Uda Ekadj dan rekans ysh,

Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di lapangan, karena ada google 
earth.

Tapi saya punya pengalaman lain, waktu studia urban planning, saat ngeplot peta 
sekaligus household interview secara random, di suatu kawasan di daerah itu. 
Pertama-tama agak alot mengetuk pintu, minta kesediaan diinterview, tapi makin 
jauh saya jalan kok makin ramah orang-orangnya, sampai di kampung tertentu 
malah diundang kami oleh 1-2 gadis yang duduk depan pintu ....dan, ya ampun... 
kompleks itu. Ngacirlah kami.

Salam,
Risfan Munir







-----Original Message-----
From: ffekadj <[email protected]>
Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM
To: [email protected]
Subject: [referensi] fieldwork

 
Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional merencana di 
Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan akan di lapangan 
selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk 5 hari, realita pertama 
yang saya temui setelah lepas bangku sekolah. Kemudian memang datang ke 
lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula. Dalam kesempitan waktu saya 
akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. 
Sebelum dapat peta itu memang membuat sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga 
diliatin warga, karena kemana-mana menggenggam clipboard; jadi saya orang asing 
di tempat itu, tidak ada proses immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan 
lokasi kuburan, letak gardu dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan, 
dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah warga, dan menaksir kedalaman muka 
air sumur, karena merasa mampu untuk membuat peta geohidrologi. Dari data 
monografi beberapa desa saya melihat ada beberapa data bolong, terpaksa saya 
mendatangi rumah-rumah pak RW untuk melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup.
Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT sudah sedemikian 
rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork; perolehan data dan 
informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa dilakukan dalam waktu 2 jam. 
Teknologi mapping telah mereduksi banyak ketelitian. Dan yang terpenting: 
analisis kualitatif cenderung menjadi kajian normatif.
Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi akhir. Saya 
mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin menyampaikan 
satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang bermimpi, maka itu 
memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang bermimpi, maka itu adalah awal 
dari kenyataan ..." Dalam sesi tanya-jawab, seorang anggota DPRD seakan 
menjawab seruan saya: "... ya bapak-ibu sekalian, hari ini kita sungguh 
mendapatkan mimpi-mimpi indah ..."
Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama bermimpi. Dari 
perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari kenyataan? Salam.
-ekadj
catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll adalah 
terkategori kualitatif
catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif, data kuantitatif bersifat 
sekunder; demikian sebaliknya.

--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
>  
> Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif murni, 
> ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan peta kosong", 
> bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh komunitas setempat. 
> Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut nasional, kab/kota harus 
> mengacu provinsi, dst?
>  
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati.blogspot.com

Kirim email ke