Ya. kata kuncinya memang bukan minimalis Pak Ris, yang benar panjenengan: simplicity dalam perlawanan dengan ornamentally. Kalau Zen saya kira juga simplicity tetapi dasar pijakannya berbeda, ya kesederhanaan transenden, begitukah ? Simplicity dalam arsitektur barat barangkali lebih rasionalistik.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Wed, 12/16/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: posmo To: [email protected] Date: Wednesday, December 16, 2009, 5:49 AM Pak Djarot ysh, Kalau anak muda Jepang berfashion Harajuku gitu kali Pak Djarot ya? Tapi minimalis yang Bapak maksud apa sama dengan simplicity. Karena kalau simplicity dasarnya kan bukan irit saja kan. Entah awal mula simplicity di Barat. Tapi di Jepang kan terkait filosofi Zen yang memang cenderung simple, meminimalkan 'intervensi' terhadap alam. Salam, Risfan Munir From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Wednesday, December 16, 2009 4:50 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] Re: posmo Pak Risfan, saya tahunya hanya di arsitektur Untuk menjelaskan Posmo tentu tidak lepas dari kaitannya dengan arsitektur klasik dan modern. Arsitektur modern kan lahir dari (antara lain) kebosanan para arsitek pada ornamen atau pernik-pernik arsitektur klasik. Dengan adanya material baru (besi, beton, kaca dsb), keterbatasan arsitektur klasik dapat dilampaui, ruang-ruang jadi lebih lebar, bukaan-bukaan jadi lebih luas (maka arsitektur serba kaca pernah menjadi idola). Orang begitu mendesakan yang modern, sampai ada yang mengatakan ornament adalah kejahatan.. .sekarang cucunya hadir di Indonesia yaitu arsitektur minimalis... .tetapi rasanya motivasinya tidak sama alias karena keterbatasan dana ! Setelah sekian lama, ternyata arsitektur minimalis yang serba garis dan kotak lurus membosankan juga, maka orang mulai mengingat gaya-gaya masa lalu yang menarik. Tahap berikutnya, lahirlah kosmo, yang mencoba mengangkat elemen arsitektur masa lalu dipadukan dengan elemen masa kini. Awalnya eklektis alias campur-campur begitu saja tanpa pemikiran mendalam, tetapi kemudian tampaknya para arsitek semakin cerdas sehingga mampu mengolah warisan masa lalu dan menggabungkan dengan elemen-elemen modern menjadi karya yang lebih punya makna. Dilihat sepintas semacam itu, posmo bisa dianggap merupakan terusan dari modernisme atau merupakan obat - jalan keluar dari kebuntuan arsitektur modern. Melihat posmo memang disa bermacam-macam, minimal dua itu. Aliran-aliran posmo dalam wacana para ahli kemudian berkembang menjadi rumit.... Gejala posmo (atau eklektisme) sebenarnya terjadi dimana-mana, termasuk makanan, pakaian, lagu-lagu, kendaraan atau apapun. Pakaian prajurit kraton Jogja yang menggabungkan pakaian tradisional Jawa termasuk blankon-nya dengan elemen lain lalu lahir pakaian yang lebih gaul bisa jadi juga termasuk posmo. Fenomena posmo ini sebenarnya menarik, dan menjadi peluang kreativitas serta inovasi baru dalam kemacetan pemikiran atau karya....jika dibilang eklektisme konotasinya cenderung negatif...posmo kan keren, dimata mahasiswa. Sementara begitu Pak, belum terlalu jelas sebab saya sendiri hanya mendalami sepintas saja... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 12/16/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: posmo To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, December 16, 2009, 3:30 AM Pak Djarot ysh, Saya jujur ingin tanya ke Anda, karena ke orang lain malu. Sebetulnya "posmo" itu makanan apa sih Pak? Kalau makan "nasi goreng dicampur rawon" termasuk posmo kah? Kalau di arsitek/desain kok yang saya pahami itu bangunan modern yang "dicuil dikit ujungnya", atau 'garis lurus, tiba2 bagian tengahnya dibuat bergerigi" (?). Artinya, tetap mainstream modern, tapi dimodifikasi (?) Salam, Risfan Munir From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Wednesday, December 16, 2009 2:24 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: posmo Pak Eka, jika pemikir posmo (kebetulan saya belum terlalu mendalami), adalah mereka yang memiliki banyak pijakan alias multi-disipliner, tampaknya milis ini akan menjadi semakin menarik apabila orang-orang yang "berkaki-seribu" atau "bergoyang maut" ini mendapat ruang yang cukup untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran nya. Tetapi, jika posmo hanya gaya sesaat apalagi hanya kosmetik, ya biarkan juga. Nah, jangan kaget juga ya jika suatu saat ada planner atau arsitek yang pemikir kosmo bergaya seperti Inul Daratista, ...... nggak perlu dimarahi seperti Mbah Rhoma Irama memarahi Inul, sampai-sampai Inul harus meminta maaf menyembah-nyembah di bawah kakinya dan diekspose di media heheheeee... ..padahal biangnya ndangdut ya Rhoma sendiri...kok kaget ketika cucunya bergoyang maut meneruskan gaya dia..... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 12/15/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: ffekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] Re: posmo To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, December 15, 2009, 1:29 PM Benar Pak Djarot, sebenarnya itu kesan saja. Dalam tafsiran baru sudah dikembangkan secara lebih metodologis berdasarkan pengalaman penulisan dan pemikiran. Mungkin dimulai masa Derrida dan Habermas (belum baca) dan penerusnya yang cukup populer yaitu Foucault Kuncinya adalah dekonstruksi, jadi bisa penggalian jauh ke belakang dengan tafsiran baru. Istilah lain dalam konteks masyarakat adalah post-strukturalis. Proses ini tidak ada capainya, karena bisa diuji dengan berbagai realita baru. Biasanya pemikir posmo yang berbakat berasal dari multi-disipliner. Seperti Foucault, sebelum menjadi filsuf dan sosiolog, juga mendalami psikologi dan sejarah. Karena dekonstruktif dan penguraian, maka bisa muncul banyak 'kebenaran' dari berbagai sisi. Hal ini selanjutnya disebut paradox. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote: > > Pak Eka, sejauh saya tahu, posmo itu penghalusan dari terminologi "ndangdut", yang arti sebenarnya adalah campur-campur alias eklektik tetapi disertai dengan kecerdasan. Nah apakah di dalamnya juga termasuk ada "perasaan" atau tidak saya kurang paham, sebab pemahaman saya tentang posmo juga terbatas. Mangunwijaya konon juga termasuk kategori posmo, kata seorang kritikus, dan dalam bahasa saya itu berdangdut ria...kerenlah jika dikatakan posmo. Kalau dikatakan eklektis konotasinya kadang negatif. Muridnya yang menjadi teman saya, Eko Agus Prawoto, menurut kajian kami juga termasuk "pemulung" yang cerdas, karena ketika keliling kampung-kampung kemudian mengangkat kreativitas orang kampung ke dalam karyanya, jadilah karya yang dikagumi.... dosen yang kurang meneliti, bahan pengajarannya hanya dari tulisan orang lain atau buku teks juga pemulung ya..... > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Mon, 12/14/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] posmo > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Monday, December 14, 2009, 8:07 PM > > Pak Aby dan Referensiers ysh. > > > > Ini bukan karena ada iming2 Rolex, tapi saya sungguh terkesima dengan > > tulisan di bawah, sehingga perlu meng-quot secara khusus. Bila > > diperhatikan sepertinya si penulis sudah mendalami > > Derrida+Habermas+ Foucault[ +Aby] dan telah mencapai tingkatan 'ma'rifat'. > > Formatnya dekonstruktif, hybrid, multi-fungsi sehingga bisa paradox; > > merupakan ciri-ciri post-strukturalism atau juga post-modernism. Ini > > merupakan tantangan bagi format rencana dan kebijakan masa kini, yang > > seharusnya tidak lagi linier, dan seharusnya juga bergerak secara posmo. > > Sepertinya kita memang saatnya untuk berubah. Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ .> wrote: > > > > > > > > > Mungkin hal ini bukan mitos, juga bukan soal gengsi, mari kita tanya > > apakah tukang ojek lebih menyukai sepeda motor atau sepeda..berikut > > wawancara dgn salah satu tukang ojek, kenapa milih motor bang? > > > > > > 1. jelas kagak capek bang, emang situ nyang mau ngerokin kalo aye > > masuk angin? > > > 2. yeh penumpang pasti bakal milih sepeda motor nyang lebih cepet dan > > jarak jangkaunya lebih jauh, kalau perlu dr sudirman ane bisa nganter > > sampe ke bandara sukarno hatta..tinggal harganya cocok enggak sama > > abang...enak aje abang nyuruh ane ganti ke sepeda, kalo penumpang > > langganan ane pindah naek ojek si Mi'un pegimane? emang abang mau > > ngongkosin makan anak bini aye? > > > 3. pasaran harga jual second lebih stabil, liat aja noh poskota, jadi > > kalau hasil ngojek kagak bisa buat bayar cicilan motor ya tinggal jual > > lagi aja..beres.. .yeh abang sih enak bisa bilang kalo sepeda juga harga > > jual secondnya tinggi, mana buktinya? kalo ane jual sepeda lipet entar > > disangka hasil colongan lagi, ane kan kagak tampang pake sepeda lipet.. > > > 4. emisi? EGP, ini sih urusan orang2 kebanyakan duit..buat makan dan > > bayar sekolah anak aja susah boro2 mikirin emisi...waktu Bush kagak mau > > nanda tangan protokol kyoto aja yg laen diem aje, kenapa ane yg disuruh > > capek2 mikirin soal emisi? emang entu mau sepeda koleksinya nyang nyampe > > 3 biji dijual dua buat ngebayarin sekolah anak2 ane? > > > 5. mitos? enak aje ente bilang mitos, ente sih gaulnya ama orang > > gedongan mulu, sepeda aja koleksi banyak... nah ane? beliin buat si > > Saropah nyang udah SMP aja ane kagak sanggup...jangan dikit2 ngecap > > mitos dong bang, ente kayak Orba aje kalo gak sependapat dicap > > PKI...bagus juga kalo ente baca apa itu eksepsieun palasi (mungkin > > maksudnya exception fallacy), biar kagak stereotaiping mulu, baru > > ngeliat satu orang tukang ojek sepeda ubanan dikira semua orang ubanan > > mau ngojek sepeda... > > > > > > (wawancara dgn Ujang, tukang ojek post modernist).. . > > > > > > salam :) >

