Cak Andri, ternyata si Boeng itu anak Medan, pernah nguli-ah juga di Bandung ... "... RUMAH panggung dengan halaman luas itu telah raib. Kompleks asri dengan pohon-pohon menjulang yang dulu menjadi ciri permukiman di Jalan Mantri, Kelurahan Aur, Medan Maimun, Kota Medan itu tak lagi ada. Yang tinggal hanya barisan rumah padat yang tak menyisakan halaman. ..." source: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/ <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/> Peran Besar Bung Kecil <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129710.id.html> Sutan Sjahrir adalah satu dari tujuh "Bapak Revolusi Indonesia". Dia mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah. Yakni melalui diplomasi: cara yang ditentang "Bapak Revolusi" lain. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Maka dia dituduh elitis. Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecilbegitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian. Anak Minang Jago Menyerang <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129711.id.html> Sjahrir pandai bergaul, termasuk dengan pemuda dan noni Belanda. Pidato Dr Cipto Mangunkusumo di alun-alun menyulut nasionalisme Sjahrir muda. Rumah di Kaki Singgalang <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129712.id.html> Antara Tuschinski dan Stadsschouwburg <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129713.id.html> Saat tinggal di Belanda, Sjahrir memilih berdiskusi dan menonton acara budaya ketimbang kuliah secara teratur. Tempo menelusuri tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Berkembang di Iklim Barat <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129714.id.html> Dari Belanda ke Banda <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129715.id.html> Misi Rahasia dari De Socialist <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129716.id.html> Sjahrir dan Hatta mendirikan Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Lebih radikal dari Soekarno. Berbagi Peran dari Bawah Tanah <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129717.id.html> Sjahrir membangun jaringan anti-Jepang. Soekarno-Hatta bekrja sama. Kader Hingga Ujung Usia <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129718.id.html> Semangat pergerakan tetap dipegang kader Sjahrir yang tersisa. Disiapkan buat klandestin. Proklamasi tanpa Bung Kecil <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129720.id.html> Sjahrir tak hadir saat Soekarno-Hatta membaca teks proklamasi. Jepang terlalu banyak campur tangan. Cirebon Merdeka Lebih Dulu <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129721.id.html> Begitu Jepang kalah perang, Sjahrir ingin kemerdekaan Indonesia dikumandangkan secepatnya. Proklamasi Cirebon dibacakan lebih cepat. Kudeta Sunyi Triumvirat <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129722.id.html> Pemerintah menerbitkan Maklumat Nomor X pada 16 Oktober 1945. Sjahrir mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno. Jalan Terjal Perdana Menteri <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129723.id.html> Duduk sebagai perdana menteri, Sjahrir segera mengambil jalan diplomasi. Dituduh menjual negara. Diplomasi-diplomasi Kancil <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129724.id.html> Berkawan Lewat Diplomasi Beras <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129726.id.html> Beras Jawa ditukar tekstil India. Serdadu Jepang dan tawanan perang Sekutu lempang pulang. Sjahrir memberi fondasi politik luar negeri bebas aktif. Linggarjati, Sebuah Jalan <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129727.id.html> Perjanjian Linggarjati sering dianggap merugikan Indonesia. Meneguhkan eksistensi di kancah internasional. Paspor Pertama Indonesia <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129728.id.html> Kemenangan di Lake Success <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129729.id.html> Surat kabar New York Herald Tribune menabalkan pidato Bung Kecil sebagai "salah satu yang paling menggetarkan di Dewan Keamanan". Kolaborasi Dua Pejuang Sayap Kiri <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129731.id.html> Hubungan Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin sangat unik. Sama-sama sosialis, tapi beda pandangan tentang komunisme. Sang Atom dan Dua Ideologi <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129732.id.html> Ada banyak tafsir dan sebutan atas ideologi Sjahrir. Dari republiken, sosialis kanan, demokrat, sampai liberal. Akhir Sang Meteor <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129733.id.html> Gamang dalam politik massa, Partai Sosialis Indonesia gagal dalam pemilihan umum. Sjahrir pun terpinggirkan. Patah Arang Kawan Seiring <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129734.id.html> Gara-gara pemberontakan PRRI/Permesta, lingkaran inti Partai Sosialis Indonesia pecah. Kerikil Para Revolusioner <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129736.id.html> Tiga Serangkai Ahli Waris Revolusi <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129737.id.html> Hubungan Sjahrir-Hatta awet hingga akhir. Retak dengan Soekarno sejak ditahan di Prapat. Sosok Penyendiri dalam Tahanan <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129738.id.html> Perseteruan Para Kolaborator <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129739.id.html> Sutan Sjahrir dan Jenderal Sudirman berselisih paham meraih dan mempertahankan kedaulatan. Pernah saling tangkap, walau akhirnya saling mengagumi. Jalan Bersimpang Setelah Proklamasi <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129740.id.html> Pengaruh Sjahrir dan Tan Malaka sangat kuat pada awal proklamasi. Keduanya cepat tergusur. Tak Ada Patung Bung Kecil <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129741.id.html> Manifesto Seorang Antifasis <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129743.id.html> Pamflet Perdjoeangan Kita mengurai taktik membangun Indonesia pascakemerdekaan. Ditentang para pejuang. Surat Pengagum Faust <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129744.id.html> Surat-surat Sjahrir yang ditulis dari pembuangannya adalah karya tulis Sjahrir yang menyentuh. Di situ kita bisa melihat gagasan-gagasan dasar pemikirannya. Asmara Sang Flamboyan <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129745.id.html> Kasih yang Tak Sampai <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129746.id.html> Cinta Sjahrir dan Maria dinyalakan api idealisme pergerakan. Meredup oleh jarak. Kees Snoek: Maria Ingin Membakar Surat-surat itu <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129747.id.html> Sang Pemuja dan Tuan Perdana Menteri <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129748.id.html> Poppy adalah istri dan pengagum terbesar Sjahrir. Ia tersenyum, dalam suka dan derita. Sekilas Cinta di Lereng Ceremai <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129749.id.html> Sjahrir mendekati putri Keraton Mangkunegaran. Membantah sempat bertunangan. Zurich, Detik-detik Terakhir <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129750.id.html> Sutan Sjahrir meninggal di Zurich. Inilah kenangan Buyung dan Upik, anak-anak Sjahrir, tentang hari-hari terakhir kehidupan ayahnya. Wajah Sjahrir dalam Kotak <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129751.id.html> Setelah Sibi Tiada <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129752.id.html> Poppy Sjahrir membesarkan dua anaknya dalam kesederhanaan. Sempat larut dalam kesedihan. Pintu Tertutup untuk PSI <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129753.id.html> Ketika Soeharto berkuasa, tumbuh harapan kaum pluralis modern untuk membangkitkan PSI. Peristiwa Malari membuyarkan impian itu. Foto Tua di Garasi Mursia <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129754.id.html> Sempat tinggal di rumahnya, Mursia bertekad meneruskan semangat Sjahrir: membangun koperasi. Sjahrir Adalah ... <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.\ LU129756.id.html> POKOK & TOKOH KOLOM Sutan Sjahrir: Sebuah Kekecualian Zaman <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/KL/> CATATAN PINGGIR Sjahrir di Pantai <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/CTP/> TempoInteraktif Bisnis Menteri Hatta Jadi Komandan Timnas Selat Sunda <http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/11/17/brk,20091117-208910\ ,id.html> ----------------- Hukum Gus Sholah: Akan Lucu Jika Yudhoyono Abaikan Rekomendasi Tim Delapan <http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/11/17/brk,20091117-208909,\ id.html> -----------------
--- In [email protected], Harya Setyaka <harya.sety...@...> wrote: > > Ini adalah periode yg penting untuk diteliti secara mendalam.. > > Jepang pun sebenarnya juga mensponsori negara boneka.. > > Sukarno mungkin sangat non-kooperatif terhadap Belanda, apalagi setelah > gagal masuk Volksraad.. > (sangat mirip dengan perilaku kader-2 cap Banteng.. yg bikin partai baru > berlogo Banteng ketika gagal masuk Senayan..). > Namun 180 derajat berbeda dengan Jepang.. Bahkan sampai diberi penghargaan > oleh Kaisar Jepang. > > Beda dengan Sjahrir dan Hatta, yg cukup cerdas untuk bisa membedakan baik > buruknya Colonial Demokrasi dengan Fasisme, bagi Sukarno yg penting siapa yg > kuasa, dia yg berkata 'benar'. > Hatta sangat peduli dengan adanya suatu demokrasi sebagai sistem kontrol.. > Sukarno terlalu malas, atau bahkan terlalu haus kuasa mungkin, sehingga > mengangkat nantinya diri sebagai presiden seumur hidup, menjadi > penguasa/pemimpin mutlak.. mirip seperti musuh-2 Sekutu yang mengangkat diri > sebagai pemimpin mutlak.. > > Hatta lebih pantas mendapat tempat dalam konteks pembangunan nasionalisme, > bukan Soekarno. > Setelah cerai dengan Hatta, jargon nasionalisme dijadikan 'alat pemutlakan > kekuasan' bagi Soekarno.. yg berbeda pendapat dicap anti, dan malah dibuang > ke luar negeri, tidak peduli bahwa dulunya teman seperjuangan.. contoh: > Sjahrir.. > > > Hari hari setelah Nazi kalah di Eropa sangat berpengaruh.. Jenderal-2 Jepang > tahu bagaimana nasih 'penjahat perang' yg diadili oleh musuh.. > Meskipun jenderal-2 Nazi sudah menyerah, tetap saja dihukum mati.. > Apa Jenderal-2 Jepang sudah siap? > > Bagaimana nasib para patron Sukarno setelah 17 Agustus 1945? > Apa yg menjadi materi diskusi Sukarno-Hatta-Radjiman dengan Terauchi di Da > Lat - Saigon? > Mengapa sangking penting nya harus 'terbang' kesana?? (beluma ada AirAsia > lho..) > Mengapa Sukarno dianggap sangat berharga oleh Maeda, sehingga rela kompromi > dengan kelompok pemuda yg menculik Soekarno untuk 'akan pura-pura tidak > tahu' mengenai rencana proklamasi 17 Agustus 45 (Ricklefs, 2008). > Oh ya, Sjahrir yang mendukung aksi pemuda 'menculik' Sukarno utk > memproklamasikan kemerdekaan, malah akhirnya dibuang oleh Sukarno dan > meninggal di pengasingan. > Sukarno pun sampai harus pakai diculik segala untuk mau memproklamasikan > kemerdekaan pada tgl 17 Agustus.. Mengapa Sukarno ingin menunda? Apa rencana > besar dan deal-deal politik dia dengan para jenderal Jepang yg tidak > diketahui orang lain? > > Bagaimana pula nasib jenderal-2 Asia Tenggara seperti Terauchi, Maeda, > Yamashita setelah itu? > Bagaimana larinya duit yg mereka rampas dari pengusaha-2 yg mereka bantai? > > > Ktia selalu berbangga diri dengan the so-called; semangat Bambu Runcing.. > padahal, baris-berbaris dengan bambu runcing adalah warisan pendidikan > militer Jepang.. > apa pernah dengar pahlawan pra-Jepang melawan Belanda degnan bambu runcing? > ber-semangat bambu-runcing artinya mengakui kita memang nurut dengan Jepang > untuk ikut dalam kampanye Jepang memenangi Perang Dunia II melawan Sekutu.. > > > Militer Indonesia memang dulu lemah, apalagi dari segi logistik > persenjataan.. > karena impor senjata terbatas.. dan yg dipakai adalah sisa-sisa dari > Jepang.. > Militer Indonesia tidak pernah berhasil mengusir penjajah.. > Belanda diusir oleh Jepang di bumi Indonesia.. Jepang mundur sendiri setelah > kalah PD II. > > Yg pernah dimenangkan oleh militer Indonesia adalah skirmish-.. > atau beberapa kontak senjata secara singkat dan temporer saja.. > tahun 1949 ketika ada transfer kekuasaan; Belanda bukan kalah di medan > perang, tapi kalah di medan politik domestik.. Tekanan besar dari dalam > negeri Belanda sendiri untuk menghentikan perang, karena secara demokratis > para wakil rakyat Belanda menganggap lebih baik uang digunakan untuk > membangun kembali (rekonstruksi) akibat dibom-bardir Nazi, daripada untuk > membiayai operasi militer.. > Apalagi ketika bisa 'membuku-kan pengeluaran militer sebagai utang dari > negara yg mau merdeka' , maka lebih ekonomis bagi kepentingan rakyat banyak > Belanda.. > > Di meja runding, juru runding Belanda membawa amanah demokrasi kepentingan > rakyat banyak Belanda.. dari pihak Indonesia, bekas piaraan Jepang yg > fasis.. legitimasi mereka belum pernah teruji secara demokratis. > Maka, ketika diminta bayar, mereka bilang OK saja.. tokh yg bayar generasi > muda y.a.d.. > pikir mereka: tinggal dikasih doktrin melalui pelajaran sejarah saja., dan > mereka akan 'bekerja keras mengisi pembangunan' supaya dapat membayar utang > tersebut dibawah kepemimpinan mutlak.. > > Selain itu, sebelum Jepang (dan akhirnya Sukarno), pemerintahan kolonial > Belanda sudah terdesentralisasi sejak 1900an. Penduduk lokal lebih > terepresentasi dalam pembuatan keputusan.. > memang penduduk lokal nya multi-etnis, terutama di kota-2 pelabuhan.. > > Memang ada problem mendasar; yaitu orang-2 pribumi dianggap sebagai subjek > feodal bangsawan-bangsawannya.. Hukum yg berlaku bagi mereka pun berbeda.. > Sebelum 1945, sudah ada demokrasi, namun feodalisme (terutama Jawa) > menghalangi demokrasi bagi masyarakat Jawa. Tidak jauh beda dari motif nafsu > berkuasa mutlak atas subjek-2 feodal. > Apakah hukum adat cukup adil bagi rakyat jelata? apalagi ketika bersengketa > dengan bangsawan? > > Tidak heran, pada masa itu; yg bisa teremansipasi adalah ketika seseorang > pribumi menikah dengan orang Eropa, karena setelah itu dia akan masuk dalam > sistem hukum Belanda yang modern dan tidak feodal..(if any, modernisme > adalah proyek yg belum selesai.. - Habermas..) > Dia bisa lepas dari kerangkeng feodalisme dengan menikah dengan > non-pribumi.. > > Jadi karena bangsawan pribumi ingin berkuasa mutlak secara feodalistis; > rakyat jelata Indonesia tidak bisa dimerdekakan oleh Demokrasi.. > Kelompok-2 Sosialis dan Komunis sebenarnya ingin mendorong kemerdekaan > secara demokratis tsb ... sayang gagal.. > Pendudukan Jepang mendisfungsi demokrasi tsb. > > Dan, setelah "merdeka", pemerintahan malah terpusat.. desentralisasi mundur > seribu langkah .. > pembangunan tersentralisasi.. Ini yg menyebabkan ketidak-puasan .. karena > pada masa Belanda, sudah terdesentralisasi, bedanya adalah penduduk pribumi > masih terkerangkeng feodalisme.. > Setelah 1945, feodalisme muncul dalam kedok baru.. dan bagi non-Jawa, yg > tidak terlalu banyak menikmati Politik Etis, tentu enggan kalau "penjajah" > hanya berubah warna kulit.. > > Oleh Suharto, koneksi Jawa-Islam-Militer sangat kental dalam kekuasaan dan > pengambilan keputusan.. > > Jangan berpikiran sempit dalam menilai generasi muda sebagai sinis. > Mereka memang sempat ikut doktrinasi berkedok pendidikan PSPB.. dan mereka > pun hanya mempelajari nya untuk lulus ujian terstandardisasi (standardized > test).. > Banyak hal yg tidak dibahas dalam kurikulum PSPB.. atau malah sengaja > di-elakkan. > sekarang generasi muda yg kritis dan memang peduli ..sudah siap untuk > mendobrak doktrinasi usang.. yg digunakan sebagai alat legitimasi > kekuasaan.. > > Sebenarnya lebih mudah bagi generasi muda untuk sekedar jadi 'orang berduit' > , fokus pada akumulasi daya beli supaya bisa ikut menikmati sistem > kapitalisme.. > mengikuti teladan pemimpin generasi sebelumnya.. dan meng-iya-kan saja > naskah-2 indoktrinasi bekedok ilmu sejarah terstandardisasi.. > untungnya, tidak semua memilih untuk mengambil jalan yg mudah.. > > > Salam, > -K-

