonomi makro dan riil (bukan sekedar economic 
> geography, regional economics, etc.)...
>
> Karenanya Ekonom yang belajar masalah ruang atau Planolog yg belajar ilmu 
> ekonomi memang cocok sebagai Ka Bappenas... Beberapa Ekonom Indonesia belajar 
> dan serius menggeluti masalah "keruangan" seperti Bu Armida (lihat kiprah 
> beliau di IRSA) atau Pak Nuzul Achjar, Iwan Jaya Azis, dll .... Tapi siapa ya 
> Planolog Indonesia yg serius belajar dan menggeluti Ilmu Ekonomi? Saya belum 
> pernah dengar.... Pemberian hadiah Nobel utk Ilmu Ekonomi tahun ini ke Elinor 
> Ostrom yg Political Scientist sebetulnya bisa menjadi pertanda bahwa Ilmu 
> Ekonomi tidak bisa eksklusif milik Ekonom saja (sementara mereka bebas 
> memasuki field yg lain)... Jadi mengapa tidak Planolog mulai mengambil Ilmu 
> Ekonomi sebagai major mereka di graduate studies? Siapa tahu bisa menjadi Ka 
> Bappenas di masa yg akan datang...
>
> Salam.
>
>
>
>
>
> --- On Fri, 10/23/09, Risfan Munir risf...@... wrote:
>
> From: Risfan Munir risf...@...
> Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, October 23, 2009, 10:12 AM
>
>
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
> Pak Aby dan rekans ysh,
>
> Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.
>
> Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu ada 
> Deputi dari Planologi.
>
> Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku dia ttg Kajian Daya Saing Daerah pasca 
> Desentralisasi. Jadi pasti familiar lah dia soal relasi antar daerah.
>
> Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan) . Yang saya alami selama S-1, 
> S-2 rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi 
> kota/daerah, analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah. Hanya 
> karena forum Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau bicara ekonomi 
> disuruh pindah ke UI. Sementara bagi alumni yang di Bappenas, Bappeda, kajian 
> pembangunan yang 'sos-ek-link' adalah menu sehari-hari.
>
> Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala Bappenas. 
> Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang nendang bolanya.
> Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra, Deputi 
> KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu ada Dirjen, 
> dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati. blogspot. com
>
>
>
> From: hengky abiyoso watashi...@yahoo. com>
> Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>
>   Milisters ysh,Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai 
> sudah….spt biasa muncul pro-kontra pendapat berbg kalangan….Satu 
>  pertanyaan iseng adlh kenapa Kepala Bappenas hampir selalu berasal dari 
> studi ekonomi dan belum pernah dipilih dari latar belakang studi a.l. teknik 
> perencanaan? ........tak cukupkah studi ekonomi menduduki posisi Menko 
> Perekonomian, Menkeu dan Ketua BI?…….Selain pemilihan menteri adlh hak 
> prerogatif presiden….umumnya bbrp pertimbangan adlh a.l. krn 
> a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra kepatuhannya 
> (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi (pasca 
> reformasi)….dsb…….Namun sebaliknya.. keberhasilan seorang menteri/ 
> pejabat tinggi  kadang tak sekedar ditentukan oleh latar blkng studinya yg 
> tepat benar  dgn bidang yg ditangani……Fadel Muhammad misalnya, dgn latar 
> belakang teknik industri, ilmu administrasi
 negara dan kewiraswastaan misalnya… terlihat sukses memimpin
> sebuah propinsi baru dan mengangkatnya melalui maize economy……dan boleh 
> jadi kinerjanya jg tak akan buruk bila ia kini hrs memimpin DKP….….Kalau 
> saja presiden terpilih (bukan maksa dipilih macem spt orba) memiliki 
> kekeluasaan yg cukup utk milih menteri terbaiknya…... kembali kepertanyaan 
> diatas….kenapa Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional blm pernah 
> dipilih dari latar belakang studi teknik perencanaan ruang?...... . Salah 
> satu dugaan ngawur saya adalah krn rata2 presiden terpilih bukanlah dari 
> studi perencanaan (yg sudah adlh : dari studi arsitektur, dari tentara lokal 
> bentukan knil/ nippon, dari teknik/elektronika penerbangan, pesantren, 
> pecandu film the beauty and the beast, lalu dari akademi militer nas/internas 
> dan studi pertanian)…… krn itu para presiden terpilih kita boleh jadi tak 
> sbrp mengerti apa konsentrasi studi teknik perencanaan itu…..…Itu alasan 
> yg saya susun agar rada
 enak didengar oleh masyarakat
> perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada juga alasan yg bisa rada kurang 
> enak didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. Alasan itu saya duga ya 
> maap….krn ‘salah’ masyarakat perencanaan sendiri… kenapa tak berhasil 
> meyakinkan kepada masyarakat luas (trmsk para capres, krn juga umumnya 
> berasal dari kalangan luas juga, mantan jendral, tokoh pesantren, bnintang 
> film dsb)…….bhw studi (teknik) perencanaan  adalah studi yg tepat utk 
> memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya berpikir fisik terus 
> saja)……..Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) spt memandang 
> bhw perencanaan (kembali)  pembangunan bagi  negeri miskin dan porak 
> poranda spt Indonesia (akibat penjajahan…  jg akibat perusakan moral 
> korupsi dan represif oleh orba) yg cocok adalah dimulai dgn pembangunan 
> fundamental ekonomi yg kokoh….. Itu benar….tetapi mereka spt lupa jg bhw 
> fundamental keruangan
 dan demografik  kita juga amatlah sangat timpang sejak dari
> dulu……dan itu jg adalah keadaan yg tak kalah gawat dibanding dgn 
> porakporanda ekonomi dan moral……Para Kepala Bappenas ybs. (dari studi 
> ekonomi dan studi ekonomi pembangunan) mengerti bhw masalah Jawa-luar Jawa 
> dan KBI-KTI adalah masalah klasik ketimpangan  keruangan kita….namun krn 
> mereka  umumnya bukan dari studi ‘teknik’ keruangan….. maka mereka 
> akan selalu menomor-duakan  atau menomor-tigakan pemberesan masalah 
> ketimpangan keruangan dan demografik klasik kita itu (studi teknik 
> perencanaan lbh mendingan krn masih belajar ttg makro-mikro ekonomi dan 
> studio pembangunan……tapi studi ekonomi dan studi pembangunan samasekali 
> tidak belajar ttg teknik perencanaan ruang)……mereka tak mengerti apa 
> manfaat teknik keruangan bagi peredaan ketimpangan keruangan Jawa-luar Jawa 
> dan KB-KTI  itu……Selain bagi mereka ekonomi adalah selalu nomor 
> satu…..mereka jg tak
 pernah cukup mengerti skenario bgmn memulai meredakan ketimpangan itu dgn
> cara masuk akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka lbh terbiasa 
> pd analisa masalah  dgn logika2 non-eksak lebih daripada logika2 
> eksak…….justru krn mereka bukan dari studi eksakta teknik……. Mereka 
> rata2 mengerti skenario umum bgmn mengembangkan luar Jawa atau  memajukan 
> KTI….tetapi dgn logika non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn 
> (apalagi kalau bukan) “investasi2 yg besar� serta “dgn pembangunan 
> infrastruktur� (semua juga tau kalau  investasinya luar biasa besar pasti 
> hasilnya akan jelas…tapi semua juga tau itu sesuatu yg tak mungkin…krn 
>  APBN tak pernah akan longgar dan swasta siapa yg mau menjadi pemula 
> membangun dan mau berinvestasi secara besar2an di timur 
> sendirian?)……walhasil skenario2 demikian selalu kandas…..justru krn  
> skenario yg dibayangkan adalah selalu skenario2  finansial (non-keruangan) 
> dgn investasi
 besar……dan tak pernah dicari “skenario keruangan� yg relatif mudah dan 
murah
> …justru krn yg kecil dan murah dipercaya tak bakalan manjur……..Jangan 
> lupa  bhw dalam diseminasi ekonomi … tak hanya terdapat persemaian 
> perekonomian saja… namun juga terdapat persemaian  pertumbuhan kegiatan 
>  keruangan…..terdapat pula persemaian pergerakan demografik 
> (migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek hankam (kalau 
> diperbatasan) dsb……..Suatu saat dulu pernah  di Bappenas ada Kepala dan 
> Wakil kepala Bappenas……yg belakangan kemudian dihapus…... Kini 
> tantangan terpulang kembali kemasyarakat perencanaan…….kalau percaya bhw 
> teknik perencanaan bukanlah hanya sekedar fisik semata (lalu asal ingin 
> belajar ekonomi disuruh ke UI dan belajar sosial ke Gama)…namun juga 
> ekonomi, sosial budaya hankam dsb……maka para pemuka studi perencanaan 
> ruang kita seharusnya dapat menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil 
> kepala
 Bappenas….jadi dgn demikian  visi ekonomi dan visi keruangan bisa menyatu 
dan saling
> menguatkan…… Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn hanya visi 
> monodisipliner perencanaan ruang adalah  fisik semata……namun tambahlah 
> jg dgn visi lintas dimensional sosial, ekonomi, budaya, hankam, 
> penanggulangan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, kewiraswastaan, 
> manufaktur dsb….Jangan2 Fadel nanti tahu2 cocok juga jadi the next 
> KaBappenas… sama seperti Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini 
> Menhan….. Salam,    
>



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke