Setuju dengan pak Risfan Kalau kata Koko, mengobati sakit kanker transportasi, ya harus multi terapi dan kombinasi intervensi.
Salah satunya ya transport demand management. Mengelola demand artinya khan bisa mengalihkan demand pergerakan itu dari moda satu ke moda lain, demi efektifitas ruang. Menawarkan bersepeda juga tak serta merta menuntut menjadikannya sbg backbone sistem transportasi. Ini mah fitnah, huahahaha. Kalau di belahan benua amerika sana, debatnya lumayan seru soal bikelane... http://bikememphis.com/wordpress/index.php/2009/04/23/the-bike-lane-debate-2/ http://www.counterpunch.org/thomson07302008.html... Lihat Selengkapnya http://www.latimes.com/news/opinion/commentary/la-oe-campbell19may19,0,7811765.story http://bicycleuniverse.info/transpo/bikelanes.html http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=120457877&ps=cprs Debat diatas mempertanyakan apa worthed utk bangun bikelane? Kayaknya tulisan2 yg disediakan itu berkiblat ke apa yg ada di benua amerika sana,... kayaknya kasusnya akan beda kalau di belahan dunia lain macam di eropa, khususnya belanda, (kalau di jerman, motorist yang lebih dimanjakan)... bikelane malah paket yang tak terpisahkan dalam pembangunan infrastruktur transport jalan,....bahkan di kota-kota kecil dengan penduduk kecil dan cyclistnya gak banyak, tetap disediakan jalur sepeda... dan gak ada cerita soal bikelane yang membuat komplikasi arus lalu lintas seperti artikel-artikel tsb di atas itu soalnya mugnkin orang2nya di belanda, atu mungkin juga di negara skandinavia macam denmark/norway, udah tertanam kultur bersepedanya kali, dan law enforcementnya juga keras,.. karena kebanyakan mereka punya sepeda dan sering make sepeda, jadi tau gemanah rasanya naik sepeda di jalan raya,.. jadi ketika bawa mobil mereka selalu aware dengan pesepeda yang berseliweran,... jadi walaupun bikepath-nya atau bikelanenya memang kadang crossing dengan jalan mobil, gak serta merta meningkatkan kasus kecelakaan,... yang ada setiap pengendara mobil kalau mau melintasi/meng-cross bike lane, mereka pasti mengurangi kecepatannya,.... jadi dengan santainya pesepeda bisa lewat bike lane , walaupun di persimpangan.... karena memang pesepeda dihargai di sana,.. jadi prioritas utama,... jadi kalau ada colision/crash antara pesepeda dan mobil, yg dihukum ya si pembawa mobil, selama pesepeda tetap di jalurnya,... dan ini membuat pengendara mobil jadi selalu hati-hati, .... saya sendiri gak tau sejarahnya bagaimana kok bisa kultur bersepeda di belanda dan negara skandinavia itu bisa seperti itu,... mungkin karena mereka itu bukan negara yang tidak punya industri otomotif yang dominan.... sedangkan di jerman dan amerika sana, industri otomotifnya yah memang dominan,.. dan jadi prioritas deh, termasuk prioritas memanjakan kosumen otomotifnya.... kalau kata goenawan muhammad, pernah bilang, jalan itu adalah arena politik, tarik menarik kekuasaan, dan tentu saja keberpihakan,.... dan tentu saja jadi arena konflik dan benturan kepentingan.... kekhawatiran yang diutarakan cak yo itu wajar ,.... motorist (saya percaya cuma sebagian) bisa saja mengekspresikan ketidakpuasan keberpihakannya ke mereka yang berkurang, dengan meng"hajar" para cyclist... tapi ya memang seperti itu,.... tapi apakah kalau tidak ada bikelane, akan mengurangi kecenderungan para motorist untuk "menghajar" para cyclist.... ?? jadi konflik itu selalu ada,.... kalau menurut saya, bisa saja pembangunan bike lane ini patut didukung karena ini persoalan keberpihakan, dan masalah redistribusi 'kuasa', jadi para cyclist yang 'lemah' (thus, they are vulnerable) bisa sedikit mendapatkan kuasa biar seimbang, ketika 'beradu' dengan motorist,.... soalnya kalau tanpa bikelane, tak ada kuasa yang dimiliki cyclist yang mengimbangi 'benturan' antara cyclist dan motorist,.... selain helmnya tentu saja.... sebenarnya bisa saja sebuah peraturan perundangan yang lugas dan tegas bisa memberikan 'kuasa' ke pesepeda (dan pejalan kaki) ketika bertarung kepentingan di jalan dengan motorist,... Tapi peraturan yang lugas dan tegas seperti itu gak ada,.. peraturan mungkin ada, tapi kayaknya gak lugas dan gak tegas,.... ditambah law enforcement yang lemah tentu saja,... jadi bukan sekedar efisiensi/efektivitas, kalau udah dibangun kok cuman dipake 1-2 orang saja,.... tapi ini bisa jadi simbol pembagian kekuasaan, artinya si pembangun bikelane menyadari adanya satu kelompok pengguna jalan yang mungkin sedikit diberi keberpihakan,... dan tak perlu berbeban moral,... apalagi seperti kata orang: "Kalau ngegowes 10 km dengan beban di hati, ya jadinya kerasa gowes 100km, tapi kalau gowes dengan enjoy tanpa beban, gowes dari pamulang ke ancol kerasa gowes 5 km." hehehehehehee jadi kalau saya sih senang saja kalau dikasih bikelane,.... saya tentu saja suka dimanja dengan jalur khusus sepeda ketika bersepeda,... kalau pemda dki mau bangun, hepi tentu saja kalau tidak, ya tetap gowes saja,... Eh, sudah baca kompas beberapa hari lalu? Soal keseriusan kota jakarta selatan ingin membangun jalur sepeda dr lebakbulus ke sudirman. Knapa bisa gitu, karena si pemutus keputusan untuk membuat bikelane itu memang karena dia sudah merasakan bagaimana rasanya bersepeda. Mau kenalan ama pak walikota jaksel? Bisa tiap jumat ke taman ayodya blokm, tempat dia briefing dengan staff2nya yang beronthel-ria, dan kadang - kadang mentraktir sarapan para pesepeda pekerja seperti saya. Mungkin seperti itu, butuh ngerasain bagaimana rasanya bersepeda ke tempat kerja. Kota-kota di Belanda ada jalur sepeda karena para pengambil keputusanya ya pernah ngerasakan nyepeda ke tempat kerja. Sama seperti London, walikotanya ngegowes ke kantor, jadinya tau memang harus bagaimana menyikapi soal fenomena bersepeda. Bagaimana kalau sambil berdiskusi seperti ini kita juga coba bersepeda ke tempat kerja? Ada yg berani coba? Bersepeda ke kantor di kota? Biar gak xenophobia, artinya gak phobia dengan sesuatu yg asing belum dikenal dengan benar, kalau udah ngerasakan sendiri khan udah gak phobia lagi hehehehe. Woiya coba kunjungi arsip di blog saya (http://bdwiagus.blogspot.com , ada beberapa tulisan soal nyepeda ke tempat kerja: bagaimana bike to work itu bisa menjawab trend mengkhawatirkan bertambahnya penyakit2 tidak menular (stroke, diabetes, dll) krn warganya kurang beraktivitas, ada tulisan pengalaman nyepeda perdana ke kantor yg adalah sebuah pertarungan di belantara kota, dan gemanah kota mestinya mau bersahabat dengan sepeda dan berani berbuat sesuatu daripada sekedar berromantisme dengan masa lalu "wah dulu sepeda ramai di mana2" dan berani membalikkan trend, dan jangan mau dihanyutkan oleh trend lain yg dirasa gak pas *maaf kepanjangan...* salam gowes kring-kring gemerincing Dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss...!!! -----Original Message----- From: Risfan Munir <[email protected]> Date: Sat, 12 Dec 2009 10:56:19 To: <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Trims Bang Ibnu, Tapi penataan ruang bukan cuma sisi rencana alokasi ruang kan? Kampanye mengurangi demand dengan alih mobil ke sepeda pada kawasan yang mungkin kan juga termasuk "gerakan penataan ruang toh". Langkah-langkah kecil yg bisa dikerjakan saat ini. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Ibnu Taufan <[email protected]> Sent: Saturday, December 12, 2009 10:06 AM To: Milis Referensi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Cak Risfan, Kalau sepertiga aja bupati/walikota mau ke kantor naik sepeda wah luar biasa !! Sebagian besar kota/kab khan 'pendopo' dekat sama kantor pemda yaa ... Meski, ternyata bersepeda yg sedang jadi trend gaya hidup gak murah juga yaa ... Teman2 yg keranjingan bike on weekend lumayan juga expenses utk sepeda plus atributnya... Tapi ya tetap bagus untuk lebih sehat dan ..lingkungan! ..lalu insya Allah lebih serius ngurus tata ruang yaa .. IBNU TAUFAN, PNPM Mandiri Perkotaan Jakarta Selatan, Indonesia from Mobile BlackBerry®INDOSAT -----Original Message----- From: Risfan Munir <[email protected]> Date: Sat, 12 Dec 2009 06:51:19 To: <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Dear all, Di Indonesia kita punya 500 kota lebih. Barangkali yang sulit ditempuh dgn sepeda cuma 50 kota. Yaitu kota besar atau topografinya curam. Jadi perkara bersepeda ini sebetulnya layak teknis. Hanya soalnya adalah budaya. Kita umumnya ingin punya mobil, setidaknya motor. Ini wajar. Tapi secara bertahap gengsi dan peran bersepeda demi kesehatan diri, lingkungan ini perlu dikampanyekan terus. Sekarang di kompleks perumahan, kalau mau ke toko di depan komplek, sebetulnya kan enak bersepeda, krn ngeluarin mobil kan repot, parkir lbh repot lagi. Di komplek rumah saya ada SD/SMP favorit, tiap pagi macet gara2 anak-anak diantar mobil sampai depan kelas (kalau bisa). Padahal mayoritas siswa dalam radius maks 3 km. Sebaiknya orang tua membiasakan anaknya bersepeda kalau sudah kelas 5 ke atas. Dulu adik saya suka sepeda mini karena Chica Koeswoyo di film pake. Strategi sejenis bisa diterapkan. ITB misalnya, penuh mobil parkir, padahal setidaknya 20 persen civitas akademikanya dalam jarak kurang dari 2 km. Jadi soalnya ialah BUDAYA (peduli lingkungan), karena mayoritas kota-kota kita kecil kok. Kalau dari Tangerang, Bekasi ke Jkt ya perlu niat tinggi. Tapi kalau di Cianjur, Tebing Tinggi, Enrekang, Besuki, atau di metropolitan tapi di sekitar kompleks perumahan (ke toko, apotek, kursus) kok kayaknya gak ada alasan untuk tidak pakai sepeda. Kepada mereka bisa dikampanyekan budaya 'pola sehat' dan 'pengurangan pemanasan global' ini. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: franciska windy <[email protected]> Sent: Friday, December 11, 2009 7:32 PM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? halo rekan2, baru melihat ada diskusi tentang jalur sepeda. menarik sekali melihat diskusi tentang sepeda , juga apakah bisa diterapkan di indonesia. buat saya di belanda melihat bagaimana teknik sepeda berkembang menarik sekali-dari segi sepeda dan pengguna. Awal2 di sini sempat amazed melihat orang2 bisa ikat sepatu di sepeda, narik koper sambil sepeda, pake payung di sepeda, pake jas di sepeda, makan di sepeda dll. Sedikit share tentang sepeda di belanda. Karena budaya bersepeda sudah lama di belanda (dan mungkin di beberapa tempat di eropa), banyak teknik2 yang dikembangkan tentang sepeda (jadi mempermudah pemakainya). ini salah 1 contoh banyaknya parkiran sepeda di depan stasiun sepeda dari awal beli sudah dilengkapi dengan lock - built in. tapi tentu saja itu tidak cukup jadi banyak variasi kunci sepeda yang dijual (meski ga 100% menjamin.kadang sudah dilock double juga masih dicolong ) banyak tempat parkir sepeda baik di outdoor maupun indoor. banyak orang juga membawa sepeda lipat.sepeda ini boleh dibawa di kereta tanpa membayar (sepeda lain juga boleh tapi harus bayar) sekarang juga sudah ada e-bike (electric bike). electric bike ini didesign awalnya untuk para manula agar tidak terlalu capek,tapi sekarang ini bahkan banyak orang membeli e-bike ini (bukan manula) ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

