Mas Fajar, Pak Aby dan rekan-rekan ysh, Pertama, selamat kepada Pak Aby atas kelahiran cucu pertamanya. Kedua, saya ingin meresponse penggal ......Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita pada saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk merasa berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut tidak cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan semacam itu... ... Terakhir saya ke negeri jiran (2th yl?) pas hari kemerdekaan mereka ke 50, sehingga banyak kata motivasi kebangsaan. Yang mengesankan saya, ialah temanya "Terima Kasih Malaysia." Belum pernah kan kita di negara kita menyampaikan itu kepada bangsanya. Masyarakat kita sampai saat ini hanya disuruh jadi obyek kampanye, indoktrinasi. Pada tangga menuju monorail, setiap langkah, bagian vertikal dari step itu ada tulisan dalam bahasa Melayu, kira-kira Bahasa Indonesianya: "Terima kasih petugas kebersihan yang telah membuat kota bersih; Terima kasih petugas pos yang melancarkan surat menyurat; Terima kasih petugas telkom yang menyambungkan silaturahmi warga; Terima kasih teller bank yang memudahkan bayar membayar; Terima kasih sopir angkutan yang mengantarkan orang kerja, anak2 sekolah.... ..............................." Saya sungguh surprised dan terharu membacanya. Tulisan di tangga itu saya potret dan selalu saya tampilkan tiap presentasi di daerah, waktu saya menangani manajemen pelayanan publik. Para petugas, PNS atau non-PNS perlu dihargai, di-orang-kan. Bahwa walau belum 100% mereka perform, banyaklah yang sudah mereka lakukan. Biasanya antar mereka saya minta untuk menguraikan "prestasi" temannya, unit mitra nya. Lalu kita bersama memberikan apresiasi. Selanjutnya diskusi: Apa rahasia suksesnya (walau kadang masih kecil)? Bagaimana meningkatkan kinerja dengan memanfaatkan "rahasia/key success factors" itu? Lalu action plan peningkatan disusun bersama. Dengan begitu suasana positif, kontributif. Karena cara lama yang membuka forum dengan "menemukan masalah", biasanya masalahnya berputar itu-itu saja (anggaran, SDN, birokrasi, dst) dan lalu mencari "kambing hitam" (kebijakan pusat, dewan, dst). Lagu lama lah pokoknya, yang jawabannya "diluar" diri mereka. Sekali lagi Mas Fajar, banyak yang sudah dilakukan masyarakat dan para pelaksana di lapangan, di daerah. Inovasi, prestasi, walau masih kurang banyak. Sudah waktunya mereka dihargai, ditumbuhkan lagi semangatnya. Mereka itu bisa para petugas, pelaku ekonomi, social enterpreneur, pimpinan daerah, anggota dewan yang berniat baik. Kalau semakin banyak "yang baik" yang kita tonjolkan, kita apresiasi, maka kebanggaan kita berbangsa ini saya kira bisa meningkat lagi. Salam, Risfan Munir www.samuraisejati.blogspot.com
--- On Sun, 11/22/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai To: [email protected] Date: Sunday, November 22, 2009, 4:17 AM Pak Aby, Pak Risfan dan semua sahabat referensiers, Saya setuju dengan pandangan Pak Risfan tentang perlunya kita melakukan pendefinisian ulang atau revitalisasi dalam metoda/cara pengekspresian nasionalisme. . Kalau pada saat ini kita masih mencoba melakukan pengekspresian nasionalisme dengan cara rapat besar di lapangan Ikada, baris berbaris dan mendengarkan petuah-petuah para "Bung" kecil maupun besar, jangan-jangan kita harus kembali ke jaman 45 he he he... (mohon maaf Pak Aby ya....piss Pak...). Apalagi para "Bung" tersebut sudah pada kembali ke rahmatullah dan para "Bung" yang sekarang sudah banyak yang terkontaminasi leh kepentingannya sendiri-sendiri. . Juga tidak mudah membaca buku-buku hasil pemikiran para "Bung" yang terdahulu dan kini lebih mudah mendengar cerita "mitos" dari para "Bung" terdahulu tersebut dimana mits-mits tersebut juga banyak "interpretasi" menurut kepentingan atau interest para penginterpretasinya ... Waktu saya baca koran dimana Syaifullah Yusuf (Wagub Jatim), Aris Afandi (Wawali Kota Surabaya), yang pernah saya jumpa keduanya ketika mereka sedang mengunjungi salah satu kota tercantik yang ada (ini saya seneng sekali bertemu dengan keduanya karena saya "diongkosi (kata beliau-beliau lho...)" pulangnya dengan uang yang berlipat-lipat dari harga tiket kereta yang harus saya keluarkan untuk dua atau tiga kali menjumpai di hari-hari itu (suer, saya seneng banget lho "diongkosi" spt itu he he he..., sudah ikut jalan-jalan bareng beliau-beliau yang artinya makan-makan masakan yang jauh lebih enak daripada hasil masakan saya, pulangnya diongksi lagi he he he...), he he he he... jadi ngelantur nih... Kembali ke laptop, saya merasa sedih dan kasihan walau bisa memahami ketika membaca berita di salah satu harian nasional dimana kedua beliau bersama Bambang Sulistomo (?) salah seorang putra "Bung" yang lain bersandiwara main perang-perangan dengan pakaian ala tentara penjajah ketika merayakan Hari Pahlawan di kotanya... Saya sedih karena rasanya kita kok selalu "terperangkap" di dalam masa lalu ketika kita berbicara tentang nasionalisme, kepahlawanan, dan bela negara... Kalau nggak terperangkap ke masa lalu, setidaknya kita terlalu terjerat ke dalam romantisme masa lalu dan kurang berorientasi ke depan he he he... Ini hanya pemikiran bodoh saya aja lho.. jadi mohon saya jangan di-prita-kan. ... Ini bukan untuk mendiskreditkan beliau-beliau yang saya kagumi (bukan karena sudah "ngongkosi", tapi karena salah satu dari Beliau sudah mencoba menjejakkan kakinya di banyak daerah terpencil dan kurang sejahtera ketika Beliau menjabat sebagai seorang pejabat publik penting di negeri kita, dan karena Beliau yang lainnya sudah mencoba membangun suatu cara komunikasi egaliter dalam jabatan Beliau sebagai pejabat publik...) Saya ingat ketika baru masuk himpunan planologi dulu, kami diwajibkan membaca buku "Gelandangan" oleh para senior di HMP Pangripta Loka, walau sekarang juga sudah lupa isinya.. Juga kami wajib baca buku "Pendidikan Kaum Tertindas" atau "Pendidikan Pangkal Pembebasan", salah satu trilogi dari Paulo Freire, seorang teolog pedagogist Amerika Latin , di salah satu unit aktivitas mahasiswa dulu, yang sekarang saya rasakan sebagai salah satu dasar penanaman nasionalisme dalam diri saya, walau di beberapa tahu kemudian saya berkesempatan membaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi" karya "Bung Besar" yang tebel buanget sebanyak dua jilid itu, dan juga salah satu karya dari "Bung Kecil" yang saya lupa judulnya tapi kalau saya nggak salah ingat buku tersebut ditulis ketika beliau sedang berada dalam proses pengobatan di pengasingan dimana satu hal penting (walau sederhana) buku tersebut mengajarkan ke saya untuk bisa menghormati seseorang hanya karena dia adalah seorang manusia dan bukan karena dia seorang pejabat, seorang yang kaya raya atau embel-embel lainnya... Malah ketika saya membaca bukunya "Bung Besar" yang dua jilid besar-besar tersebut saya banyak ngak paham.. (entah karena saya memang ngak mampu memahaminya, atau karena bukunya terlalu tebal sehingga saya cepat ngantuk bacanya, atau memang saya nggak mampu mengkaitkannya dengan kondisi sejarah waktu artikel-artikel di dalam buku tersebut ditulis.. Tapi, ketika saya membaca "Geladangan" yang kemudian dipadukan dengan "Kemiskinan Struktural" (dari Umar Khayam ya..?), malah saya lebih mudah memahaminya, seperti ketika saya baca "Pendidikan Kaum Tertindas" tersebut... Buku-buku tersebut lah yang lebih menanamkan rasa nasionalisme dalam diri saya... dan insya Allah juga menjadi salah satu dasar dari pemikiran-pemikiran saya dalam konteks nasionalisme. . Kenapa hal-hal itu saya bilang menanamkan nasionalisme dalam diri saya, saya rasa karena buku-buku tersebut menanamkan motivasi kepada saya untuk bisa turut berkontribusi di dalamnya, kayaknya.... (ini menurut pemikiran subyektif saya aja lho Pak... siapa tahu menurut penilaian orang thdp diri saya akan berbeda....) Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita pada saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk merasa berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut tidak cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan semacam itu... Kalau dikaitkan dengan bidang kita pembangunan wilayah dan kota, peningkatan mtivasi tsb memerlukan kontribusi dari bidang kita untuk tidak hanya membangun suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga "keadilan spasial" bagi seluruh wilayah Indonesia he he he... (ini IMSO lho Pak....). Bagaimana kita semua bisa memiliki motivasi positif yang saling menguatkan kalau keadilan spasial ini belum terbentuk hingga lebih dari 8 windu kita (konon) merdeka.... Sekian dulu Pak Aby ya... mohon responnya ya Pak... Saya nantikan lho he he he... Salam hormat dari jauh, dari yang muda kepada sesepuh ya Pak.... Salam, Fadjar Undip --- On Sun, 11/22/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, November 22, 2009, 9:06 AM Pak Aby dan rekans ysh, Ayo dong Pak Aby, gak sabar ini, kok Bapak ngajak lagi ke yang lalu. Udahlah "mikul duwur, mendem jero" saja. Rekonsiliasi (psikologis) istilah Mandela. Contoh saya misalnya, dr. Yusuf SK, Walikota Tarakan Dia punya inisiatif membangun "pembangkit listrik" sendiri. Dia minta ijin PLN, bukan sekedar dapat ijin, malah dibeli kelebihan dayanya. Ini inovasi Pemda yang membanggakan, pada saat krisis energi dimana-mana. Idenya sederhana saja menurut dia. Karena awal tahun 2000an dia baca artikel Sri Mulyani di Kompas tentang ramalan krisis energi. Kebutuhan dana antara lain ditutup dari kontribusi warga. Cara persuasinya disampaikan dalam bahasa "harga sebatang rokok per-hari". Menurut saya ini kategori kepedulian atau "cinta tanah air" dalam bentuk praktis. Sekali lagi, kampanye nasionalisme ala indoktrinasi apel di lapangan terbukti gak efektif. Juga model "jual kecap" ala P4. Model self-critic juga sudah kebal. Oleh karena itu perlu dicoba model menanamkan "kebanggaan nasional". Sekedar saran. Salam, Risfan Munir From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Sent: Sunday, November 22, 2009 8:14 AM To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com> Cc: plbpm <pl...@yahoogroups. com> Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai ++++: Mungkin sudah saatnya mengangkat "kebanggaan bangsa". Sejarah orang biasa, seperti belakangan sering di Kompas. Potensi dan prestasi orang kita banyak. Tahan uji lagi. Ada baiknya "cinta tanah air" ditumbuhkan dari situ. Ini adalah cara baru yang mesti dicoba. Karena cara pandang Pak Aby, maaf, selalu bangsa ini sebagai victim/korban. Sbg korban penjajah, pemimpin sendiri, imperialis, dst. Sehingga Pak Aby lebih banyak membahas penjajah dan penindasnya drpd "potensi bangsa" ini. >>>>: Pertama trims banget atas perkenan diskusinya….tolong sabar pak Risfan >>>>…sekali lagi dan sekali lagi anda sangat benar dan smsekali tidak salah dgn >>>>itu ….saya hanya blm selesai saja dgn urutan serial thread nasionalisme ini >>>>….saya hanya sekedar tak mau ujug2 saja dari nasionalisme kita yg sakit >>>>parah kok tiba2 mau lompat ke nasionalisme ekonomi 2009 yg mantab ….nanti >>>>khan ujung2nya saya akan sampai ke-sana2 juga?……. Generasi muda orang Jepang atau Korea mungkin bisa lsg mudah diajak bicara ttg nasionalisme ekonomi justru krn mereka hanya memiliki etnonasionalisme tunggal, tak perlu diajar bhineka tunggal ika, tak rawan separatisme dll …dan (kecuali Korea oleh Jepang) mrk tak ada riwayat dijajah yg pilu dan kelam…..kita khan jauh lbh ruwet dan sangat berbeda?.... ..... Saya hanya ingin coba skrg ini bicara dulu agak sedikit lbh utuh dan runut namun saya coba rada singkat (tapi maaf terpaksa dlm format bbrp postings) ttg akar sejarah nasionalisme kita..... krn bukan tak mungkin sebagian milisters kita jg suatu saat nanti akan harus memberikan pengertian singkat praktis pada putra-putrinya yg kini masih kecil ttg fakta netral (dan bukan pembelokan) sejarah ttg riwayat nasionalisme kita … yg tak mungkin secara ujug2 kita hari ini hrs lompat begitu saja pd ‘nasionalisme ekonomi’ (atau nanti nyusul nasionalisme budaya, teknologi dsb) tanpa lbh dulu diawali dgn pengertian atau mengingat kembali ttg riwayat nasionalisme politik kita yg amat berliku dan kelam yg menjadi cikal bakal nasionalisme kita kedepan……. Setidaknya thread ini saya buat bukannya tak ada hujan dan tak ada angin….sambil saya coba ambil momen yg rada pas (awalnya sekitar 17 Ags lalu, dismbung 28Okt dan 10 nop.. dn itu ternyata rupanya msh dianggap tidak pas juga ) …..saya (sdh) coba bicara sejak kita mengawali niat kemerdekaan (1945) dan bukan bicara ujug2 ttg nasionalisme 2009 … sambil bbrp orang mungkin tak mengingat betul (aplg generasi berikut nanti) detail singkat urutan liku2 cerita sejak 1945…… Krn bukankah tak semuanya memahami (menghafal, menyukai) sejarah spt kita ini misalnya ……dn lagi pula bukankah spt apa yg menjadi tak disukai oleh generasi muda spt mas Koko misalnya l/k. ttg adanya pembelokan tujuan luhur nasionalisme kita yl … juga ttg pembelokan fakta sejarah (utk menutupi skandal sejarah kudeta) sekaligus pembelokan nasionalisme spt misalnya oleh orde baru spt bhw kenapa tiba2 sejak film G30S (berdurasi 220 menit atau hampir 4 jam) yg dibuat pd 1984… lalu kenapa ia hrs menjadi santapan rohani wajib di tv disemua channel pd tiap 30 September ( lbh gila lagi dampaknya : a.l. murid SD diberi PR nonton itu dan esoknya harus serahkan paper ttg film itu pd gurunya) …..film ‘pesanan’ yg oleh sutradaranya lbh diakui sbg film horor more than film dokumenter…. Terlebih lagi bhw kemudian terbukti pd hasil visum tak ada penyiksaan/ pemotongan kelamin para jendral oleh Gerwani dsb …..Jg dibuat serentetan film2 lain ‘kehebatan rambo suharto’ spt Janur Kuning, Serangan Fajar dll.... .lalu rakyat kita dicekoki (sekaligus ditakuti2) dgn doktrin abstrak sakralisasi Pancasila dan UUD 1945 …..lalu bgmn generasi muda kita yg tua juga (kecuali sedikit tua muda yg luar biasa) akan ujug2 menyambut nasionalisme dgn hati yg jernih..... lalu bgmn ujug2 bisa berkobar jiwa nasionalisme ekonominya macam orang Jepang dan KoreaSelatan misalnya.... . dgn ujug2 mencintai produk dalam negeri mrk misalnya ......pdhal kemiskinan, korupsi dan ketidak adilan hukum, ekonomi dan sosial dinegeri kita terus berjalan?... .... maaf mandeg sekian dulu lanjutannya sgr nyusul, cucu pertama saya blm lama lahir …salam, aby Thursday, November 19, 2009 2:27 AM From: "Risfan Munir" risf...@yahoo. com Pak Aby dan rekans ysh, Mengenai jawaban atas posting nasionalisme Pak Aby terakhir, lebih enak saya jawab dijalur ini. Salah satu temuan saya dari Bandung kemarin ialah bahwa angkatan (masuk) 2004 sudah banyak yang lulus, sebagian 2005 juga. Bayangkan, mereka th 1998 itu masih SD/SMP. Waktu pak Poernomosidhi mengenalkan SWP jelas mereka masih di sorga. Sehingga waktu ada senior (yang usianya beda 40th dari alumni baru) tanya, kok orang sekarang bikin konsep macam-macam, kenapa gak pakai SWP saja. Maka Pak dosen harus bersopan kata, bahwa konteksnya sudah juauuuuh berubah. Desentralisasi, demokratisasi, dan gonjang-ganjing global telah merubah konteks dan relasi pemerintah - warga, pusat - daerah, antar negara, arus info, uang, barang. Sepertinya masing-masing dari kita perlu "unlearn" lalu "relearn". Pak Aby, secara pribadi saya lebih percaya pada kekuatan "bangsa" kita Setelah mengalami pemerintahan 6 pemimpin, kayaknya yang hebat adalah "bangsa" kitanya. Seperti kata rocker Tina Turner, "We don't need another hero." Kalau toh perlu hero, menurut saya adalah orang biasa yang memakai "produk dalam negeri", yang mematikan lampu kalau gak perlu. Karena 80 persen konsumsi listrik adalah rumah tangga. Dan langkah-langkah kecil yang konkrit seperti itu. Salam, Risfan Munir

