Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional
merencana di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan
akan di lapangan selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk
5 hari, realita pertama yang saya temui setelah lepas bangku sekolah.
Kemudian memang datang ke lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula.
Dalam kesempitan waktu saya akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari
kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. Sebelum dapat peta itu memang
membuat sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga diliatin warga, karena
kemana-mana menggenggam clipboard; jadi saya orang asing di tempat itu,
tidak ada proses immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan lokasi
kuburan, letak gardu dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan,
dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah warga, dan menaksir
kedalaman muka air sumur, karena merasa mampu untuk membuat peta
geohidrologi. Dari data monografi beberapa desa saya melihat ada
beberapa data bolong, terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW untuk
melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup.

Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT sudah
sedemikian rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork;
perolehan data dan informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa
dilakukan dalam waktu 2 jam
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3635> . Teknologi
mapping telah mereduksi banyak ketelitian. Dan yang terpenting: analisis
kualitatif cenderung menjadi kajian normatif.

Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi akhir. Saya
mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin
menyampaikan satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang
bermimpi, maka itu memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang
bermimpi, maka itu adalah awal dari kenyataan ..." Dalam sesi
tanya-jawab, seorang anggota DPRD seakan menjawab seruan saya: "... ya
bapak-ibu sekalian, hari ini kita sungguh mendapatkan mimpi-mimpi indah
..."

Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama
bermimpi. Dari perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari
kenyataan? Salam.

-ekadj

catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll
adalah terkategori kualitatif

catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif, data kuantitatif
bersifat sekunder; demikian sebaliknya.


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
> Â
> Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif
murni, ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan
peta kosong", bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh
komunitas setempat. Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut
nasional, kab/kota harus mengacu provinsi, dst?
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati.blogspot.com


Kirim email ke