Pak Risfan ysh,

Menyambung singgungan anda ttg nasionalisme…. Benar …kata ‘Memaksakan’ umumnya 
punyai konotasi tak bagus ……namun dlm hidup ini banyak nilai2 positip dan vital 
bagi kelangsungan hidup manusia ..yg manusia harus/ wajib  diberi pengertian 
lalu menjalankannya namun cenderung ogah melakukannya (contohnya soal bangun 
pagi,  soal kesekolah, soal makan sayuran, soal minum obat pahit ketika sakit, 
shalat dan mengaji, soal etika kerja keras, bela negara….. atau kalau orang 
kota ya ogahnya disoal lain lagi : silaturahmi dgn tetangga, sopan santun, 
dsb)……
Apa yg menjadi urusan/ resiko masing2 individu (contohnya soal ibadah kpd 
Tuhan/ soal keneraka/ surga) Tentu tak perlu dikenakan kata wajib ….terserah 
masing2....namun apa2 yang menjadi urusan/ resiko bersama seluruh negeri 
(keamanan, kedaulatan, perekonomian, kesejahteraan )….wajiblah sesuatu urusan 
itu  hukumnya bagi setiap warganegara ….hanya ttg caranya utk memberikan 
kesadaran/ pemahaman ttg itu bagi warganegara ….. memang perlu dicari polanya 
….. agar ia memberi hasil yg memuaskan ….agar esensi dan tujuan dari 
nasionalisme itu haruslah sesuatu yg sangat baik, luhur ….dan bukannya 
nasionalisme yg tercela…….
Hrs diakui ‘nasionalisme’ kita pada waktu lalu utk waktu yg sangat lama pernah 
dibawa keseleo, spt setelah 1959 Sukarno mengeluarkan Dekrit… lalu bukannya 
menggalakkan pembangunan  ekonomi  yg sejak merdeka tak kunjung diprioritaskan… 
namun terus saja  mencekoki bangsa dgn ideologi perang melawan penjajah …. lalu 
stlh dapet Irian Barat  gak pake istirahat lsg lanjut dgn ganyang Malaysia dan 
bantu perjuangan rakyat Kalimantan Utara …..lalu  senada dgn  yg anda katakan 
….baris berbaris dan drumband dimana2 (Nasakom)…. Lalu G30S atawa kudeta oleh 
suharto…. Lalu sekali lagi nasionalisme kita dibawa suharto dan perangkat 
orbanya menuju  kejurang yg becek dan gelap….. dan jadilah ekonomi negeri dan 
karakter bangsa kita lalu seperti sekarang ini….. dan jadilah pula polisi/ 
jaksa/ hakim/ lawyer2 kita yg dpt di artalitain serta dianggodoin sebagai 
refleksi dari terpuruknya nasionalisme kita ….lalu masyarakat kembali rindukan
 munculnya kembali Polisi Hugeng, rindukan Ratu Adil dsb… krn masyarakat mulai 
merasakan krisis tak hanya material namun jg krisis keadilan dan hukum…….
Tentu sayapun tak setuju dan tak akan pernah lakukan pemaksaan opini …..yg saya 
lakukan adlh  ‘dakwah’ gratis tanpa kenal lelah dan henti…dan terus ingin 
berupaya utk sampaikan opini yg saya yakini baik utk bangsa dan negara……
Ttg nasionalisme….atau ttg etika hidup bernegara dan berbangsa …. Atau kalau 
dlm skala  sempit katakanlah soal hidup berRT-RW……. Dikampung saya misalnya 
bisa terjadi….. mrk yg sehari2 sok tak saling mau kenal dan tak mau saling 
akrab… giliran kerusuhan 1998 dan dimana2 dibakar lalu para bapak keluar rumah 
maranin dari pintukepintu utk semua membawa ‘senjata’ lalu jaga bersama siang 
dan malam dimulut gang….  Jg ketika wabah DBD sama jg … tapi kalau sehari2 tak 
ada apa2 lalu kembali keasal ..saling ta mau kenal … bukankah ini mrpkn satu 
sikap rasa kebangsaan (pd level RT) yg sontoloyo?.......
Saya kira yg penting …. apa yg baik dan wajib utk dicekokkan kpd masyarakat 
perlu terus dilakukan sepanjang masa (nasionalisme, KB, sikap taat hukum, anti 
korupsi, nilai2 agama dsb)….hanya saja caranyalah  agar yg elegan, yg jujur dan 
dgn  arah tujuan yg tepat benar (bukan yg tercela) ……sbgmn caranya orang 
berdakwah ….agar memakai bhs yg lemah lembut …..dan tak kenal lelah….
Setidaknya mrk yg lupa ttg nasionalisme boleh mengingatnya kembali....dan anda 
boleh catat …. paling tidak dimilis  ini kini siapa yg akan lakukan pelecehan 
thd nasionalisme Indonesia setidaknya perlu mikir lagi dulu…..
Bhw nasionalisme pastilah berkait jg dgn batas wilayah negara ……keamanan/ 
kedaulatan/ perekonomian serta nasib kemajuan bangsa …..khususnya berkait  
national/ regm planning (spt pernah ‘ditanyakan’  rekan Djarot)  … pastilah 
nasionalisme berkait amat kencang dgn  tujuan capaian national spatial 
development kita …..salam,
aby
 


--- On Wed, 11/18/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:


From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 18, 2009, 5:41 PM


  



Pak Aby, Koko dan rekans ysh,

Itulah Pak, kita tidak bisa memaksakan opini. Walau menurut kita itu fakta, itu 
harus dicek kalau ternyata ada pendapat lain.

Nasionalisme pun punya sisi romantisme "ruang dan waktu" (istilah pak ATA). 
Romantisme versi generasi Pak Aby, bisa dilihat sangat beda oleh generasinya 
Koko.

Kebetulan menjelang 65 saya sudah mulai sekolah, yang saya ingat generasi kakak 
saya waktu itu kerjanya tiap saat "Latihan baris, apel, dengar pidato..... 
Baris, apel, dengar pidato.... Baris, apel, dengar pidato." Sayapun walau baru 
sekolah kena juga sesekali diarak ke lapangan. Saya pernah pingsan karena 
kepanasan saat apel untuk mendengar tokoh2 man-in-black (berkacamata hitam) 
pidato. 

Suatu saat kami diarak, berbaris di pinggir jalan. Yang ditunggu ternyata 
rombongan tentara, dan tokohnya adalah "seorang tentara berbaju loreng kecil2 
(pakai kacamata kehijauan), tersenyum melambaikan tangan ke kami dari jip yang 
dibuka jendelanya." Eng ing eeng ... ini romantisme yang lain lagi. Setelah itu 
seingat saya jarang baris-berbaris, apalagi apel di alun-alun atau stadion.

Mungkin pekerjaan orang seperti Prof Asvi Warman atau Prof Anhar Gonggong yang 
secara ilmiah melakukan kajian sejarah.

Salam,
RM






From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Sent: Thursday, November 19, 2009 7:20 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku

  








Pak Risfan ysh,
Bawa ke isyu poligami?... .Kalau saya sih nggak lah ya…… entahlah kalau oleh 
penulis lainnya..  tapi siapa tahu lho ada gunanya juga utk nambah wawasan bagi 
masy. planners khususnya bagi yg sdh pada mapan …. Dan bukankah  ckp menarik 
utk para beliau…. spt kata anda dan Natsir …ada celah permission utk ‘kondisi 
tertentu’ serta asalkan bisa adil…… 
Kalau ttg isyu ‘hidup sederhana’ …..saya kira itu tetap amat sgt relevan 
dikaitkan dgn nasionalisme/ rasa cinta bangsa dan negara  dan utk ‘morality in  
planning’ supaya tdk condong ke hedonism dan profesionalism yg keliru….. jg utk 
mengingatkan kembali para kawula muda dan imut ….khususnya yg msh ngeres 
berpikir curiga ttg kemewahan hidup yg dikira dikejar oleh para pemimpin utama 
perjuangan kemerdekaan kita kala itu…… 
Kalau yg berkait konteks  Referensi … emang sih… saya jg masih blm selesai dgn 
lanjutan diskusi dgn bos saya yg di Paris…. 
salam, aby

--- On Wed, 11/18/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, November 18, 2009, 2:40 PM


  

Pak Aby, Koko dan rekans ysh,

Apakah diskusi ini akhirnya dibawa ke isyu "hidup sederhana" juga "poligami"?
Saya jadi ingat cerita guru saya jaman dulu, yang mengisahkan adanya debat 
antara seorang Pemimpin vs Natsir. Yang mana sang Pemimpin bersikeras "anti 
poligami" sementara Natsir sebagai ulama menyampaikan pandangan normatif 
agamanya bahwa poligami dalam "kondisi tertentu" boleh, dengan berbagai syarat 
terutama "adil". 
Kenyataan sejarah mencatat Natsir selalu hidup sederhana dan tidak berpoligami.
Sorry, ini sudah di luar konteks Referensi kali ya.

Salam,
RM







From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Sent: Wednesday, November 18, 2009 11:42 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Mbu Nenekku

  





Memang sangat iba mendengar kisah Ibu Fatmawati, korban Poligami..
Kontras sekali dengan Naoko Nemoto, aka. Ratna Dewi Soekarno.. yg dinikahi 
Soekarno pada usia 19 tahun, ketika itu Soekarno berusia 57 tahun, pada tahun 
1959 ..

Sepeninggal Sukarno, Dewi melanjutkan hidupnya sebagai sosialita di Swiss, 
Perancis dan USA ..
Sekarang tinggal di rumah mewah di Tokyo ..

mungkin kalao ada gerakan anti-poligami (yg menurut saya penting), bisa 
mengambil nama Fatmawati...


Salam,
-K-


selebihnya:

http://www.nytimes. com/1998/ 02/17/world/ jakarta-journal- weighty-past- 
pins-the- wings-of- a-social- butterfly. html?sec=&spon=&pagewanted=print























From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: kebuday...@yahoogro ups.com, "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>, 
"plbpm" <pl...@yahoogroups. com>, futurol...@yahoogro ups.com 

Date: Tuesday, November 17, 2009, 5:57 PM


  






Puti namaku… itu nama pemberian Mbu (nenek) tercinta…..
Aku terkenang setiap magrib Mbu mengaji ….aku berbaring di dekatnya dan ah.. 
suaranya merdu sekali……..
Mbu sebenarnya tinggal di Kebayoran tapi untuk sementara waktu menemani kami di 
Cempaka putih……
Ketika aku masih sekolah SMP di Cikini….. Mbu sering menjemputku dengan naik 
bajaj …. maklum Mbu tak punya mobil ……sebelum pulang kami membeli lotek didekat 
situ lalu berdua kami naik bajaj pulang ke Cempaka Putih ……..

Selain mengajarkan tentang kesederhanaan… .Mbu itu orang pertama yang 
mengajariku untuk senang membaca… Dia membuka wawasan seorang makhluk kecil ini 
untuk menjadi pintar…….

Aku ingat pernah dibelikannya komik serial Mahabharata karya RA Kosasih…. 
beliau membelikan aku buku-buku dari tukang loak…..  

Tukang loak?….. Ya, tukang loak..... Aku pernah bertanya….. mengapa Mbu beli 
buku dari tukang loak dan bukannya dari toko buk?..... Jawabnya, karena uangku 
tidak cukup untuk membeli buku di toko buku, Puti…. begitu katanya……..
“Puti…… siapa sih Mbu itu?.....”.
"Beliau itu ibu dari ayahku….ia mantan first lady pertama negeri 
ini…....namanya Fatmawati Sukarno……”.
 
 
 
 















      

Kirim email ke