Mungkin memang sudah suratan…. ttg watak dan kelemahan manusia yg manusiawi 
….yg tak dapat meramalkan  kebutuhan masa depan yg jauh dgn amat  sgt tepat…. 
maka lalu banyak rencana dn hasil pembangunan kadang perlu ditata ulang 
kembali……… tak terkecuali dgn kebutuhan ttg pengadaan jalur sepeda dikota2 
besar krn polusi akibat asap kendaraan bermotor yg makin mendera…… justru 
setelah kota2 dan negara2 menjadi lebih kaya ..  stlh manusia2nya menjadi lbh  
pandai dan lbh manusiawi …. Hingga memiliki kesadaran ttg penyelamatan dan 
keberlanjutan lingkungan yg lbh baik dari generasi2  sebelumnya…….. 
Semua bermula dari penemuan teknologi kendaraan  sepeda pada 1817… lalu disusul 
penemuan mobil pd 1886…. Lalu industri semakin menjadi2 dan sepeda menjadi 
tersingkir.…… 
Menyadari polusi dari asap kendaraan bermotor (maupn juga asap pabrik) yg terus 
mengancam keberlanjutan  kota2 besar dgn udara yg bersih (jg kemacetan.. selain 
juga biaya angkutan kota  yg semakin mahal)…. Maka muncullah pemikiran utk 
kembali ke sepeda ….the tought about the return of bicycle……. 
Namun sebagaimana  biasa…. Pemikiran demikian  selalu muncul pertama dinegara2 
maju dan kaya lbh dulu…… yg itupun tak serta merta dpt direalisasikan dgn 
serentak dan meluas kemana2 … maklumlah krn ternyata itu  tak sederhana dan 
bukannya murah pula…..krn jaringan2 jalan dgn kelebaran yg sudah amat terbatas 
trpaksa harus diredesign kembali…… dan spt biasa pula….. negara2 sdg 
berkembangpun  tak lama mendengar pula mode baru itu…. Dan seperti biasa tak 
lama kemudian ingin turut serta mengekor pula…….. 
Nyaris sebagai negara adidaya industri …. walau ttg back to bicycle Jepang amat 
ketinggalan dibanding Perancis misalnya …..namun  Jepang pd 2007pun tetap 
memulai dgn uji coba dulu… dan bukannya lalu lsg serentak dan dimana2 
menerapkan pengembangan jalur2 sepeda dikota2nya…….. jepang memulai dgn 98 
model lokasi2 dulu….  dgn jalur2 yg tak terlalu panjang dulu …..utk dgn itu dpt 
memonitor apa kekurangan2nya… lalu memperbaikinya…… 
Pd 2008 lalu ….di Shinjuku, Tokyo barat… kearah Hatsudai, Hatagaya dan Suginami 
dibuat uji coba jalur sepeda selebar 1.5 meter dicat biru ….dikiri-kanan 
jalan……. Demikian pula didistrik Kameido, Tokyo timur….dijalan Raya Nasional 
Route 14 yg memiliki 8 jalur dan melalui setasiun KA Kameido direncanakan pula 
jalur sepeda sepanjang 1.2 km ….2 thn lalu menteri Tansportasi menyerahkan 
jalur sepanjang 400 meter dulu dimasing2 jalur kiri kanan jalan selebar 2 meter 
….. 
Kemudian dlm perkembangannya … krn kekhawatiran bhw pengendara sepeda bisa 
diserempet mobil dan bisa fatal … maka jalur itu dipisahkan dgn pagar….. namun 
tak lama para pemilik toko disepanjang jalur percobaan itu mengeluh…. Krn 
mereka menjadi sulit menaikkan atau menurunkan barang dari mobil yg berhenti 
dijalur mobil krn terhalang oleh pagar pemisah…. Krn itu pada fase berikutnya 
dijalur barat sepanjang 500mtr dan ditimur 300meter dibuat perbaikan pada pagar 
pembatasnya….... menunjukkan bhw rencana itu tak akan mulus jalannya bila tak 
mendapat persetujuan dari para pemilik ruang usaha sepanjang jalur tsb…… blm 
lagi kemunculan masalah berikut lainnya apakah menyangkut masalah2 
dipersimpangan2 jalan….. belum lagi kalau mode bersepeda bukan lagi eksklusif 
seperti dari Jl. Rasuna Said hanya 10 bikers…. Atau dari Sudirman hanya 50 
bikers… bukan lagi sekedar ribuan orang tetapi mulai menuju angka ratusan ribu 
atau bahkan jutaan utk di Jkt
 saja misalnya…… krn bukankah sepeda masih termasuk juga ‘kendaraan pribadi’ 
dan bukan ‘angkutan massal’…. Dan padahal kota2 besar cenderung ingin 
mengembangkan sistem angkutan massalnya dn bukan angkutan pribadinya…….   
Ternyata mengembangkan jalur sepeda dikota megapolitan bukanlah perkara mudah 
dan sederhana…… krn itu merupakan pekerjaan a.l. redesign ulang jaringan jalan… 
sesuatu yg dulu tak terbayangkan….. 
Namun yg patut dicatat adlh bhw negara2 maju itu…… Canada, Jerman, Australia, 
Denmark, Perancis, Jepang, AS, Inggris  dll. mengembangkan  jalur2  sepedanya 
setelah mereka terlebih dulu menjadi negara2 kaya ….dan kota primatnya bukanlah 
kota terbesar yang merajalela spt Jakarta tempat dimana 50% migran urbannya 
menyerbu kota itu…... dan mereka nampaknya tak mendahulukan urusan jalur sepeda 
itu lbh dari urusan penanggulangan kemiskinan dan situasi berat angka 
pengangguran bangsanya…….. 
Boleh saja kita kembangkan jalur sepeda di Jakarta….. namun dapatkah sebelum 
itu atau bersamaan dgn itu kita kesampingkan dulu pola2 pikir Jakarta sentrisme 
dan monosektoralisme spt lbh amat prihatin pd satu masalah (polusi udara/ 
lingkungan) lbh dari masalah2 multisektoral gawat lainnya ...... dan bersama 
dgn para ekonom dan teknolog dapatkah kita bersama2 menanggulangi dulu masalah 
pengangguran dan perluasan kesempatan kerja bangsa?......bahkan masalah cinta 
bangsa dan negara?......dan sesudah itu baru jalur sepeda?......... salam, 
aby 
  
  
 


      

Kirim email ke