Milisters ysh, Berbeda dgn penjajah Jepang yg setelah kalah perang lalu angkat kaki secara total dari Indonesia….. penjajah Belanda justru bertindak sebaliknya…… mereka merasa giliran merekalah utk harus kembali menguasai negeri Indonesia yg telah diproklamasikan kemerdekaannya itu….. Tentu saja pemerintah RI yg baru seumur jagung dan dgn militer serta persenjataan seadanya (baca primitip) kini (utk pertama kalinya) pada 1946 harus berhadapan secara tak seimbang secara militer dgn tentara Belanda bahkan bersama sekutu yg demikian lengkap persenjataannya…… Dapat dikatakan sepanjang 1946-1949 negeri Indonesia yg masih amat lemah ini tak pernah terlepas dari konflik militer dgn Bld dimana kalau ditengahnya disela dgn perundingan2 namun bagi Belanda sebenarnya itu hanya sekedar merupakan taktik mengulur waktu dan memperbaiki posisi militernya saja ……sambil kita samasekali tak punya posisi tawar apapun yg kuat ……dan nyawa ribuan rakyat selalu menjadi taruhannya utk setiap kemarahan Bld …….ibarat Palestina kini didepan Israel….. Kalau saat ini wilayah negeri kita RI secara geografis adalah dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Rote….. tetapi saat diproklamasikan pada 17-8-1945 dan dalam perjalanan waktu sampai 17-8-1950 bahkan sampai sebelum Irian Barat ditinggalkan oleh Bld keadaannya tidaklah semulus begitu……. Ketika baru diproklamasikan pada 17-8-1945…. Entahlah bahkan siapa nama gubernur Jawa atau Jabar, Jateng Jatim…. Karena namanya persiapannya juga belum matang benar dan situasinya terusmenerus dirundung peperangan…… namun bbrp orang utusan daerah dari PPKI yg hadir di Jkt lalu diangkat menjadi gubernur spt Teuku Muhammad Hassan (menjadi Gubernur Sumatera), Sam Ratulangi (menjadi Gubernur Sulawesi), Ketut Pujo (menjadi Gubernur Nusa Tenggara), P. Mohammad Noor (diangkat menjadi Gubernur Kalimantan)…… Baru bbrp bulan kemerdekaan diproklamasikan….pada Nopember 1945 Bld bersama Sekutu jg sdh kembali dtg ke Indonesia (Surabaya)….dan terjadi konflik bersenjata…… Apa yg terasa sgt pahit bagi Indonesia selama periode 1945-1949 adlh bhw selagi kita baru saja memproklamasikan diri sbg negara merdeka dan masih sgt lemahsekali ….namun kita selama itu terus menerus diagresi oleh penjajah Belanda dengan militernya yg kuat yg tak rela kehilangan negeri jajahannya yg demikian luas dan kaya ini …… Kondisi kekuatan kita hanyalah bak buah cherry yg matang yg sekali pencet oleh jempol tangan Bldpun akan lumatlah kita…… Sungguh ironis bila sementara generasi muda kita justru asal bersikap sinis saja pada kelemahan2 posisi kita kala itu ……lalu bak penonton bola dipinggir lapangan asal main membodoh2kan saja para pemimpin kita kala itu (dikira seolah semuanya hanyalah mrpkn keputusan tunggal oleh Sukarno sendiri saja, sambil tak dibayangkan bgmn dgn tak memiliki kekuatan militer yg seimbang kita akan melawan Bld secara frontal ) ….tak terbayangkan jg oleh smntr generasi muda kita yg sinis ……bgmn misalnya ketika sekedar mencari ‘seorang terorist’ saja ….Bld dgn ringan dn mudahnya dapat membabat habis seluruh nyawa penduduk desa termasuk wanita dan anak2 yang ratusan jumlahnya …..yg kelak setelah kemerdekaan Bld mengulang menunjukkan bgmn cara menjawab sikap militan penduduk pulau Sulawesi dgn cara yg lbh spektakular misalnya dgn mengirim Westerling… yg dari desa kedesa sejak dari SulSel sampai Sulut dgn berdarah dingin sambil tertawa2 Westerling mendemonstrasikan bgmn cara menebar ‘kontra teror’ dgn membabat ribuan nyawa penduduk dari desa kedesa kita (diklaim sebanyak 40.000 nyawa melayang)……… Mereka yg bersikap sinis lupa mengingat bgmn terjepitnya posisi RI kala itu …..memandang sinis Sukarno seolah ia haus kekuasaan dan menjadi kaya raya ...tak memandang sebelah matapun bgmn Sukarno Hatta dkk. kenyang keluar masuk bui dan pembuangan spt Sukamiskin, Bengkulu, Ende, BovenDigul, Bandaneira dsb..... sementara itu Suharto muda malah blm sekalipun merasakan pengalaman2 spt itu..... Generasi muda Indonesia yg sinis (justru krn akibat bentukan budaya orde baru 30 tahun) ....lupa bgmn ketika pd gilirannya pada 17-8-1950 Sukarno (bukan sendirian, namun secara demokratis dgn persetujuan mayoritas pemimpin) akhirnya dpt memproklamasikan sekali lagi RI dari yg semula dipersempit Bld dgn dikepung oleh demikian banyak negara boneka …..menjadi NKRI dgn wilayah dari Sabang sampai Maluku (yg artinya para pemimpin2 negara2 boneka itu sendiri sadar bhw mereka ingin menyatu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia ……dan bbrp tahun kemudian NKRI dpt membebaskan Irian Barat baik dgn cara diplomasi maupun dgn cara militer terhormat…… dgn infiltrasi pasukan terjun payung… kapal selam... boikot perusahaan2 Bld di Indonesia…dsb… sesuatu kekuatan militer dan variasi baru perlawanan yg tak dipunyai oleh RI/ NKRI pada 1945-1950 dan masa sebelum2nya…..…… Salam,

