Rekan ysh, Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di lingkungan yang berbeda dari NKRI. Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan susun teori ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara kepulauan ini mas. Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan dengan kuantitifikasi perilaku ekonomi makro punya arti. Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara mengenai CTI terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di masa mendatang misalnya...
Salam, ATA 2009/10/25 Nuzul Achjar <[email protected]> > > > Sahabat Referensiers Ysh, > > Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner, berikut > saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari lalu. > Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah provinsi > untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur > kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang dikeluarkan oleh > Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta mereka > membuat analisis tentang indikator kesejahteraan. > > Salam hangat, > Nuzul Achjar > > > > > PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS > > Oleh: Nuzul Achjar > > > > Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II > pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim ekonomi, > presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan > pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010, dari > lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang pertumbuhan > ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi lagi > dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014 pada > Selasa, 20 Oktober 2009. > > > > Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi > berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan Riau dan > apa implikasinya. > > > > Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca berbagai > indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang lazim > juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ataupun > pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level regional. Di > samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya seperti > inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat > kemiskinan, dan lainnya. > > > > Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana telah > disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi ataupun > konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai > keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk mengevaluasi > kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan PDRB > per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil tentang > kesejahteraan. > > > > Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro > tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas Sarkozy > pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom terkemuka > seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi. Stiglitz dan > kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut “*Commission on > the Measurement of Economic Performance and Social Progress*” (Komisi > Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini sekitar > pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil kajiannya. > > > > Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan menyoroti berbagai kelemahan > ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk mengukur > pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah > dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena perubahan > teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang diolah > haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan. Jadi kuncinya terletak > pada proses memasak data-data tersebut. > > > > Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan kesehatan > yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah sektor > jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji guru, > pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus usaha > institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut tidak akan > banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan kesehatan, yang > justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Di > sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas faktor-faktor > produksi. > > > > Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di Batam atau > Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros. > Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM. Tentu > logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat. Namun > catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak belakang > dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh konsumsi BBM > menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara. > > > > Stiglitz mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global > mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari sisi > produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi, sosial > dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau *information and > communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi tentang > indikator ekonomi makro. > > > > Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan kita > yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola konsumsi, > termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan dini, dan > akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang berdampak > sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh tidak > lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*). > > > > Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12 saran > yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi makro dan > kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya untuk > terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro, termasuk > data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan dengan baik > tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data yang baik > tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai tingkat > pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan oleh pihak > swasta sekalipun. > > > > Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro dan > mikro di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan semata > ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia. > Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh perangkat > infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi antar > instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi maupun maupun > intra provinsi. > > > > Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya > cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun 2008 > merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi tertinggi > terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung - Babel) > yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di Kepulauan > Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008. Dengan PDRB > per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan Provinsi Babel > yaitu berkisar Rp 2,874 juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan RAPBN > 2010), pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih tinggi > dibandingkan Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau (10,5%). > > > > > Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme, dorongan dan > kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target *Millenium > Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan > monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas pendidikan dan > kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real time*. > Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa infrastruktur TIK atau > ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas hidup > melalui akses informasi. > > > > Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT > merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang sangat > penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (*social > overhead capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan tinggi yang > tidak didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana sekalipun. > Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator ketersediaan > ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi di > antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul karena > didukung oleh ketersediaan ICT di kampus. > > > > Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal jika > institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database yang > terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun spasial. > Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi > kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang konstruksi > kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim, akuntan > publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia maritim > dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita berniat untuk > meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang berkualitas, > berdaya saing dan kreatif. Semoga. > > > > > > >

