Pak Aby, Pak Risfan dan semua sahabat referensiers,
 
Saya setuju dengan pandangan Pak Risfan tentang perlunya kita melakukan 
pendefinisian ulang atau revitalisasi dalam metoda/cara pengekspresian 
nasionalisme..
 
Kalau pada saat ini kita masih mencoba melakukan pengekspresian nasionalisme 
dengan cara rapat besar di lapangan Ikada, baris berbaris dan mendengarkan 
petuah-petuah para "Bung" kecil maupun besar, jangan-jangan kita harus kembali 
ke jaman 45 he he he... (mohon maaf Pak Aby ya....piss Pak...). Apalagi para 
"Bung" tersebut sudah pada kembali ke rahmatullah dan para "Bung" yang sekarang 
sudah banyak yang terkontaminasi leh kepentingannya sendiri-sendiri.. Juga 
tidak mudah membaca buku-buku hasil pemikiran para "Bung" yang terdahulu dan 
kini lebih mudah mendengar cerita "mitos" dari para "Bung" terdahulu tersebut 
dimana mits-mits tersebut juga banyak "interpretasi" menurut kepentingan atau 
interest para penginterpretasinya...
 
Waktu saya baca koran dimana Syaifullah Yusuf (Wagub Jatim), Aris Afandi 
(Wawali Kota Surabaya), yang pernah saya jumpa keduanya ketika mereka sedang 
mengunjungi salah satu kota tercantik yang ada (ini saya seneng sekali bertemu 
dengan keduanya karena saya "diongkosi (kata beliau-beliau lho...)" pulangnya 
dengan uang yang berlipat-lipat dari harga tiket kereta yang harus saya 
keluarkan untuk dua atau tiga kali menjumpai di hari-hari itu (suer, saya 
seneng banget lho "diongkosi" spt itu he he he..., sudah ikut jalan-jalan 
bareng beliau-beliau yang artinya makan-makan masakan yang jauh lebih enak 
daripada hasil masakan saya, pulangnya diongksi lagi he he he...), he he he 
he... jadi ngelantur nih... Kembali ke laptop, saya merasa sedih dan kasihan 
walau bisa memahami ketika membaca berita di salah satu harian nasional dimana 
kedua beliau bersama Bambang Sulistomo (?) salah seorang putra "Bung" yang lain 
bersandiwara  main perang-perangan dengan pakaian
 ala tentara penjajah ketika merayakan Hari Pahlawan di kotanya... Saya sedih 
karena rasanya kita kok selalu "terperangkap" di dalam masa lalu ketika kita 
berbicara tentang nasionalisme, kepahlawanan, dan bela negara... Kalau nggak 
terperangkap ke masa lalu, setidaknya kita terlalu terjerat ke dalam romantisme 
masa lalu dan kurang berorientasi ke depan he he he... Ini hanya pemikiran 
bodoh saya aja lho.. jadi mohon saya jangan di-prita-kan.... Ini bukan untuk 
mendiskreditkan beliau-beliau yang saya kagumi (bukan karena sudah "ngongkosi", 
tapi karena salah satu dari Beliau sudah mencoba menjejakkan kakinya di banyak 
daerah terpencil dan kurang sejahtera ketika Beliau menjabat sebagai seorang 
pejabat publik penting di negeri kita, dan karena Beliau yang lainnya sudah 
mencoba membangun suatu cara komunikasi egaliter dalam jabatan Beliau sebagai 
pejabat publik...)
 
Saya ingat ketika baru masuk himpunan planologi dulu, kami diwajibkan membaca 
buku "Gelandangan" oleh para senior di HMP Pangripta Loka, walau sekarang juga 
sudah lupa isinya.. Juga kami wajib baca buku "Pendidikan Kaum Tertindas" 
atau "Pendidikan Pangkal Pembebasan", salah satu trilogi dari Paulo Freire, 
seorang teolog pedagogist Amerika Latin , di salah satu unit aktivitas 
mahasiswa dulu, yang sekarang saya rasakan sebagai salah satu dasar penanaman 
nasionalisme dalam diri saya, walau di beberapa tahu kemudian saya 
berkesempatan membaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi" karya "Bung Besar" yang 
tebel buanget sebanyak dua jilid itu, dan juga salah satu karya dari "Bung 
Kecil" yang saya lupa judulnya tapi kalau saya nggak salah ingat buku tersebut 
ditulis ketika beliau sedang berada dalam proses pengobatan di pengasingan 
dimana satu hal penting (walau sederhana) buku tersebut mengajarkan ke saya 
untuk bisa menghormati seseorang hanya karena dia adalah
 seorang manusia dan bukan karena dia seorang pejabat, seorang yang kaya raya 
atau embel-embel lainnya...
 
Malah ketika saya membaca bukunya "Bung Besar" yang dua jilid besar-besar 
tersebut saya banyak ngak paham.. (entah karena saya memang ngak mampu 
memahaminya, atau karena bukunya terlalu tebal sehingga saya cepat ngantuk 
bacanya, atau memang saya nggak mampu mengkaitkannya dengan kondisi sejarah 
waktu artikel-artikel di dalam buku tersebut ditulis..
 
Tapi, ketika saya membaca "Geladangan" yang kemudian dipadukan dengan 
"Kemiskinan Struktural" (dari Umar Khayam ya..?), malah saya lebih mudah 
memahaminya, seperti ketika saya baca "Pendidikan Kaum Tertindas" tersebut... 
Buku-buku tersebut lah yang lebih menanamkan rasa nasionalisme dalam diri 
saya... dan insya Allah juga menjadi salah satu dasar dari pemikiran-pemikiran 
saya dalam konteks nasionalisme.. Kenapa hal-hal itu saya bilang menanamkan 
nasionalisme dalam diri saya, saya rasa karena buku-buku tersebut menanamkan 
motivasi kepada saya untuk bisa turut berkontribusi di dalamnya, kayaknya.... 
(ini menurut pemikiran subyektif saya aja lho Pak... siapa tahu menurut 
penilaian orang thdp diri saya akan berbeda....)
 
Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita pada 
saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk merasa 
berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut tidak 
cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan semacam 
itu... 
 
Kalau dikaitkan dengan bidang kita pembangunan wilayah dan kota, peningkatan 
mtivasi tsb memerlukan kontribusi dari bidang kita untuk tidak hanya membangun 
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga "keadilan 
spasial" bagi seluruh wilayah Indonesia he he he... (ini IMSO lho Pak....). 
Bagaimana kita semua bisa memiliki motivasi positif yang saling menguatkan 
kalau keadilan spasial ini belum terbentuk hingga lebih dari 8 windu kita 
(konon) merdeka....
 
Sekian dulu Pak Aby ya... mohon responnya ya Pak... Saya nantikan lho he he 
he...
 
Salam hormat dari jauh, dari yang muda kepada sesepuh ya Pak....
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- On Sun, 11/22/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:


From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm 
Selesai
To: [email protected]
Date: Sunday, November 22, 2009, 9:06 AM


  



Pak Aby dan rekans ysh,

Ayo dong Pak Aby, gak sabar ini, kok Bapak ngajak lagi ke yang lalu. Udahlah 
"mikul duwur, mendem jero" saja. Rekonsiliasi (psikologis) istilah Mandela.

Contoh saya misalnya, dr. Yusuf SK, Walikota Tarakan Dia punya inisiatif 
membangun "pembangkit listrik" sendiri. Dia minta ijin PLN, bukan sekedar dapat 
ijin, malah dibeli kelebihan dayanya. Ini inovasi Pemda yang membanggakan, pada 
saat krisis energi dimana-mana.

Idenya sederhana saja menurut dia. Karena awal tahun 2000an dia baca artikel 
Sri Mulyani di Kompas tentang ramalan krisis energi. Kebutuhan dana antara lain 
ditutup dari kontribusi warga. Cara persuasinya disampaikan dalam bahasa "harga 
sebatang rokok per-hari". 
Menurut saya ini kategori kepedulian atau "cinta tanah air" dalam bentuk 
praktis.

Sekali lagi, kampanye nasionalisme ala indoktrinasi apel di lapangan terbukti 
gak efektif. Juga model "jual kecap" ala P4. Model self-critic juga sudah 
kebal. Oleh karena itu perlu dicoba model menanamkan "kebanggaan nasional". 
Sekedar saran.

Salam,
Risfan Munir







From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Sent: Sunday, November 22, 2009 8:14 AM
To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
Cc: plbpm <pl...@yahoogroups. com>
Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai

  








++++: Mungkin sudah saatnya mengangkat "kebanggaan bangsa". Sejarah orang 
biasa, seperti belakangan sering di Kompas. Potensi dan prestasi orang kita 
banyak. Tahan uji lagi. Ada baiknya "cinta tanah air" ditumbuhkan dari situ. 
Ini adalah cara baru yang mesti dicoba. Karena cara pandang Pak Aby, maaf, 
selalu bangsa ini sebagai victim/korban. Sbg korban penjajah, pemimpin sendiri, 
imperialis, dst. Sehingga Pak Aby lebih banyak membahas penjajah dan 
penindasnya drpd "potensi bangsa" ini.
>>>>: Pertama trims banget atas perkenan diskusinya….tolong sabar pak Risfan 
>>>>…sekali lagi dan sekali lagi anda sangat benar dan smsekali tidak salah dgn 
>>>>itu ….saya hanya blm selesai saja dgn urutan serial thread nasionalisme ini 
>>>>….saya hanya sekedar tak mau ujug2 saja dari nasionalisme kita yg sakit 
>>>>parah kok tiba2 mau lompat ke nasionalisme ekonomi 2009 yg mantab ….nanti 
>>>>khan ujung2nya saya akan sampai ke-sana2 juga?…….
Generasi muda orang Jepang atau Korea mungkin bisa lsg mudah diajak bicara ttg 
nasionalisme ekonomi justru krn mereka hanya memiliki etnonasionalisme tunggal, 
tak perlu diajar bhineka tunggal ika, tak rawan separatisme dll …dan (kecuali 
Korea oleh Jepang) mrk tak ada riwayat dijajah yg pilu dan kelam…..kita khan 
jauh lbh ruwet dan sangat berbeda?.... .....
Saya hanya ingin coba skrg ini bicara  dulu agak sedikit lbh utuh dan runut 
namun saya coba rada singkat (tapi maaf terpaksa dlm format bbrp postings)  ttg 
akar sejarah nasionalisme kita..... krn bukan tak mungkin sebagian milisters 
kita jg suatu saat nanti akan harus memberikan pengertian  singkat praktis pada 
putra-putrinya yg kini masih kecil ttg fakta netral (dan bukan pembelokan) 
sejarah ttg riwayat nasionalisme kita … yg tak mungkin secara  ujug2  kita hari 
ini hrs lompat begitu saja pd ‘nasionalisme ekonomi’ (atau nanti nyusul 
nasionalisme budaya, teknologi dsb) tanpa lbh dulu diawali dgn pengertian atau 
mengingat  kembali ttg riwayat nasionalisme politik kita yg amat berliku dan 
kelam yg menjadi cikal bakal nasionalisme kita kedepan…….
Setidaknya thread ini saya buat bukannya tak ada hujan dan tak ada 
angin….sambil saya coba ambil momen yg rada pas (awalnya sekitar 17 Ags lalu, 
dismbung 28Okt dan 10 nop.. dn itu ternyata rupanya msh dianggap tidak pas juga 
) …..saya (sdh) coba bicara sejak kita mengawali niat kemerdekaan (1945) dan 
bukan bicara ujug2  ttg nasionalisme 2009 … sambil bbrp orang mungkin tak 
mengingat betul (aplg generasi berikut nanti) detail singkat urutan liku2 
cerita sejak 1945…… 
Krn bukankah tak semuanya memahami (menghafal, menyukai) sejarah spt kita ini 
misalnya ……dn lagi pula  bukankah spt apa yg menjadi tak  disukai oleh generasi 
muda spt  mas Koko misalnya l/k. ttg adanya pembelokan tujuan luhur 
nasionalisme kita yl … juga ttg pembelokan fakta sejarah (utk menutupi skandal 
sejarah kudeta) sekaligus pembelokan nasionalisme spt misalnya oleh orde baru 
spt bhw kenapa tiba2  sejak film G30S (berdurasi 220 menit atau hampir 4 jam) 
yg dibuat pd 1984… lalu kenapa  ia hrs menjadi santapan rohani wajib di tv 
disemua channel pd tiap 30 September ( lbh gila lagi dampaknya : a.l. murid SD 
diberi PR nonton itu dan esoknya harus serahkan paper ttg film itu pd gurunya) 
…..film ‘pesanan’ yg oleh sutradaranya lbh diakui sbg film horor more than film 
dokumenter…. Terlebih lagi bhw kemudian terbukti pd hasil visum tak ada 
penyiksaan/ pemotongan kelamin para jendral oleh Gerwani dsb …..Jg dibuat 
serentetan film2 lain
  ‘kehebatan rambo suharto’ spt Janur Kuning, Serangan Fajar dll.... .lalu 
rakyat kita dicekoki (sekaligus ditakuti2) dgn doktrin abstrak sakralisasi 
Pancasila dan UUD 1945  …..lalu bgmn generasi muda  kita yg tua juga (kecuali 
sedikit tua muda yg luar biasa) akan ujug2 menyambut nasionalisme dgn hati yg 
jernih..... lalu bgmn ujug2 bisa berkobar jiwa nasionalisme ekonominya macam 
orang Jepang dan KoreaSelatan misalnya.... . dgn ujug2 mencintai  produk dalam 
negeri mrk  misalnya ......pdhal kemiskinan, korupsi dan ketidak adilan hukum, 
ekonomi dan sosial  dinegeri kita terus berjalan?... .... maaf mandeg sekian 
dulu lanjutannya sgr nyusul, cucu pertama saya blm lama lahir …salam, 
aby
 

 
Thursday, November 19, 2009 2:27 AM
From: "Risfan Munir" risf...@yahoo. com
 

Pak Aby dan rekans ysh,
Mengenai jawaban atas posting nasionalisme Pak Aby terakhir, lebih enak saya 
jawab dijalur ini.
Salah satu temuan saya dari Bandung kemarin ialah bahwa angkatan (masuk) 2004 
sudah banyak yang lulus, sebagian 2005 juga. Bayangkan, mereka th 1998 itu 
masih SD/SMP.
Waktu pak Poernomosidhi mengenalkan SWP jelas mereka masih di sorga. Sehingga 
waktu ada senior (yang usianya beda 40th dari alumni baru) tanya, kok orang 
sekarang bikin konsep macam-macam, kenapa gak pakai SWP saja. Maka Pak dosen 
harus bersopan kata, bahwa konteksnya sudah juauuuuh berubah. Desentralisasi, 
demokratisasi, dan gonjang-ganjing global telah merubah konteks dan relasi 
pemerintah - warga, pusat - daerah, antar negara, arus info, uang, barang.
Sepertinya masing-masing dari kita perlu "unlearn" lalu "relearn".
Pak Aby, secara pribadi saya lebih percaya pada kekuatan "bangsa" kita Setelah 
mengalami pemerintahan 6 pemimpin, kayaknya yang hebat adalah "bangsa" kitanya.
Seperti kata rocker Tina Turner, "We don't need another hero." 
Kalau toh perlu hero, menurut saya adalah orang biasa yang memakai "produk 
dalam negeri", yang mematikan lampu kalau gak perlu. Karena 80 persen konsumsi 
listrik adalah rumah tangga. Dan langkah-langkah kecil yang konkrit seperti itu.
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 









      

Kirim email ke