Sahabat Referensiers Ysh,

Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner, berikut
saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari lalu.
Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah provinsi
untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur
kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang dikeluarkan oleh
Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta mereka
membuat analisis tentang indikator kesejahteraan.

Salam hangat,
Nuzul Achjar




PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS

Oleh: Nuzul Achjar



Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II
pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim ekonomi,
presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010, dari
lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang pertumbuhan
ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi lagi
dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014 pada
Selasa,  20 Oktober 2009.



Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi
berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan Riau dan
apa implikasinya.



Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca berbagai
indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang lazim
juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ataupun
pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level regional. Di
samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya seperti
inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat
kemiskinan, dan lainnya.



Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana telah
disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi ataupun
konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai
keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk mengevaluasi
kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan PDRB
per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil tentang
kesejahteraan.



Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro
tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas Sarkozy
pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom terkemuka
seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi. Stiglitz dan
kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut “*Commission on
the Measurement of Economic Performance and Social Progress*” (Komisi
Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini sekitar
pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil kajiannya.



Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan  menyoroti berbagai kelemahan
ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk mengukur
pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah
dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena perubahan
teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang diolah
haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan.  Jadi kuncinya terletak pada
proses memasak data-data tersebut.



Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan kesehatan
yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah sektor
jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji guru,
pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus usaha
institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut tidak akan
banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan kesehatan, yang
justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Di
sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas
faktor-faktor  produksi.




Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di Batam atau
Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros.
Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM. Tentu
logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat. Namun
catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak belakang
dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh konsumsi BBM
menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara.



Stiglitz  mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global
mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari sisi
produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi, sosial
dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau *information and
communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi tentang
indikator ekonomi makro.



Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan kita
yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola konsumsi,
termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan dini, dan
akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang berdampak
sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh tidak
lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*).



Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12 saran
yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi makro dan
kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya untuk
terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro, termasuk
data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan dengan baik
tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data yang baik
tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai tingkat
pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan oleh pihak
swasta sekalipun.



Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro dan
mikro  di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan semata
ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia.
Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh perangkat
infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi antar
instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi maupun maupun
intra provinsi.



Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya
cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun 2008
merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi tertinggi
terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung - Babel)
yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di Kepulauan
Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008. Dengan PDRB
per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan Provinsi Babel
yaitu berkisar Rp 2,874  juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan RAPBN 2010),
pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih tinggi dibandingkan
Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau (10,5%).



Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme, dorongan dan
kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target *Millenium
Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan
monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas pendidikan dan
kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real time*.
Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa infrastruktur TIK atau
ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas hidup
melalui akses informasi.



Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT
merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang sangat penting
untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (*social overhead
capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan tinggi yang tidak
didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana sekalipun.
Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator ketersediaan
ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi di
antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul karena
didukung oleh ketersediaan ICT di kampus.



Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal jika
institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database yang
terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun spasial.
Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi
kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang konstruksi
kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim, akuntan
publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia maritim
dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita berniat  untuk
meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang berkualitas,
berdaya saing dan kreatif. Semoga.

Kirim email ke