Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.

Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak Eko 
Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan 
Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu 
dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg 
dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics 
bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah 
usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... 
Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non 
Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi 
dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream 
Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan pendekatannya 
tdk mainstream, inductive...tapi nampaknya justru yg ditulis oleh Ostrom lah yg 
cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg
 dikutip Koko)...

Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd 
pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, tapi 
dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat dibandingkan 
pendahulunya...

salam..






--- On Sat, 10/24/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: [email protected]
Date: Saturday, October 24, 2009, 6:41 AM






 




    
                  Pak Eko, Pak Eka dan eko..planners ysh,
 
Banyak lah planner yang akhirnya mendalami ekonomi di S3nya seperti Eko 
Wuryanto, Ek..eh Heri Darwanto, Syafrudin Tumenggung dst. Syaf ini malah sempat 
jadi Ka BPPN kan (entah apa hubungannya dengan planning?). 
Ekonomi sendiri, kalau menurut saya sudah lebih dari ilmu, sudah menjadi 
"aspek" sehingga siapapun bisa mempelajari dan terlibat, entah sebagai pelaku 
atau ahli (embel-embel bidangnya). 
Dalam dunia lintas ilmu jaman sekarang ini kayaknya yang bisa "menjembatani" 
dua bidang kayaknya malah yang mendapat peluang lebih luas daripada "murni" 
satu ilmu tertentu saja.
Kalau pemenang Nobel ekonomi kan juga macam-macam, ada ahli sejarah ekonomi, 
ekonomi kelembagaan (North), ekonomi spatial (Krugman), sekarang terkait 
governance.
 
Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com
 
 
 
 
 
 


--- On Fri, 10/23/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, October 23, 2009, 10:16 PM


  


Pak Dr. Eko, saya kira juga juri Nobel memilih Ostrom  karena sudah sampai pada 
penilaian fundamental. Mengingat nenek moyang kaum ekonom itu mulai dari Adam 
Smith dst adalah etnografer, seperti dapat dilihat dari buku-bukunya. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Aby, Pak Risfan,
> 
> Menurut saya Ka Bappenas selain mengerti masalah keruangan juga perlu sangat 
> mengerti masalah ekonomi, karena banyak implikasi dr pembangunan wilayah yg 
> juga terkait masalah ekonomi makro dan riil (bukan sekedar economic 
> geography, regional economics, etc.)...
> 
> Karenanya Ekonom yang belajar masalah ruang atau Planolog yg belajar ilmu 
> ekonomi memang cocok sebagai Ka Bappenas... Beberapa Ekonom Indonesia belajar 
> dan serius menggeluti masalah "keruangan" seperti Bu Armida (lihat kiprah 
> beliau di IRSA) atau Pak Nuzul Achjar, Iwan Jaya Azis, dll .... Tapi siapa ya 
> Planolog Indonesia yg serius belajar dan menggeluti Ilmu Ekonomi? Saya belum 
> pernah dengar.... Pemberian hadiah Nobel utk Ilmu Ekonomi tahun ini ke Elinor 
> Ostrom yg Political Scientist sebetulnya bisa menjadi pertanda bahwa Ilmu 
> Ekonomi tidak bisa
 eksklusif milik Ekonom saja (sementara mereka bebas memasuki field yg lain)... 
Jadi mengapa tidak Planolog mulai mengambil Ilmu Ekonomi sebagai major mereka 
di graduate studies? Siapa tahu bisa menjadi Ka Bappenas di masa yg akan 
datang... 
> 
> Salam.
> 
> 
> 
> 
> 
> --- On Fri, 10/23/09, Risfan Munir risf...@... wrote:
> 
> From: Risfan Munir risf...@...
> Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, October 23, 2009, 10:12 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Aby dan rekans ysh,
> 
> Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.
> 
> Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu ada 
> Deputi dari Planologi.
> 
> Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku
 dia ttg Kajian Daya Saing Daerah pasca Desentralisasi. Jadi pasti familiar lah 
dia soal relasi antar daerah.
> 
> Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan) . Yang saya alami selama S-1, 
> S-2 rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi 
> kota/daerah, analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah. Hanya 
> karena forum Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau bicara ekonomi 
> disuruh pindah ke UI. Sementara bagi alumni yang di Bappenas, Bappeda, kajian 
> pembangunan yang 'sos-ek-link' adalah menu sehari-hari.
> 
> Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala Bappenas. 
> Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang nendang bolanya.
> Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra, Deputi 
> KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu ada Dirjen, 
> dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.
> 
> Salam,
 
> Risfan Munir
> www.samuraisejati. blogspot. com
> 
> 
> 
> From: hengky abiyoso watashi...@yahoo. com>
> Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
> 
>   Milisters ysh,Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai 
> sudah….spt biasa muncul pro-kontra pendapat berbg kalangan….Satu 
>  pertanyaan iseng adlh kenapa Kepala Bappenas hampir selalu berasal dari 
> studi ekonomi dan belum pernah dipilih dari latar belakang studi a.l. teknik 
> perencanaan? ........tak cukupkah studi ekonomi menduduki posisi Menko 
> Perekonomian, Menkeu dan Ketua BI?…….Selain pemilihan menteri adlh hak 
> prerogatif presiden….umumnya bbrp pertimbangan adlh a.l. krn 
> a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra
 kepatuhannya (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi (pasca 
reformasi)….dsb…….Namun sebaliknya.. keberhasilan seorang menteri/ 
pejabat tinggi  kadang tak sekedar ditentukan oleh latar blkng studinya yg 
tepat benar  dgn bidang yg ditangani……Fadel Muhammad misalnya, dgn latar 
belakang teknik industri, ilmu administrasi negara dan kewiraswastaan 
misalnya… terlihat sukses memimpin
> sebuah propinsi baru dan mengangkatnya melalui maize economy……dan boleh 
> jadi kinerjanya jg tak akan buruk bila ia kini hrs memimpin DKP….….Kalau 
> saja presiden terpilih (bukan maksa dipilih macem spt orba) memiliki 
> kekeluasaan yg cukup utk milih menteri terbaiknya…... kembali kepertanyaan 
> diatas….kenapa Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional blm pernah 
> dipilih dari latar belakang studi teknik perencanaan ruang?...... . Salah 
> satu dugaan ngawur saya adalah krn
 rata2 presiden terpilih bukanlah dari studi perencanaan (yg sudah adlh : dari 
studi arsitektur, dari tentara lokal bentukan knil/ nippon, dari 
teknik/elektronika penerbangan, pesantren, pecandu film the beauty and the 
beast, lalu dari akademi militer nas/internas dan studi pertanian)…… krn 
itu para presiden terpilih kita boleh jadi tak sbrp mengerti apa konsentrasi 
studi teknik perencanaan itu…..…Itu alasan yg saya susun agar rada enak 
didengar oleh masyarakat
> perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada juga alasan yg bisa rada kurang 
> enak didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. Alasan itu saya duga ya 
> maap….krn ‘salah’ masyarakat perencanaan sendiri… kenapa tak berhasil 
> meyakinkan kepada masyarakat luas (trmsk para capres, krn juga umumnya 
> berasal dari kalangan luas juga, mantan jendral, tokoh pesantren, bnintang 
> film dsb)…….bhw studi (teknik) perencanaan
  adalah studi yg tepat utk memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya berpikir 
fisik terus saja)……..Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) spt 
memandang bhw perencanaan (kembali)  pembangunan bagi  negeri miskin dan 
porak poranda spt Indonesia (akibat penjajahan…  jg akibat perusakan moral 
korupsi dan represif oleh orba) yg cocok adalah dimulai dgn pembangunan 
fundamental ekonomi yg kokoh….. Itu benar….tetapi mereka spt lupa jg bhw 
fundamental keruangan dan demografik  kita juga amatlah sangat timpang sejak 
dari
> dulu……dan itu jg adalah keadaan yg tak kalah gawat dibanding dgn 
> porakporanda ekonomi dan moral……Para Kepala Bappenas ybs. (dari studi 
> ekonomi dan studi ekonomi pembangunan) mengerti bhw masalah Jawa-luar Jawa 
> dan KBI-KTI adalah masalah klasik ketimpangan  keruangan kita…..namun krn 
> mereka  umumnya bukan dari studi
 ‘teknik’ keruangan….. maka mereka akan selalu menomor-duakan  atau 
menomor-tigakan pemberesan masalah ketimpangan keruangan dan demografik klasik 
kita itu (studi teknik perencanaan lbh mendingan krn masih belajar ttg 
makro-mikro ekonomi dan studio pembangunan……tapi studi ekonomi dan studi 
pembangunan samasekali tidak belajar ttg teknik perencanaan ruang)……mereka 
tak mengerti apa manfaat teknik keruangan bagi peredaan ketimpangan keruangan 
Jawa-luar Jawa dan KB-KTI  itu……Selain bagi mereka ekonomi adalah selalu 
nomor satu…..mereka jg tak pernah cukup mengerti skenario bgmn memulai 
meredakan ketimpangan itu dgn
> cara masuk akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka lbh terbiasa 
> pd analisa masalah  dgn logika2 non-eksak lebih daripada logika2 
> eksak…….justru krn mereka bukan dari studi eksakta teknik……. Mereka 
> rata2 mengerti
 skenario umum bgmn mengembangkan luar Jawa atau  memajukan KTI….tetapi dgn 
logika non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn (apalagi kalau bukan) 
“investasi2 yg besar� serta “dgn pembangunan infrastruktur� (semua juga 
tau kalau  investasinya luar biasa besar pasti hasilnya akan jelas…tapi 
semua juga tau itu sesuatu yg tak mungkin…krn  APBN tak pernah akan longgar 
dan swasta siapa yg mau menjadi pemula membangun dan mau berinvestasi secara 
besar2an di timur sendirian?)……walhasil skenario2 demikian selalu 
kandas…..justru krn  skenario yg dibayangkan adalah selalu skenario2 
 finansial (non-keruangan) dgn investasi besar……dan tak pernah dicari 
“skenario keruangan� yg relatif mudah dan murah
> …justru krn yg kecil dan murah dipercaya tak bakalan manjur……..Jangan 
> lupa  bhw dalam diseminasi ekonomi
 … tak hanya terdapat persemaian perekonomian saja… namun juga terdapat 
persemaian  pertumbuhan kegiatan  keruangan…..terdapat pula persemaian 
pergerakan demografik (migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek 
hankam (kalau diperbatasan) dsb……..Suatu saat dulu pernah  di Bappenas ada 
Kepala dan Wakil kepala Bappenas……yg belakangan kemudian dihapus…... Kini 
tantangan terpulang kembali kemasyarakat perencanaan…….kalau percaya bhw 
teknik perencanaan bukanlah hanya sekedar fisik semata (lalu asal ingin belajar 
ekonomi disuruh ke UI dan belajar sosial ke Gama)…namun juga ekonomi, sosial 
budaya hankam dsb……maka para pemuka studi perencanaan ruang kita seharusnya 
dapat menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil kepala Bappenas….jadi 
dgn demikian  visi ekonomi dan visi keruangan bisa menyatu dan saling
>
 menguatkan…… Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn hanya visi 
monodisipliner perencanaan ruang adalah  fisik semata……namun tambahlah jg 
dgn visi lintas dimensional sosial, ekonomi, budaya, hankam, penanggulangan 
kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, kewiraswastaan, manufaktur 
dsb….Jangan2 Fadel nanti tahu2 cocok juga jadi the next KaBappenas… sama 
seperti Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini Menhan….. Salam,    
>





      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke