Milisters ysh, Isu skenario balkanisasi Indonesia oleh AS memang menarik utk didiskusikan …namun ada baiknya sblmnya kita kembali lg dulu kepahit-getirnya cerita liku2 masa2 awal kemerdekaan kita ….kisah lama yg generasi sekarang hanya membacanya sajapun mungkin malas ….sesuatu yg seharusnya tak boleh terjadi ……krn kemerdekaan dan nikmat yg dirasakan kini tak terlepas dari rintisan dan perngorbanan para kaum kita terdahulu……. Pemerintah suharto selama lbh 30 tahun selalu lebih sibuk mengedepankan film tahunan G30S, mengalihkan pusat perhatian kita pd 'bahaya PKI dan komunisme' utk kita melupakan menanyakan legitimasi supersemar dan kepresidenan suharto serta menonjolkan peran suharto dlm 6 jam di Yogya dan (utk melegitimasi kekuasaannya dan membangun kultus ramboisme) ….tak berpikir ttg bgmn menguri-uri kisah para pejuang kemerdekaan secara keseluruhan ….agar itu dpt membangkitkan dan memelihara semangat nasionalisme bangsa dan generasi muda (lalu kita sekarang membayarnya dgn mahal)…... Perlu diingat2 bhw masa2 awal kemerdekaan kita itu sumgguh susah dan pilu ….terlebih bagi yg mengalaminya sendiri dan menjadi korban…… Itulah yg terjadi selama 1945-1949…… dimana setelah peristiwa 10 Nopember 1945 kita silih berganti antara berperang dan berunding dgn Belanda..…. belum lagi disela pula disitu dgn pemberontakan PKI pd 1948….. dan stlh 1950pun terjadi pula pemberontakan disana-sini……. Silih berganti selama 1945-49 itu adalah antara peperangan dan tak kurang dari 4 perundingan….. perundingan Linggarjati (1946) lalu Agresi Militer Bld I (1947)… lalu kembali perundingan Renville (1947).. lalu Agresi MIliter Bld II (1948)….lalu perundingan Roem–Royen (1949)… lalu Konperensi Meja Bundar (1949) di Den Haag….lalu barulah pada 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada RI…… tetapi itupun dlm keadaan negeri Indonesia ini telah terpecah2 terdiri dari demikian banyak ‘negara2’ boneka bentukan Bld……dan RI hanyalah sebagian wilayah kecil saja daripadanya (disinilah GAM /bukan Daud Beureuh/ beralasan, juga RMS)….. Setiap kali dilakukan perundingan…..wilayah (NK)RI kita bukannya semakin luas tetapi malah semakin sempit saja…. Bld dgn licik dan kotornya terus saja memecah2 negeri ini dan membuat banyak sekali negara2 boneka shg didlm NKRI yg skrng ini pernah terdpt amat banyak sekali ‘negara2’ seperti Republik Indonesia, Republik Indonesia Serikat (yg terdiri atas Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan)….lalu disamping itu, masih juga terdpt negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam federasi, yaitu: Negara Jawa Tengah, Negara Kalimantan Barat, Negara Dayak Besar, Negara Banjar, Negara Kalimantan Tenggara, Negara Kalimantan Timur (ini msh belum trmsk wilayah Kesultanan Pasir), Negara Bangka, Negara Belitung dan Negara Riau……….. Setelah penyerahan kedaulatan oleh Bld pd 27 Desember 1949 dan demikian banyak “negara2” boneka itu lebih suka bergabung menjadi satu (dlm Kabinet RIS hanya dua orang yang mendukung sistem federal di Indonesia….yaitu Sultan Hamid II dan Anak Agung Gede Agung….sisanya spt Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Arnold Manuhutu, dan lain-lain lbh mendukung sistem NKRI)…..dgn demikian, maka keinginan utk membubarkan RIS dan membentuk NKRI semakin kuat …..maka kembali kpd semangat Soempah Pemoeda 1928….pada perayaan 17 Agustus 1950 diumumkanlah pembubaran semua negara2 boneka bentukan Bld itu…dan seluruh wilayah dinyatakan sbg bukan RI tapi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)….. lalu pd tahun itu juga Indonesia masuk mjd anggota PBB yg ke-60……. Sebagian terbesar rakyat Indonesia percaya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia Serikat ini merupakan kelanjutan dari cita2 Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan tgl 17 Agustus 1945……. Salam,

