Rekan H. Ekadj ysh, Saya rasanya tak mampu menjawab pertanyaan anda ttg manusia-ruang-waktu-lingkungan itu…. sepertinya pertanyaan anda ini akan dpt lbh baik dijawab oleh rekan2 Djarot, Risfan, Abimanyu, Yando dan pasti oleh milisters lainnya……..
Namun saya pikir manusia pada ruang-waktu-lingkungan yg sama atau tidak sama bisa saja memiliki bbrp persamaannya namun juga perbedaannya….. Bbrp persamaan sekaligus perbedaan itu saya kira adalah bhw pada tiap2 masa misalnya… manusia selalu terbagi dalam golongan2…. yg sebagian besarnya sbg rahayat biasa… dan sedikit yg lainnya lagi menjadi golongan2 pemimpin……tak semua mau dan mampu menjadi pemimpin krn . itu memerlukan persyaratan2 yg tak setiap manusia mampu memenuhinya……menjadi rahayat biasa sering pula dianggap sebagai kenikmatan, krn tak memerlukan kerja keras ekstra dan tanggungjawab ekstra………. Pada setiap masa selalu ada yg namanya pemimpin yg kerjanya mengajarkan pola pikir ttg kemana suatu kaum hendaknya berjalan menuju…..baik menuju jalan yg benar maupun jalan yg salah…..lalu ada rakyat, massa atau pengikut yg nalurinya sering membawa mereka mengikuti apa yg diajarkan oleh pemimpinnya itu…ada pula yg tak menyetujui tindak dn pola pikir pemimpinnya bila kelewat tdk pas ….maka lalu kadang timbul perlawanan …maka kadang para pemimpin merasa perlu menggunakan kekuasaannya dan melakukan tindak represif utk menakut2i rakyatnya agar terpaksa patuh ….lalu pada setiap masa juga selalu ada pula kaum penjilat, kaum bermuka dua.. pengkhianat dsb…. Tak jarang suatu kaum pada suatu masa telah berjalan keliru ...justru krn dibawa sesat oleh pemimpinnya.. lalu kaum itu menjadi menurun harkat dan martabatnya ...lalu disitu Tuhan menurunkan 'pemimpin baru' bagi kaum tersebut utk membawanya kembali kejalan yg benar dan menjadi kaum yg bermartabat...... Apakah begitu?........ Salam, --- On Sun, 11/1/09, ffekadj <4ek...@......> wrote: From: ffekadj <4ek...@.......> Subject: [referensi] Re: (4) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai To: [email protected] Date: Sunday, November 1, 2009, 5:26 PM Pak Aby dan rekan2 ysh, ada satu pertanyaan mendasar tentang konsep manusia yang mohon mendapatkan pencerahan : apakah manusia itu sama sekurang-kurangnya pada hasrat walaupun ruang-waktu- lingkungan berbeda, ataukah manusia itu memang telah berbeda karena terbentuk oleh dimensi ruang-waktu- lingkungan ? Terima kasih sebelumnya. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote: > > Milisters ysh, > Kebalikan dari pola pikir GAM, RMS, Papua Merdeka dan bbrp gerakan separatisme lainnya yg terus berpikir kemasa lalu….….orientasi ke masa depan â€"dan bukan lepada masa laluâ€" justru menjadi ’common platform’ pada gerakan kaum muda 1920an…..seperti ditunjukkan oleh kebangkitan organisasi yang lintas batas lokalitas, seperti Jong Java, Indonesia Muda, Jong Islamieten Bond, Jong Minahasa dan lain-lain………. > Satu cara pandang revolusioner tentang ’nation’ telah terjadi pada saat itu, ketika kaum muda 1920an tidak lagi melihat masa lalu…… mengesampingkan kenyataan bahwa sebetulnya kerajaan-kerajaan di nusantara pernah saling berperang dan menaklukan……. > Dimasa lalu…perjuangan melawan sesuatu yang ’asing’ atau ’Barat’ yg dulu dilakukan para elite lokal, tidak pernah merujuk pada bayangan tentang ’Indonesia’…... > Misalnya, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro yang angkat senjata melawan Belanda, sebetulnya bukan didorong oleh kesadaran ’nasional’, tetapi suatu perang yang awal mulanya dipicu pergulatan kekuasaan di dalam kraton Yogyakarta……ttg ekonomi kaum aristokrat di Jawa yang tergerus oleh proyek ’Jalan Raya Pos’ Belanda di bawah Gubernur Jenderal Daendels, yang membentang dari Jawa bagian barat sampai ke timur……. > Tetapi  lebih seabad kemudian….kaum muda yg berkumpul pada Kongres Pemuda 1928, bergerak dengan kesadaran lebih maju dari Diponegoro…..membangun satu komitmen politik Indonesia modern…suatu benih konsep tentang apa yang disebut namanya sbg ’bangsa’…….. > Itu sebabnya, pada awal kemerdekaan, obsesi terbesar Sukarno adalah apa yang disebutnya sebagai  ’nation character building’……. > Dalam pikiran Bung Karno, karakter politik nasionalisme Indonesia adalah anti imperialisme, anti kolonialisme, sekaligus pro-perdamaian. Sukarno menolak nasionalisme â€�gontok-gontokkanâ€�……... > Tujuan nasionalisme ala Sukarno adalah membangkitkan rasa percaya diri sebagai bangsa besar (paling gak ya bgs bermartabatlah)…… yg sanggup menyelesaikan masalah sendiri, dan rela berkorban untuk kepentingan bersama…….semangat berkorban (will to sacrifice) adalah aspek penting dari nasionalisme…... > Dalam konteks Indonesia, semangat berkorban ini sebetulnya sudah muncul dalam bentuk perlawanan daerah pada masa kolonial, tetapi belum mendapat apa yang disebut Anderson sebagai ‘horizontal comradeship’……...  > Dalam soal ini…….‘horizontal comradeship’ atas nama ‘Indonesia’ mengalami intensifikasi makna pada era 1945-1949, saat perang mempertahankan kemerdekaan telah memperluas dan memperkuat rasa kebersamaan…… > Pada saat itulah, bagaimana laskar rakyat bersatu, melintas batas, seperti yang ditunjukkan oleh perlawanan â€�10 Novemberâ€� di Surabaya, Krawang-Bekasi, atau Medan Area di Sumatera Timur…….. > Bagaimana Daud Beureueh, tokoh revolusioner di Aceh, mengirimkan pasukan ke Medan Area, untuk mempertahankan ’proyek bersama’ dari ’nation’ yang muda itu yg bernama ‘Indonesia’, melawan agresi Belanda…….atau bgmn  para laskar rakyat di Jawa Barat dan Jawa tengah yang terlibat di pertempuran ’Krawang dan Bekasi’…….. > Tentu saja  kita semua terhenyak ketika pada masa rezim orde baru justru kekuatan militer yang lahir dari revolusi kemerdekaan itu, seperti dicatat Anderson (maka ia nggak boleh ke Indonesia oleh suharto), malah mengalami distorsi fungsi yang sangat serius…….dimana tentara republik tidak lagi berperang melawan kekuatan eksternal…… tetapi malah menindas rakyatnya sendiri….sesuatu  yg ironisnya tak lain diambil dari tradisi militer kolonial yg telah kenyang menjajah kita itu……... > Salam, >  >  >

