Milisters ysh,
Kebalikan dari pola pikir GAM, RMS, Papua Merdeka dan bbrp gerakan separatisme 
lainnya yg terus berpikir kemasa lalu….….orientasi ke masa depan —dan bukan 
lepada masa lalu— justru menjadi ’common platform’ pada gerakan kaum muda 
1920an…..seperti ditunjukkan oleh kebangkitan organisasi yang lintas batas 
lokalitas, seperti Jong Java, Indonesia Muda, Jong Islamieten Bond, Jong 
Minahasa dan lain-lain……….
Satu cara pandang revolusioner tentang ’nation’ telah terjadi pada saat itu, 
ketika kaum muda 1920an tidak lagi melihat masa lalu…… mengesampingkan 
kenyataan bahwa sebetulnya kerajaan-kerajaan di nusantara pernah saling 
berperang dan menaklukan……. 
Dimasa lalu…perjuangan melawan sesuatu yang ’asing’ atau ’Barat’ yg dulu 
dilakukan para elite lokal, tidak pernah merujuk pada bayangan tentang 
’Indonesia’…... 
Misalnya, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro yang angkat senjata melawan 
Belanda, sebetulnya bukan didorong oleh kesadaran ’nasional’, tetapi suatu 
perang yang awal mulanya dipicu pergulatan kekuasaan di dalam kraton 
Yogyakarta……ttg ekonomi kaum aristokrat di Jawa yang tergerus oleh proyek 
’Jalan Raya Pos’ Belanda di bawah Gubernur Jenderal Daendels, yang membentang 
dari Jawa bagian barat sampai ke timur……. 
Tetapi  lebih seabad kemudian….kaum muda yg berkumpul pada Kongres Pemuda 1928, 
bergerak dengan kesadaran lebih maju dari Diponegoro…..membangun satu komitmen 
politik Indonesia modern…suatu benih konsep tentang apa yang disebut namanya 
sbg ’bangsa’……..
Itu sebabnya, pada awal kemerdekaan, obsesi terbesar Sukarno adalah apa yang 
disebutnya sebagai  ’nation character building’…….
Dalam pikiran Bung Karno, karakter politik nasionalisme Indonesia adalah anti 
imperialisme, anti kolonialisme, sekaligus pro-perdamaian. Sukarno menolak 
nasionalisme ”gontok-gontokkan”……... 
Tujuan nasionalisme ala Sukarno adalah membangkitkan rasa percaya diri sebagai 
bangsa besar (paling gak ya bgs bermartabatlah)…… yg sanggup menyelesaikan 
masalah sendiri, dan rela berkorban untuk kepentingan bersama…….semangat 
berkorban (will to sacrifice) adalah aspek penting dari nasionalisme…... 
Dalam konteks Indonesia, semangat berkorban ini sebetulnya sudah muncul dalam 
bentuk perlawanan daerah pada masa kolonial, tetapi belum mendapat apa yang 
disebut Anderson sebagai ‘horizontal comradeship’……...  
Dalam soal ini…….‘horizontal comradeship’ atas nama ‘Indonesia’ mengalami 
intensifikasi makna pada era 1945-1949, saat perang mempertahankan kemerdekaan 
telah memperluas dan memperkuat rasa kebersamaan……
Pada saat itulah, bagaimana laskar rakyat bersatu, melintas batas, seperti yang 
ditunjukkan oleh perlawanan ”10 November” di Surabaya, Krawang-Bekasi, atau 
Medan Area di Sumatera Timur…….. 
Bagaimana Daud Beureueh, tokoh revolusioner di Aceh, mengirimkan pasukan ke 
Medan Area, untuk mempertahankan ’proyek bersama’ dari ’nation’ yang muda itu 
yg bernama ‘Indonesia’, melawan agresi Belanda…….atau bgmn  para laskar rakyat 
di Jawa Barat dan Jawa tengah yang terlibat di pertempuran ’Krawang dan 
Bekasi’……..
Tentu saja  kita semua terhenyak ketika pada masa rezim orde baru justru 
kekuatan militer yang lahir dari revolusi kemerdekaan itu, seperti dicatat 
Anderson (maka ia nggak boleh ke Indonesia oleh suharto), malah mengalami 
distorsi fungsi yang sangat serius…….dimana tentara republik  tidak lagi 
berperang melawan kekuatan eksternal…… tetapi malah menindas rakyatnya 
sendiri….sesuatu  yg ironisnya tak lain diambil dari tradisi militer kolonial 
yg telah kenyang menjajah kita itu……...
Salam,
 
 


      

Kirim email ke