Pak Wawo ysh,
Wah, mudah-mudahan Bapak bisa hadir, karena 50th kalau gak ada Bapak akan
kurang seru.
Salam,
Risfan Munir
Hannie Waworoentoe wrote:
>
> Risfan , secara singkat ini perjalanan akhir saya dengan
> ibu Arini ke Guangzhouthat was South China boom, kalau remember Miss Saigon
> itu musical jatuhnya Saigon saya lihat di theatre Broadway New York, tapi
> kunjungannya sama rekan-rekan Mochtarram dan Nia Kurniasih ke Ho Chi Minh
> city wah kesannya sih banyak, tapi tetap dalam perspektip S.E.Asia. Ini cuma
> keterangan muka, cuma saya belum dapat memastikan datang ke Bandung nanti.
> Salam Pak Wawo From: Risfan M <risf...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou
> ps.com Sent: Sun, November 1, 2009 12:30:30 AM Subject: Re: [referensi] Re:
> fieldwork
>
> Pak Wawo dan rekans,
>
> Wah ini surprise yang harus dicari 2 minggu lagi di Bandung.
> Akan seru kalau muncul bareng dengan Samurai Sejati.....jadi berdebar ini
> Pak.
>
> Salam & CU in Bandung,
> Risfan Munir
> --- On Sat, 10/31/09, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com >
> wrote:
> From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> Subject: Re:
> [referensi] Re: fieldwork To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday,
> October 31, 2009, 10:47 PM
>
> Risfan, memang Ruth Benedict menulis tentang samurai Jepang, tapi
> barangkali catatan saya .... the late flowering lotus. ...kuncup lamban
> bunga bakung .....(remember miss saigon , Ho Chi Minh city and the
> subsequent South China boom in Guangzhou, some post asean notes from a
> seasian Bandung perspective ), memang belum dipublikasi tapi laporan bisa
> dibaca di planologi itb....ngiler engga
> From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent:
> Sat, October 31, 2009 8:16:52 PM Subject: RE: [referensi] Re: fieldwork
> Uda Ekadj, Pak Djarot dan temans ysh, Pak Djarot bicara tentang Jepang.
> Dalam rangka menulis tentang Samurai Sejati, saya baca bukunya Anthropolog
> Ruth Benedict, "The Crysanthemum and the Sword". Asyik membaca dan mengikuti
> cara pendekatannya. Salam, Risfan Munir www.samuraisejati. blogspot. com
> From: ffekadj <4ek...@gmail. com> Sent: Sunday, November 01, 2009 7:21 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: [referensi] Re: fieldwork
> Baik Pak Risfan, saya sedang mengira-ngira lokasi lapangannya.
> Dari kisah bapak dapat dilihat adalah penting untuk immersion, kalau tidak,
> kita akhirnya hanya mengandalkan pandangan etic saja. Saya punya pengalaman
> lain cukup lama berselang. Pernah saya dan seorang rekan diajak untuk
> mengobservasi kota Tolitoli. Dari Palu ke Tolitoli menghabiskan waktu satu
> malam perjalanan. Sesampai di Tolitoli saya sudah merasakan pandangan berbeda
> sejak masuk kamar hotel, selalu diperlakukan istimewa. Termasuk di tempat
> umum seperti restoran, semua mata memandang kepada kami. Rupanya sebelum kami
> datang, masyarakat sudah heboh karena ada berita pejabat-pejabat dari sebuah
> instansi di bilangan Menteng mau datang ke Tolitoli. Kalau sudah begini
> tentunya sulit mendapatkan the deep structure of emic, karena kami sudah
> dipandang sebagai elit.
> Ada saran dari Geertz, bahwa pandangan seorang informan "is not one native's
> view, but a delicate amalgamation that represents the whole culture in its
> full complexity". Karena "man is an animal suspended in webs of significance
> he himself has spun. I take culture to be those webs, and the analysis of it
> to be therefore not an experimental science in search of law but an
> interpretive one in search of meaning". (1973)
> Ada satu tulisan Geertz yang sangat terkenal di seluruh dunia menyangkut
> interpretasi lapangan ini, yaitu " Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight
> " Sangat sederhana namun sungguh mendalam Geertz menggambarkan kebudayaan
> Bali ini, yaitu cukup digambarkan melalui sabung ayam. Dari fieldwork, Geertz
> baru memperoleh immersion setelah ikutan kabur dikejar polisi. Dan setelah
> itu, dunia lapangan menjadi sangat berbeda.
> Demikian pak. Kita perlu juga mendengar pengalaman dan penafsiran lapangan
> dari rekan-rekan lain. Salam.
> -ekadj
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@...> wrote: > > Uda
> Ekadj dan rekans ysh, > > Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di
> lapangan, karena ada google earth. > > Tapi saya punya pengalaman lain, waktu
> studia urban planning, saat ngeplot peta sekaligus household interview secara
> random, di suatu kawasan di daerah itu. Pertama-tama agak alot mengetuk
> pintu, minta kesediaan diinterview, tapi makin jauh saya jalan kok makin
> ramah orang-orangnya, sampai di kampung tertentu malah diundang kami oleh 1-2
> gadis yang duduk depan pintu ....dan, ya ampun... kompleks itu. Ngacirlah
> kami. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > > -----Original Message----- >
> From: ffekadj 4ek...@... > Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM > To:
> refere...@yahoogrou ps.com > Subject: [referensi]
> fieldwork > > > Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja
> profesional merencana di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu
> merencanakan akan di lapangan selama 20 hari, namun majikan saya memberikan
> osa untuk 5 hari, realita pertama yang saya temui setelah lepas bangku
> sekolah. Kemudian memang datang ke lapangan dengan tangan kosong, sendirian
> pula. Dalam kesempitan waktu saya akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari
> kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. Sebelum dapat peta itu memang membuat
> sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga diliatin warga, karena kemana-mana
> menggenggam clipboard; jadi saya orang asing di tempat itu, tidak ada proses
> immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan lokasi kuburan, letak gardu
> dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan, dst. Pada beberapa titik
> saya masuk ke rumah warga, dan menaksir kedalaman muka air sumur, karena
> merasa mampu untuk membuat peta geohidrologi.
> Dari data monografi beberapa desa saya melihat ada beberapa data bolong,
> terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW untuk melengkapi. Sungguh waktu
> tidak cukup. > Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT
> sudah sedemikian rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork;
> perolehan data dan informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa
> dilakukan dalam waktu 2 jam. Teknologi mapping telah mereduksi banyak
> ketelitian. Dan yang terpenting: analisis kualitatif cenderung menjadi kajian
> normatif. > Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi
> akhir Saya mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin
> menyampaikan satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang
> bermimpi, maka itu memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang bermimpi,
> maka itu adalah awal dari kenyataan ..." Dalam sesi tanya-jawab, seorang
> anggota DPRD seakan menjawab seruan saya: "... ya bapak-ibu sekalian,
> hari ini kita sungguh mendapatkan mimpi-mimpi indah ..." > Hari itu saya
> mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama bermimpi. Dari perspektif
> rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari kenyataan? Salam. > -ekadj >
> catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll adalah
> terkategori kualitatif > catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif,
> data kuantitatif bersifat sekunder; demikian sebaliknya. > > --- In
> refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M risfano@ wrote: > > > > Rekans ysh, > >
> Â > > Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif
> murni, ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan peta
> kosong", bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh komunitas
> setempat Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut nasional,
> kab/kota harus mengacu provinsi, dst? > > Â >
> > Salam, > > Risfan Munir > > www.samuraisejati. blogspot. com >
>