Wah ternyata Pak Risfan sudah masuk ke 'social setting'. Pasti menarik, sebagai pendengar yang baik tentunya saya berharap menunggu ceritanya. Apakah seperti 'cockfighting', perumpamaan 'sakura dan pedang'? Whitehead menyarankan maxim "seek simplicity and distrust it" untuk ilmu alam, namun untuk ilmu sosial "seek complexity and order it".
Untuk Pak Djarot, saya ingin menambahkan penafsiran dalam 'cockfighting' sbb: 1 Geertz melakukan metode mikroskopis, dengan mempertajam fokus observasi pada suatu aktivitas masyarakat (sabung ayam) yang diinterpretasikan dapat mewakili kebudayaan Bali secara umum. 2 Geertz mendapatkan empati (immersion) setelah mendapatkan momen kebersamaan dalam suatu kejadian, sehingga mendapatkan kepercayaan untuk masuk dalam social setting; dan selanjutnya melakukan analytical induction. 3 Dalam analytical induction, Geertz menggambarkan setiap detail peristiwa termasuk circumstances yang mengitarinya. 4 Geertz mengkaji secara terpilah (fragmented) dari suatu peristiwa kebudayaan, dan menempatkannya secara teatrikal. 5 Geertz menggunakan interpretasi simbolik, dengan memilah-milah pemaknaan simbol yang terdapat dalam fragmen kebudayaan tersebut. 6 Geertz mencermati proses transformasi dan menemukan `the agent' yang mengemban misi perubahan. 7 Geertz mendalami aturan-aturan umum (the roles) yang menjiwai peristiwa kebudayaan, sebagai culture as socially learned information. 8 Geertz menentukan ruang lingkup (sub-)kebudayaan dan konstituennya: batasan ruang dan klasifikasi masyarakat. Namun satu kritik pada Geertz adalah penempatan simbol pada ayam (cock), dan bukan orang, yang mengakibatkan pada bagian ini dirasakan kurang relevan sebagai kajian etnografi. Untuk planografi, usai imersi adalah masuk ke dalam 'spatial setting', yang bisa saja bersamaan dengan 'social setting'. Saya coba bahas lagi sebentar. Salam. -ekadj --- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote: > > Uda Ekadj, Pak Djarot dan temans ysh, > > Pak Djarot bicara tentang Jepang. Dalam rangka menulis tentang Samurai Sejati, saya baca bukunya Anthropolog Ruth Benedict, "The Crysanthemum and the Sword". Asyik membaca dan mengikuti cara pendekatannya. > > Salam, > Risfan Munir > www.samuraisejati.blogspot.com > > > > > > > -----Original Message----- > From: ffekadj 4ek...@... > Sent: Sunday, November 01, 2009 7:21 AM > To: [email protected] > Subject: [referensi] Re: fieldwork > > > Baik Pak Risfan, saya sedang mengira-ngira lokasi lapangannya. > Dari kisah bapak dapat dilihat adalah penting untuk immersion, kalau tidak, kita akhirnya hanya mengandalkan pandangan etic saja. Saya punya pengalaman lain cukup lama berselang. Pernah saya dan seorang rekan diajak untuk mengobservasi kota Tolitoli. Dari Palu ke Tolitoli menghabiskan waktu satu malam perjalanan. Sesampai di Tolitoli saya sudah merasakan pandangan berbeda sejak masuk kamar hotel, selalu diperlakukan istimewa. Termasuk di tempat umum seperti restoran, semua mata memandang kepada kami. Rupanya sebelum kami datang, masyarakat sudah heboh karena ada berita pejabat-pejabat dari sebuah instansi di bilangan Menteng mau datang ke Tolitoli. Kalau sudah begini tentunya sulit mendapatkan the deep structure of emic, karena kami sudah dipandang sebagai elit. > Ada saran dari Geertz, bahwa pandangan seorang informan "is not one native's view, but a delicate amalgamation that represents the whole culture in its full complexity". Karena "man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun. I take culture to be those webs, and the analysis of it to be therefore not an experimental science in search of law but an interpretive one in search of meaning". (1973) > Ada satu tulisan Geertz yang sangat terkenal di seluruh dunia menyangkut interpretasi lapangan ini, yaitu "Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight" Sangat sederhana namun sungguh mendalam Geertz menggambarkan kebudayaan Bali ini, yaitu cukup digambarkan melalui sabung ayam. Dari fieldwork, Geertz baru memperoleh immersion setelah ikutan kabur dikejar polisi. Dan setelah itu, dunia lapangan menjadi sangat berbeda. > Demikian pak. Kita perlu juga mendengar pengalaman dan penafsiran lapangan dari rekan-rekan lain. Salam. > -ekadj > > --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote: > > > > Uda Ekadj dan rekans ysh, > > > > Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di lapangan, karena ada google earth. > > > > Tapi saya punya pengalaman lain, waktu studia urban planning, saat ngeplot peta sekaligus household interview secara random, di suatu kawasan di daerah itu. Pertama-tama agak alot mengetuk pintu, minta kesediaan diinterview, tapi makin jauh saya jalan kok makin ramah orang-orangnya, sampai di kampung tertentu malah diundang kami oleh 1-2 gadis yang duduk depan pintu ....dan, ya ampun... kompleks itu. Ngacirlah kami. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > -----Original Message----- > > From: ffekadj 4ekadj@ > > Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM > > To: [email protected] > > Subject: [referensi] fieldwork > > > > > > Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional merencana di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan akan di lapangan selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk 5 hari, realita pertama yang saya temui setelah lepas bangku sekolah. Kemudian memang datang ke lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula. Dalam kesempitan waktu saya akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. Sebelum dapat peta itu memang membuat sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga diliatin warga, karena kemana-mana menggenggam clipboard; jadi saya orang asing di tempat itu, tidak ada proses immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan lokasi kuburan, letak gardu dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan, dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah warga, dan menaksir kedalaman muka air sumur, karena merasa mampu untuk membuat peta geohidrologi. Dari data monografi beberapa desa saya melihat ada beberapa data bolong, terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW untuk melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup. > > Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT sudah sedemikian rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork; perolehan data dan informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa dilakukan dalam waktu 2 jam. Teknologi mapping telah mereduksi banyak ketelitian. Dan yang terpenting: analisis kualitatif cenderung menjadi kajian normatif. > > Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi akhir. Saya mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin menyampaikan satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang bermimpi, maka itu memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang bermimpi, maka itu adalah awal dari kenyataan ..." Dalam sesi tanya-jawab, seorang anggota DPRD seakan menjawab seruan saya: "... ya bapak-ibu sekalian, hari ini kita sungguh mendapatkan mimpi-mimpi indah ..." > > Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama bermimpi. Dari perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari kenyataan? Salam. > > -ekadj > > catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll adalah terkategori kualitatif > > catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif, data kuantitatif bersifat sekunder; demikian sebaliknya. > > > > --- In [email protected], Risfan M risfano@ wrote: > > > > > > Rekans ysh, > > > Â > > > Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif murni, ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan peta kosong", bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh komunitas setempat. Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut nasional, kab/kota harus mengacu provinsi, dst? > > > Â > > > Salam, > > > Risfan Munir > > > www.samuraisejati.blogspot.com > > >

