Saya kira ini masalah pilihan, tidak semua orang bersedia berkeringat (walaupun sehat) dan menggunakan trik2 agar tidak hitam, dsb... tidak semua orang mampu/kaya mau menjadi bobo (bourgeois bohemian) walaupun bersepeda banyak manfaatnya... dan saya kira masalah pilihan ini bukan mitos, alasan pilihannya saja yg berbeda2, ada yg faktor kultur, kesehatan, dll... ini juga terjadi tidak di Indonesia saja, bukan? Bahkan di Belanda juga banyak yg tidak memilih menggunakan sepeda, tapi tramway atau bus...
Prof saya di Belanda dulu orang Inggris, John Howe, prof transport... dia bilang kalau dia senang di Belanda karena dari rumah ke kampus, ke toko, dll cukup naik sepeda... di rumahnya di Inggris utk beli odol dia harus keluar naik mobil... istrinya orang Amerika jadi dia sering meluangkan waktu di US...dia bilang, jangan harap anda minta saya naik sepeda di US, apalagi sepeda cewek (dia gendut jd tdk bisa naik sepeda laki2 yg ada besi di tengahnya), saya akan jadi bahan tertawaan kalau naik sepeda... ini cerita dia akhir tahun 90 an, entah sekrg bagaimana di US... jadi ini juga masalah persepsi sebuah society memandang sesuatu... kenyamanan kendaraan bermotor tidak semu karena memang nyaman, dan ini juga bukan mitos...mungkin bung DwiAgus berpendapat berbeda, silakan saja, saya sendiri pengguna sepeda di Belanda dulu, bahkan semasa tahun pertama di ITB... tapi bagi saya naik kendaraan bermotor itu memang nyaman... bahkan di Belanda juga banyak yg berpendapat yg sama, yah kalau tidak maka tramway, bus, subway tidak akan laku... Jadi sekali lagi, ini masalah preferensi saja yg alasannya bermacam2... Di Paris dan subsurbs nya ada sepeda turis yg bisa kita sewa seharga 1 euro per hari... Tapi melihat bagaimana sebagian orang Perancis mengemudi, rasanya mohon maaf deh... Tapi kalau bersepedanya di daerah2 tua seperti Latin Quarter, saya juga akan senang sekali bersepeda di sana...:) xenophobia bukan ketakutan akan sesuatu yg asing, tapi akan orang asing, dari greek xenos (foreigner, stranger) dan phobos (fear), makanya sy bilang lebih tepat sepedaphobia :) salam. --- On Sun, 12/13/09, Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> wrote: From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? To: [email protected] Date: Sunday, December 13, 2009, 3:51 AM Halah, kok hidup dwiagus, pak? Huahaha Kalaow kata abege sekarang: "lebay" ah. Hehhee Kalaow mau jadikan ikon, itu tuh pioneer dan penggagas bike to work di jakarta. Yang mau mematahkan mitos kenyamanan semu kendaraan bermotor. Dan karena gerakan mereka, sekarang sudah cukup byk orang yang mau dan berani melepas diri dari mitos itu, walaupun waktu kecil mereka sudah naik mobil, atau dimanjakan oleh motor, tapi mau aja kemudian repot-repot nyepedah ke kantor. Berkeringat, bau matahari, ribet sana-ribet sini. Jadi kalow kata Koko, ada mitos. Lantas sekarang pilihannya, kita mau hidup dengan mitos itu atau mematahkannya? Salam gowes kring-kring gemerincing Dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!!From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Date: Sun, 13 Dec 2009 06:52:48 +0700To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? Icon bersepeda, Risa Suseanty lagi, sang peraih emas Indonesia pertama di SEAGames. Setelah kemarin satu halaman penuh di Kompas, hari ini sehalaman penuh di Koran Tempo. Hidup Dwiagus! Salam, Risfan Munir From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Sent: Saturday, December 12, 2009 10:35 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? Tks Mas Dwiagus.. Atas pranala (link) yg membuka wawasan.. Kita sering kurang percaya diri menghadapi 'kenyataan' 'kebiasaan masy/gaya hidup'.. Padahal credo nya planner adalah ”physical determinism" : yg mempostulatkan bahwa intervensi fisik dapat merubah perilaku.. Plus kita bumbui sedikit dengan micro-economics; bagaiman perilaku konsumen terhadap sinyal2 harga.. Perilaku masyarakat Belanda bersepeda bukan kehendak supranatural atau 'dari sono nye'.. Bersepeda di Belanda adalah perilaku logis menghadapi lingkungan fisik dan kebijakan fiskal: harga BBM.. Orang Belanda di Jogja cenderung naik kendaraan bermotor; sewa kijang kapsul atau taxi.. Di kawasan wisata nge-becak (lebih bernilai tourism daripada angkutan).. Sebaliknya orang Jogja di Belanda ya nggowes.. Kecuali ikut rombongan plesir dinas yg niscaya di-entertain KBRI Amsterdam.. GDP/capita Belanda 30x lipat Indonesia.. Kalao soal daya beli tentu orang Belanda rata2 bisa beli lebih dari 1 motor.. tapi orang Jogja milih beli motor daripada sepeda yg lebih murah.. Sekarang ada realita baru yg belum terjamah planner: dalam 5 tahun terakhir: minat berspeda meningkat tajam.. Sayangnya pendidikan kebijakan transportasi kita sangat bias terhadap mobil.. Coba tanya orang PU Bina Marga bagaimana mereka mendekati permasalahan transportasi? Kapasitas jalan diukur dari kemampuannya mengangkut mobil.. Apa ada mata kuliah yg membahas bagaimana merancang suatu pemukiman yg ramah sepeda? Di arsitektur&planologi pun diajari standar ketersediaan ruang parkir mobil dalam pembangunan gedung maupun kawasan.. Tidak ada standar mengenai parkir sepeda.. Itu masih dianggap aksesoris.. (Kira2, bagaiman Lefebvre&Bordieu menjelaskan ini...) Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>Date: Sat, 12 Dec 2009 14:09:44 +0000To: refere...@yahoogrou ps.com<refere...@yahoogrou ps.com>Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? Mas dan Mbak Refensier ysh; Bicara masalah upaya mendorong untuk bersepeda ria, saya sepakat bahwa itu dapat mengurangi pemborosan energi, polusi dan menambah badan sehat. Namun, realitas perkembangan yang ada sepeda motor yang lebih banyak digunakan, contohnya kota Jogya yang dulu disebut 'kota sepeda' sekarang berapa prosen yang masih bertahan dengan 'bersepeda ria' setiap hari ? Mungkin, masalahnya bukan 'iklan' motor yang lebih gencar, kiranya kita perlu melihat kenyataan/kecenderu ngan lain, misal adanya perubahan 'gaya hidup' masyarakat selain mungkin tuntutan kebutuhan yang sudah berbeda. Didekat rumah saya ada pangkalan 'ojek' yang setiap hari mangkal sekitar 15 peng-ojek motor, mereka pada dasarnya adalah pengangguran sementara (banyak yang bisa jadi tukang bangunan atau pekerjaan serabutan lain, kalau ada pesanan). Sambil nunggu kerjaan tetap, mereka sejak jam 05.00 sampai 19.00 mencari tambahan dengan sepeda motor (sewaan atau kreditan), penghasilan bersih rata-2 sehari antara Rp. 20.000 s/d 30.000,-. Mungkin banyak pangkalan ojek-motor yang tersebar dimana-mana didekat tempat anda mungkin juga ada. Nah, ini suatu kenyataan yang perlu diamati, apakah ojek-sepeda dapat menggantikannya ? Mungkinkah kita dapat memberikan solusi terbaik untuk keberadaan sepeda motor (tidak hanya ojek) yang semakin menjamur ini ? Seperti: jalur jalan, tempat parkir, keamanan, pengurangan polusi suara & udara dari knalpotnya, dll. semoga tulisan ini bermanfaat. Wassalam, Onnos. To: refere...@yahoogrou ps.com From: harya.setyaka@ gmail.com Date: Sat, 12 Dec 2009 06:53:22 +0000 Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? Sya kira dimana iklan kendaraan bermotor selalu lebih agresif daripada iklan sepeda.. Apakah di Belanda ada pengecualian? Artis2 top nya pada mengiklankan sepeda dan bukan kend bmotor? Mungkin yg mengecualikan Belanda adalah harga bensinnya.. Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>Date: Fri, 11 Dec 2009 20:53:09 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Iklan sepeda selama ini kalah jauh dengan iklan motor, apalagi mobil. Jadi pantaslah motor dan mobil mendominasi gaya hidup dimana-mana. Tampaknya sepeda vs kendaraan bermotor akan memasuki pola Cicak lawan Buaya heheeee.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 12/12/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 12, 2009, 10:44 AM Intermezo, Emas pertama Indonesia di SEA Games 2009 diraih oleh atlet "balap sepeda" Risa Suseanty di nomor downhill. Selamat! Saya kira akan baik kalau dia dijadikan ikon promo bersepeda (kayak iklan ..yg pake Rossi) itu lho. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Saturday, December 12, 2009 9:27 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Pak Risfan, uraian panjenengan memperkuat tesis saya, bahwa untuk ber-arsitektur ria atau ber-planning ria kita mesti melihat awalnya dari titik yang lain, tidak langsung ke arsitektur atau planning. Tentu ini bukan sebuah pelarian atas ketidakmampuan berarsitektur atau berplanning, melainkan sebuah kesadaran bahwa arsitektur dan tata keruangan ada di dalam jaring-jaring kehidupan, bukan perkara yang terisolasi atau terpisah dari sistem yang lain Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger

