kalao ngomongin posmo ya dalam bingkai tradisi filsafat barat..
sedangkan Zen masuk timur..
dalam tradisi filsafat barat, hal-2 yg "baru" ini di-label-i posmo..

arsitektur posmo juga dibantu oleh komputerisasi design..
dulu sulit bkin lengkung-2 dan garis-2 tak beraturan.. antara lain, sulit
dihitung strukturnya (utk konstruksinya..)..

kayak fashion ajaa.. ada bosen nya.. lalu ada yg baru, tapi masih kecipratan
pengaruh lama..

salam,
-K-

================
Harya Setyaka

973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603
Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978
Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4





2009/12/15 Risfan Munir <[email protected]>

>
>
> Pak Djarot ysh,
>
> Kalau anak muda Jepang berfashion Harajuku gitu kali Pak Djarot ya?
>
> Tapi minimalis yang Bapak maksud apa sama dengan simplicity. Karena kalau
> simplicity dasarnya kan bukan irit saja kan. Entah awal mula simplicity di
> Barat. Tapi di Jepang kan terkait filosofi Zen yang memang cenderung simple,
> meminimalkan 'intervensi' terhadap alam.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
> ------------------------------
> From: Djarot Purbadi <[email protected]>
> Sent: Wednesday, December 16, 2009 4:50 AM
> To: [email protected]
>
> Subject: RE: [referensi] Re: posmo
>
>
>
> Pak Risfan, saya tahunya hanya di arsitektur
>
> Untuk menjelaskan Posmo tentu tidak lepas dari kaitannya dengan arsitektur
> klasik dan modern. Arsitektur modern kan lahir dari (antara lain) kebosanan
> para arsitek pada ornamen atau pernik-pernik arsitektur klasik. Dengan
> adanya material baru (besi, beton, kaca dsb), keterbatasan arsitektur klasik
> dapat dilampaui, ruang-ruang jadi lebih lebar, bukaan-bukaan jadi lebih luas
> (maka arsitektur serba kaca pernah menjadi idola). Orang begitu mendesakan
> yang modern, sampai ada yang mengatakan ornament adalah kejahatan...sekarang
> cucunya hadir di Indonesia yaitu arsitektur minimalis....tetapi rasanya
> motivasinya tidak sama alias karena keterbatasan dana !
>
> Setelah sekian lama, ternyata arsitektur minimalis yang serba garis dan
> kotak lurus membosankan juga, maka orang mulai mengingat gaya-gaya masa lalu
> yang menarik. Tahap berikutnya, lahirlah kosmo, yang mencoba mengangkat
> elemen arsitektur masa lalu dipadukan dengan elemen masa kini. Awalnya
> eklektis alias campur-campur begitu saja tanpa pemikiran mendalam, tetapi
> kemudian tampaknya para arsitek semakin cerdas sehingga mampu mengolah
> warisan masa lalu dan menggabungkan dengan elemen-elemen modern menjadi
> karya yang lebih punya makna.
>
> Dilihat sepintas semacam itu, posmo bisa dianggap merupakan terusan dari
> modernisme atau merupakan obat - jalan keluar dari kebuntuan arsitektur
> modern. Melihat posmo memang disa bermacam-macam, minimal dua itu.
> Aliran-aliran posmo dalam wacana para ahli kemudian berkembang menjadi
> rumit....
>
> Gejala posmo (atau eklektisme) sebenarnya terjadi dimana-mana, termasuk
> makanan, pakaian, lagu-lagu, kendaraan atau apapun. Pakaian prajurit kraton
> Jogja yang menggabungkan pakaian tradisional Jawa termasuk blankon-nya
> dengan elemen lain lalu lahir pakaian yang lebih gaul bisa jadi juga
> termasuk posmo.
>
> Fenomena posmo ini sebenarnya menarik, dan menjadi peluang kreativitas
> serta inovasi baru dalam kemacetan pemikiran atau karya....jika dibilang
> eklektisme konotasinya cenderung negatif...posmo kan keren, dimata
> mahasiswa. Sementara begitu Pak, belum terlalu jelas sebab saya sendiri
> hanya mendalami sepintas saja...
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Wed, 12/16/09, Risfan Munir <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Risfan Munir <[email protected]>
> Subject: RE: [referensi] Re: posmo
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, December 16, 2009, 3:30 AM
>
>
>
> Pak Djarot ysh,
>
> Saya jujur ingin tanya ke Anda, karena ke orang lain malu. Sebetulnya
> "posmo" itu makanan apa sih Pak? Kalau makan "nasi goreng dicampur rawon"
> termasuk posmo kah?
>
> Kalau di arsitek/desain kok yang saya pahami itu bangunan modern yang
> "dicuil dikit ujungnya", atau 'garis lurus, tiba2 bagian tengahnya dibuat
> bergerigi" (?). Artinya, tetap mainstream modern, tapi dimodifikasi (?)
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
> ------------------------------
> From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> Sent: Wednesday, December 16, 2009 2:24 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: [referensi] Re: posmo
>
>
>
> Pak Eka, jika pemikir posmo (kebetulan saya belum terlalu mendalami),
> adalah mereka yang memiliki banyak pijakan alias multi-disipliner, tampaknya
> milis ini akan menjadi semakin menarik apabila orang-orang yang
> "berkaki-seribu" atau "bergoyang maut" ini mendapat ruang yang cukup untuk
> mengungkapkan pemikiran-pemikiran nya. Tetapi, jika posmo hanya gaya sesaat
> apalagi hanya kosmetik, ya biarkan juga. Nah, jangan kaget juga ya jika
> suatu saat ada planner atau arsitek yang pemikir kosmo bergaya seperti Inul
> Daratista, ...... nggak perlu dimarahi seperti Mbah Rhoma Irama memarahi
> Inul, sampai-sampai Inul harus meminta maaf menyembah-nyembah di bawah
> kakinya dan diekspose di media heheheeee... ..padahal biangnya ndangdut ya
> Rhoma sendiri...kok kaget ketika cucunya bergoyang maut meneruskan gaya
> dia.....
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On *Tue, 12/15/09, ffekadj <4ek...@gmail. com>* wrote:
>
>
> From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: posmo
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 1:29 PM
>
>
>
>
> Benar Pak Djarot, sebenarnya itu kesan saja. Dalam tafsiran baru sudah
> dikembangkan secara lebih metodologis berdasarkan pengalaman penulisan
> dan pemikiran. Mungkin dimulai masa Derrida dan Habermas (belum baca)
> dan penerusnya yang cukup populer yaitu Foucault Kuncinya adalah
> dekonstruksi, jadi bisa penggalian jauh ke belakang dengan tafsiran
> baru. Istilah lain dalam konteks masyarakat adalah post-strukturalis.
> Proses ini tidak ada capainya, karena bisa diuji dengan berbagai realita
> baru. Biasanya pemikir posmo yang berbakat berasal dari
> multi-disipliner. Seperti Foucault, sebelum menjadi filsuf dan sosiolog,
> juga mendalami psikologi dan sejarah. Karena dekonstruktif dan
> penguraian, maka bisa muncul banyak 'kebenaran' dari berbagai sisi. Hal
> ini selanjutnya disebut paradox. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
> >
> > Pak Eka, sejauh saya tahu, posmo itu penghalusan dari terminologi
> "ndangdut", yang arti sebenarnya adalah campur-campur alias eklektik
> tetapi disertai dengan kecerdasan. Nah apakah di dalamnya juga termasuk
> ada "perasaan" atau tidak saya kurang paham, sebab pemahaman saya
> tentang posmo juga terbatas. Mangunwijaya konon juga termasuk kategori
> posmo, kata seorang kritikus, dan dalam bahasa saya itu berdangdut
> ria...kerenlah jika dikatakan posmo. Kalau dikatakan eklektis
> konotasinya kadang negatif. Muridnya yang menjadi teman saya, Eko Agus
> Prawoto, menurut kajian kami juga termasuk "pemulung" yang cerdas,
> karena ketika keliling kampung-kampung kemudian mengangkat kreativitas
> orang kampung ke dalam karyanya, jadilah karya yang dikagumi.... dosen
> yang kurang meneliti, bahan pengajarannya hanya dari tulisan orang lain
> atau buku teks juga pemulung ya.....
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com <http://realmwk.wordpress.com> [Blog
> Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com <http://forumriset.wordpress.com>[Blog 
> > Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. 
> > com<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com>
> >
> > --- On Mon, 12/14/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
> >
> > From: ffekadj 4ek...@...
> > Subject: [referensi] posmo
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Monday, December 14, 2009, 8:07 PM
> >
> > Pak Aby dan Referensiers ysh.
> >
> >
> >
> > Ini bukan karena ada iming2 Rolex, tapi saya sungguh terkesima dengan
> >
> > tulisan di bawah, sehingga perlu meng-quot secara khusus. Bila
> >
> > diperhatikan sepertinya si penulis sudah mendalami
> >
> > Derrida+Habermas+ Foucault[ +Aby] dan telah mencapai tingkatan
> 'ma'rifat'.
> >
> > Formatnya dekonstruktif, hybrid, multi-fungsi sehingga bisa paradox;
> >
> > merupakan ciri-ciri post-strukturalism atau juga post-modernism. Ini
> >
> > merupakan tantangan bagi format rencana dan kebijakan masa kini, yang
> >
> > seharusnya tidak lagi linier, dan seharusnya juga bergerak secara
> posmo.
> >
> > Sepertinya kita memang saatnya untuk berubah. Salam.
> >
> >
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ .> wrote:
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Mungkin hal ini bukan mitos, juga bukan soal gengsi, mari kita tanya
> >
> > apakah tukang ojek lebih menyukai sepeda motor atau sepeda..berikut
> >
> > wawancara dgn salah satu tukang ojek, kenapa milih motor bang?
> >
> > >
> >
> > > 1. jelas kagak capek bang, emang situ nyang mau ngerokin kalo aye
> >
> > masuk angin?
> >
> > > 2. yeh penumpang pasti bakal milih sepeda motor nyang lebih cepet
> dan
> >
> > jarak jangkaunya lebih jauh, kalau perlu dr sudirman ane bisa nganter
> >
> > sampe ke bandara sukarno hatta..tinggal harganya cocok enggak sama
> >
> > abang...enak aje abang nyuruh ane ganti ke sepeda, kalo penumpang
> >
> > langganan ane pindah naek ojek si Mi'un pegimane? emang abang mau
> >
> > ngongkosin makan anak bini aye?
> >
> > > 3. pasaran harga jual second lebih stabil, liat aja noh poskota,
> jadi
> >
> > kalau hasil ngojek kagak bisa buat bayar cicilan motor ya tinggal jual
> >
> > lagi aja..beres.. .yeh abang sih enak bisa bilang kalo sepeda juga
> harga
> >
> > jual secondnya tinggi, mana buktinya? kalo ane jual sepeda lipet entar
> >
> > disangka hasil colongan lagi, ane kan kagak tampang pake sepeda
> lipet..
> >
> > > 4. emisi? EGP, ini sih urusan orang2 kebanyakan duit..buat makan
> dan
> >
> > bayar sekolah anak aja susah boro2 mikirin emisi...waktu Bush kagak
> mau
> >
> > nanda tangan protokol kyoto aja yg laen diem aje, kenapa ane yg
> disuruh
> >
> > capek2 mikirin soal emisi? emang entu mau sepeda koleksinya nyang
> nyampe
> >
> > 3 biji dijual dua buat ngebayarin sekolah anak2 ane?
> >
> > > 5. mitos? enak aje ente bilang mitos, ente sih gaulnya ama orang
> >
> > gedongan mulu, sepeda aja koleksi banyak... nah ane? beliin buat si
> >
> > Saropah nyang udah SMP aja ane kagak sanggup...jangan dikit2 ngecap
> >
> > mitos dong bang, ente kayak Orba aje kalo gak sependapat dicap
> >
> > PKI...bagus juga kalo ente baca apa itu eksepsieun palasi (mungkin
> >
> > maksudnya exception fallacy), biar kagak stereotaiping mulu, baru
> >
> > ngeliat satu orang tukang ojek sepeda ubanan dikira semua orang ubanan
> >
> > mau ngojek sepeda...
> >
> > >
> >
> > > (wawancara dgn Ujang, tukang ojek post modernist).. .
> >
> > >
> >
> > > salam :)
> >
>
>
>
>  
>

Kirim email ke