Pak Aby, Koko dan rekans ysh,

Itulah Pak, kita tidak bisa memaksakan opini. Walau menurut kita itu fakta, itu 
harus dicek kalau ternyata ada pendapat lain.

Nasionalisme pun punya sisi romantisme "ruang dan waktu" (istilah pak ATA). 
Romantisme versi generasi Pak Aby, bisa dilihat sangat beda oleh generasinya 
Koko.

Kebetulan menjelang 65 saya sudah mulai sekolah, yang saya ingat generasi kakak 
saya waktu itu kerjanya tiap saat "Latihan baris, apel, dengar pidato.... 
Baris, apel, dengar pidato.... Baris, apel, dengar pidato." Sayapun walau baru 
sekolah kena juga sesekali diarak ke lapangan. Saya pernah pingsan karena 
kepanasan saat apel untuk mendengar tokoh2 man-in-black (berkacamata hitam) 
pidato. 

Suatu saat kami diarak, berbaris di pinggir jalan. Yang ditunggu ternyata 
rombongan tentara, dan tokohnya adalah "seorang tentara berbaju loreng kecil2 
(pakai kacamata kehijauan), tersenyum melambaikan tangan ke kami dari jip yang 
dibuka jendelanya." Eng ing eeng ... ini romantisme yang lain lagi. Setelah itu 
seingat saya jarang baris-berbaris, apalagi apel di alun-alun atau stadion.

Mungkin pekerjaan orang seperti Prof Asvi Warman atau Prof Anhar Gonggong yang 
secara ilmiah melakukan kajian sejarah.

Salam,
RM




-----Original Message-----
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Sent: Thursday, November 19, 2009 7:20 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku

 
Pak Risfan ysh,
Bawa ke isyu poligami?....Kalau saya sih nggak lah ya…… entahlah kalau oleh 
penulis lainnya..  tapi siapa tahu lho ada gunanya juga utk nambah wawasan bagi 
masy. planners khususnya bagi yg sdh pada mapan …. Dan bukankah  ckp menarik 
utk para beliau…. spt kata anda dan Natsir …ada celah permission utk ‘kondisi 
tertentu’ serta asalkan bisa adil…… 
Kalau ttg isyu ‘hidup sederhana’ …..saya kira itu tetap amat sgt relevan 
dikaitkan dgn nasionalisme/ rasa cinta bangsa dan negara  dan utk ‘morality in  
planning’ supaya tdk condong ke hedonism dan profesionalism yg keliru….. jg utk 
mengingatkan kembali para kawula muda dan imut ….khususnya yg msh ngeres 
berpikir curiga ttg kemewahan hidup yg dikira dikejar oleh para pemimpin utama 
perjuangan kemerdekaan kita kala itu…… 
Kalau yg berkait konteks  Referensi … emang sih… saya jg masih blm selesai dgn 
lanjutan diskusi dgn bos saya yg di Paris… 
salam, aby

--- On Wed, 11/18/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 18, 2009, 2:40 PM

  
Pak Aby, Koko dan rekans ysh,

Apakah diskusi ini akhirnya dibawa ke isyu "hidup sederhana" juga "poligami"?
Saya jadi ingat cerita guru saya jaman dulu, yang mengisahkan adanya debat 
antara seorang Pemimpin vs Natsir. Yang mana sang Pemimpin bersikeras "anti 
poligami" sementara Natsir sebagai ulama menyampaikan pandangan normatif 
agamanya bahwa poligami dalam "kondisi tertentu" boleh, dengan berbagai syarat 
terutama "adil". 
Kenyataan sejarah mencatat Natsir selalu hidup sederhana dan tidak berpoligami.
Sorry, ini sudah di luar konteks Referensi kali ya.

Salam,
RM





From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Sent: Wednesday, November 18, 2009 11:42 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Mbu Nenekku

  


Memang sangat iba mendengar kisah Ibu Fatmawati, korban Poligami..
Kontras sekali dengan Naoko Nemoto, aka. Ratna Dewi Soekarno.. yg dinikahi 
Soekarno pada usia 19 tahun, ketika itu Soekarno berusia 57 tahun, pada tahun 
1959 ..

Sepeninggal Sukarno, Dewi melanjutkan hidupnya sebagai sosialita di Swiss, 
Perancis dan USA ..
Sekarang tinggal di rumah mewah di Tokyo ..

mungkin kalao ada gerakan anti-poligami (yg menurut saya penting), bisa 
mengambil nama Fatmawati...


Salam,
-K-


selebihnya:

http://www.nytimes. com/1998/ 02/17/world/ jakarta-journal- weighty-past- 
pins-the- wings-of- a-social- butterfly. html?sec=&spon=&pagewanted=print



From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: kebuday...@yahoogro ups.com, "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>, 
"plbpm" <pl...@yahoogroups. com>, futurol...@yahoogro ups.com 

Date: Tuesday, November 17, 2009, 5:57 PM

  
Puti namaku… itu nama pemberian Mbu (nenek) tercinta…..
Aku terkenang setiap magrib Mbu mengaji ….aku berbaring di dekatnya dan ah.. 
suaranya merdu sekali……..
Mbu sebenarnya tinggal di Kebayoran tapi untuk sementara waktu menemani kami di 
Cempaka putih……
Ketika aku masih sekolah SMP di Cikini….. Mbu sering menjemputku dengan naik 
bajaj ….. maklum Mbu tak punya mobil ……sebelum pulang kami membeli lotek 
didekat situ lalu berdua kami naik bajaj pulang ke Cempaka Putih ……..
Selain mengajarkan tentang kesederhanaan… .Mbu itu orang pertama yang 
mengajariku untuk senang membaca… Dia membuka wawasan seorang makhluk kecil ini 
untuk menjadi pintar…….
Aku ingat pernah dibelikannya komik serial Mahabharata karya RA Kosasih…. 
beliau membelikan aku buku-buku dari tukang loak…..  
Tukang loak?….. Ya, tukang loak..... Aku pernah bertanya….. mengapa Mbu beli 
buku dari tukang loak dan bukannya dari toko buk?..... Jawabnya, karena uangku 
tidak cukup untuk membeli buku di toko buku, Puti…. begitu katanya……..
“Puti…… siapa sih Mbu itu?.....”.
"Beliau itu ibu dari ayahku….ia mantan first lady pertama negeri 
ini…....namanya Fatmawati Sukarno……”.
 
 
 
 




Kirim email ke