Pak Onnos dan rekans ysh, "Migrasi dan urbanisasi" waktu saya kuliah dulu memang satu mata kuliah sendiri. Tapi biasanya di kalangan kita agak menghindari bicara "suku/ras" ya. Walau di kalangan anthropolog justru itu subyeknya.
Perantau cenderung kompak karena punya kesulitan umum sebagai minoritas. Social capital, trust, diantara mereka tinggi, karena ada kebutuhan untuk saling menolong. Juga adanya "ancaman" (sentimen) dari penduduk setempat.apalagi mereka merantau juga karena sulitnya hidup, terbatasnya peluang di daerah asal. Sehingga kekompakan mereka dapat jadi kekuatan ekonomi. Karena motif survival (asalnya), maka orientasi ekonomi mereka juga kuat. Jadi untuk kewirausahaan peran kelompok perantau tentu sangat besar. Karena orang Tionghoa di negara China juga umumnya pasti bukan usahawan. Tapi untuk bermain di skala internasional, mungkin perantau non-Tionghoa masih terbatas sekali karena selama ini bangsa kita umumnya inward looking, alias orientasi ke dalam neregi. Paling-paling keluarnya terbatas ke Malaysia. Ada di Eropa, Amerika, Australia, tapi individual dan relatif kecil. Dalam hal ini ketika Apindo ditanya, jawab mereka, karena penduduk Indonesia ini sangat besar sebagai market. Justru pengusaha dari negara lain menjual dan tanam modal kesini. Soal mengapa skala usahanya kok umumnya tidak terlalu besar, ya ini soal lain, mesti topik terpisah. Sebagai perekat NKRI, peran migran antar daerah tentu besar. Bagaimana kalau tiap orang tinggal di daerah masing-masing, maka pergaulan antar daerah antar suku jadi makin terpisah-pisah. Kalau sekarang setidaknya orang Jawa bisa makan masakan Minang, orang Batak makan karedok, coto Makasar. Orang Sunda makan rica-rica. Juga pembauran makin banyak terjadi. Salam, Risfan Munir www.ecoplano.blogspot.com www.urbaneconomi.blogspot.com -----Original Message----- From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Sent: Wednesday, November 25, 2009 7:17 PM To: [email protected] <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Eyang Aby dan rekan-2 ysh, Andaikata heroisme para migran informal ini dapat digalang dengan upaya 'pemberdayaan masyarakat' yang jitu, mungkinkah mereka dapat berkembang menjadi pionir wiraswastawan dipelosok negeri ini (seperti 'etos' kerja dari saudara-2 kita dari etnik tionghua) ?, sekaligus sebagai alat pemersatu bangsa yang 'bhineka tunggal ika' ini ? Mohon pendapatnya... Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Tue, 24 Nov 2009 21:45:10 -0800 Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Pak Onnos ysh, ++++: ..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam diskus ini ya.. >>>>: Heroisme migrasi sektor informal dgn merantau keluar Jawa menuju >>>>lokasi2 terpencil dan kota2 kecil umumnya sptnya lbh dikaitkan dgn contoh >>>>pioneering transmigrasi utk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa selain >>>>menjadi propaganda program transmigrasi sekaligus pembuktian ketidak >>>>benaran tuduhan/ ejekan bhw suku Jawa bersifat sedentary (lahir, besar dan >>>>mati menetap terus didesa yg sama) . Boleh jadi para migran sektor >>>>informal itu malah tak berpikir ttg proyek nasionalisme atau penegakan >>>>NKRI spt yg sedang kita diskusikan (sebaliknya daerah tujuan malah kadang >>>>mengeluh kesan Jawanisasi) Nampaknya motivasi kewiraswastaan kecil, >>>>pikiran menjadi pengusaha tertentu yg baru pertama dilokasi tujuan dan agar >>>>mendapatkan porsi pasar yg besar lbh menjadi tujuan utama mereka . ++++: BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. >>>>: Ya pak Onnos, sekarang saya sdh resmi jadi akung beneran dan maturnuwun >>>>atas perhatian serta doanya salam, aby Sunday, November 22, 2009 9:55 AM From: "Sugiono Ronodihardjo" <[email protected]> Salam sejahtera pak RM dan rekan-2 ysh, Ikut nimbrung nich..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam diskus ini ya.. BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. Wassalam, Onnos New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

