Pak Iman dan rekans ysh,

Seperti seloroh pak Wawo kemarin, adalah "kecelakaan" kita belajar yang 
comprehensive dan dituntut banyak ini.

Tapi dengan diskusi dengan beberapa senior, tentunya ini bukan "gado-gado". 
Mungkin lebih mirip Pizza, mesti ada core nya yang jelas dan kuat, yang 
bervariasi adalah toppingnya (ada untuk meet-lover, super-supreme, marinata, 
etc he he he). Itu kan ilmunya. Para alumninya tentu bermain di scope 
masing-masing toh. Yang di DJPR lebih fokus ke spatial, yang di PNPM lebih 
fokus ke community-based, yang di Bappenas lebih ke model RPJP, RPJM, dengan 
berbagai variasi tentunya. 

Soal pendidikannya kan para akademisi yang tahu proporsi dan cara 
mengajarkannya, S1, S2, S3. 

Kalau mengikuti seminar internasional, masalahnya adalah perubahan konteks PWK 
atau kota/daerah sendiri yang begitu besar. Secara nasional ada desentralisasi 
dan demokratisasi, yang menuntut cara-cara dan pemahaman yang berbeda. Secara 
internasional ada perubahan iklim, pemanasan global, perubahan tata ekonomi dan 
keuangan. Yang seluruhnya membuat kota/daerah menjadi sulit diramal pakai cara 
kuantitatif saja. Perilaku pimpinan daerah, masyarakat, juga membuat pendekatan 
"teknokratis" semata hanya membuat dokumen ditumpuk saja.

Betul pak Iman, yang kompleks kan konteks. Tapi respons tindakan dan cara 
mendalami ilmunya ya mesti simple. Ada pembagian bidang dan waktu. Mungkin 
begitu interpretasi saya. Sekedar upaya untuk memahami apa saja yang disajikan 
2 hari kemarin.

Salam,
Risfan Munir







-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent: Sunday, November 15, 2009 8:11 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Ole-ole Bandung

 
Pak Risfan dan para sohib lainnya,
Mungkin saya ketinggalan berpikir dgn teman2 yg lain tapi kadang-kadang heran 
apakah seorang planner dituntut seberat itu. Seorang Arsitek dalam 
mengaktualisasikan keinginannya dan tentunya setelah bicara stakeholdernya, dia 
tuangkan ideanya dlm gambar perencanaan, rencana kerja dan rencana pembangunan, 
kemudian delivery ideanya ke kontraktor dan supervisinya. Sederhana!!!
Planner juga adalah arsitek pembangunan pada skala yg luas (bagian dr kota, 
kota, kabupaten, propinsi, kawasan), yg sekarang dituntut sbg development 
planner!. Nah tentunya krn scopenya lebih luas, dimensinya jangka panjang, 
seorang planner dituntut punya kelebihan dan kemampuan ut mengkonsolidasikan 
informasi, mengakomodasi berbagaikan kepentingan, mencari treshold antar 
kepentingan, mengkomunikasikan hsl konsolidasi pikiran, mendelivery kpd pelaku 
pembangunan hingga idea2nya tertanam pd pelaku pembangunan, mendevelop sistem 
monitoring dsb.
Sungguh komplek dan berat nian!!! Lantas apa yg diajarkan??? Apakah cukup 
sekolah dijurusan Planologi kendati S2 bahkan S3pun?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From:  Risfan Munir <[email protected]>
Date: Sun, 15 Nov 2009 06:12:38 +0700
To: <[email protected]>
Subject: [referensi] Ole-ole Bandung

  
Rekans ysh,

Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin. Terutama dari 
seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan semuanya hanya 
yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja.

Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi" cukup terjawab, 
yaitu:
1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi Prof Tommy 
Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya, bahwa PWK 
pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah salah satu 
manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan dan aspek lainnya.
2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" - Dr. Dewi Savitri 
dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang diajarkan di PWK-ITB saat 
ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif, dimana kualitatif terkait 
dengan skala dan jenis rencana atau persoalan yang mau ditangani.

Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan "communication 
tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam era demokratisasi saat ini 
diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi konflik, memahami persepsi dst dalam 
proses merencana ataupun melaksanakan dan mengendalikannya.

Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge Management PWK" 
yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu contoh upaya 
knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah sukses jadi satu 
kesimpulan atau agenda perhatian kedepan.

Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati.blogspot.com


Kirim email ke