Pak Aby ysh., Bahwa sebuah kota menjadi pusat kegiatan perekonomian tentu sudah lama diketahui umum... pertanyaannya, sampai sejauh mana? Washington DC tdk sebesar NY, Canberra pun relatif kecil...
Pertanyaan kedua, kalaupun ibu kota baru tsb tumbuh pesat, apa esensinya? jarak periphery ke pusat pertumbuhan semakin mendekat ini periphery yg mana? Papua dan Aceh tetap jauh dari Kuala Pembuang... kalau dikatakan bahwa hal ini akan menjadi kisah sukses pembangunan di kawasan terpencil, ya selama ada uang sih apa susahnya? Dubai saja bisa jadi metropolitan dunia yg tumbuh dr gurun pasir... Saya tidak anti thd pemindahan ibu kota, selama alasannya jelas... mengambil contoh Brasilia atau KL hanya akan menimbulkan pertanyaan? Mengapa mencontoh sedikit negara yg memindahkan ibu kotanya sementara banyak negara lain ibu kotanya tidak pindah2? London, Tokyo, Paris, Berlin pun kalau bukan karena Jeman kalah PD 2 juga tdk akan dipindah ke Bonn, toh buktinya sekarang kembali lagi ke Berlin...kita pindahkan ibu kota (kalau diperlukan) karena alasan yg jelas, bukan karena negara lain sukses memindahkan ibu kotanya... Jadi apa esensinya? Sementara kita tidak sekaya Uni Emirat Arab, yg Dubai nya juga sedang digoncang krisis... mungkin lebih baik digunakan utk membangun fasilitas kesehatan atau transportasi pedesaan di NTB atau NTT agar kematian ibu dan bayi dapat dikurangi... Pd dasarnya yg bapak ajukan adalah hipothesis bahwa polycentricity itu merupakan jawaban bagi kesenjangan wilayah...ini pandangan yg cukup umum, namun sayangnya pandangan ini tidak didukung oleh basis teori yg memadai (Evert Meijers banyak menulis ttg ini, misalkan di: http://www.francoangeli.it/Riviste/Scheda_Riviste.asp?IDArticolo=33745&Tipo=Articolo%20PDF salam... --- On Tue, 12/22/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Tgp (2a) Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? To: "referensi" <[email protected]> Date: Tuesday, December 22, 2009, 11:59 PM Rekan EkoBK ysh, Ttg pertanyaan (2) “Lalu kenapa kalau diplomat pindah ke Kuala Pembuang? munculnya hotel2 di sana? Apa yg hendak dicapai?”…..… Jelas bhw pusat pemerintahan… diikuti dgn berkumpulnya masyarakat diplomat internasional… diikuti oleh pembangunan berbagai fasilitas lingkungan kota pendukung lainnya… itu akan terus memicu berkembangnya aglomerasi dan perkembangan kota internasional disana….. Setengahnya yg lain sebenarnya sederhana saja…. pernyataan ini setidaknya bisa sekaligus dipakai utk menjawab pernyataan berikut ini : “…birokrat yg anak2nya sudah terlanjur sekolah di al azhar, sman 8, tarki, ui, trisakti, dan istri2nya sudah biasa belanja di pi mall, plaza senayan, dst. apakah mau memboyong keluarganya ke pedalaman kalimantan? paling2 kost di sana... lha wong yg pindah ke medan, pekan baru, dst aja milih kost kok...:)…”. Kota dan arsitektur dan estetika adlh sama dgn “mesin ekonomi”, “mesin pertumbuhan” dan “mesin penciptaan kesempatan kerja” (brkali boleh juga disebut sbg ‘mesin kehidupan’)…….…. Kota2 (besar) adlh bagian dari ruang yg telah memiliki infrastruktur kehidupan, memiliki arsitektur yg para pemiliknya bisa membanggakannya … maupun juga memiliki infrastruktur utk kemudahan produktivitas, dan umumnya memiliki fasilitas utk sebaik2 kemudahan komunikasi dgn kota2 lain domestik maupun dunia…… Kota2 (besar) adlh tempat tinggal dari para klas menengah-atas, kaum intelektual dan kelas kreatif yg menggerakkan perekonomian dan manufaktur, kehidupan sosial budaya dan mendatangkan pembaruan/ teknologi baru bagi negeri ….biasanya juga menarik utk kunjungan wisata………. Semakin banyak dan semakin tersebar merata letak (kota2) besar kita … itu sama artinya pemerataan kemajuan antar wilayah kita akan semakin baik mutunya…… krn jarak antara periferi dan pusapertumbuhan akan semakin dekat dan semakin mudah….. Kalau birokrat2 tak membawa anak2nya serta krn sudah di Terisakti, Al Azhar, istri2nya biasa ke PI dan Plaza Senayan… ya biarin saja….. pertumbuhan wilayah toh tidak hanya ditentukan oleh mereka….. sopir2 para birokrat itu akan ada saja yg membawa serta keluarganya…. Krn sbg orang kecil dan banyak berasal dari desa tidak akan canggung utk hidup didaerah yg baru berkembang… para bujangan birokratpun akhirnya akan menikah dan mungkin membawa istrinya kesana lalu lahir anak2 dan akan bersekolah SD dan SMP disana ……perusahaan2 swasta…. Sektor informal… dgn keluarganya…. semuanya akan berangsur2 membentuk aglomerasi disana…. Turis manca maupun domestik akan silih berganti datang ada saja yg pengin tahu dan lihat ibukota baru itu spt apa…….. krn kota Merdeka tentu pasti akan punya istana presiden… kota satelit… tv tower .. universitas… tempat ibadah .. taman…. zoo… shopping center… pencakar langit… jembatan2…… hotel... tempat kuliner..... . Brasilia yg dikembangkan pd 1956…. Ibukota baru dari Brazil itu juga kini berpenduduk 2,5 juta atau 3.6 juta kwsn metropolitannya… dan menjadi kota terbesar ke-4 di Brazil……. Banyak jg perusahaan nasionalnya yg berkantorpusat disana….. Brasilia berkembang tidak berbasis industri manufaktur tetapi berbasis kegiatan konstruksi dan pelayanan/ jasa2… GDPnya terbagi atas Public Administration 54.8%, Services 28.7%, Industry 10.2%, Commerce 6.1%, Agribusiness 0.2%.......... pd 1987 Unesco menetapkan Brasilia sbg bagian dari world heritage………… Selama ini apa yg banyak terjadi dgn wajah ‘pembangunan perkotaan/ wilayah’ kita spt lbh diwarnai oleh kerjaan para developer yg mengembangkan perumahan dan kawasan industri sambil milih lokasinya enak2an menggelendot menemplok saja pada kota2 besar yg sdh ada…… jd mrk tidak usah pusing2 mengembangkan aglomerasi…… tdk usah pusing2 memikirkan apa leading activities yg hrs mereka buat utk memicu tumbuhnya perekonomian baru dikawasan…. Tak usah pusing mikir siapa2 klas menengah/ atas/ klas kerah putih yg akan direkayasa ditarik utk bermigrasi/ datang dan (beli dulu) lalu tinggal dikompleks dagangan mrk…... fasilitas kotapun tak harus dibangun khusus…. krn semuanya sdh ada dan mrk tinggal menggelendot nemplok dan memanfaatkan saja fasilitas2 kota besar yg sdh ada itu…… Pdhal kita bukankah juga pengin kota2 remote spt Kupang, Kendari, Nunukan, Natuna, Merauke, Talaud atau Sibolga yg kecil2 dan jauh dari kegiatan perekonomian perkotaan skala besar itu dpt maju dan lbh modern juga dan dpt lbh menjadi piston2 yg lbh berhorse power sbg bagian dari “kota2 sbg mesin ekonomi nasional” negeri ini?..... tapi keinginan itu tak kunjung bisa dilakukan?.. ... justru krn utk perkembangan lbh lanjut kota2 spt itu harus sekaligus diciptakan amunisi utk membangkitkan aglomerasinya? ...... dan itu pekerjaan yg amat berat, mahal dan ribet?...... . Kalau ‘Kota Merdeka’ sebagai pusat pemerintahan baru jadi dibuat di Kuala Pembuang……. Walau itu bukanlah tindakan terbaik…. Jelas ia akan jadi salah satu contoh pertama yg baik di Indonesia ttg bgmn mengembangkan kota dikawsn terpencil yg jauh dari Jawa dan Jakarta……dgn medan atau lingkungan yg berat…… serba sungai ….serba rawa2 dan hutan….. serba terpencil dan belum memiliki brbg fasilitas kota yg memadai…… dgn leading activities bukan manufaktur, bukan pertanian atau industr kreatif…. Namun berupa kegiatan pemerintah pusat…….. Aneh jg kalau scholar ex negara maju bisa tidak melihat suatu nilai positip apapun yg muncul dari tindakan itu…… aplgi bhw pd saat yg sama tak pernah ada tindakan konkrit lain apapun utk meredakan primacy Jkt dan ketertinggalan/ ketimpangan wilayah yg tajam….… Bhw kenapa bukan ‘industri memimpin’ yg dipakai utk ujung tombak dekonsentrasi kota primat oleh SBY….. kenapa lbh dipilih ‘pusat pemerintahan’ sbg ‘leading acitivities’…….itu boleh jadi krn selama dlm pendidikan militernya di Fort Benning, Fort Bragg, Jungle Warfare School, Panama, atau di Belgia dan Jerman, S2 Manajemen di Missouri atau S3 Pertanian di Bogor.. SBY tak pernah ketemu dgn istilah2 ‘industri memimpin’ atau ‘leading acitivities’ atau juga tak ketemu dgn kuliah ttg visi2 pembangunan wilayah tertinggal…… bagi SBY dan banyak birokrat lain…. Apa yg SBY dan mereka lihat sbg leading acitivities barangkali bukanlah budaya industri perkotaan dan budaya manufaktur perkotaan….. namun lbh berupa governing activities saja… yg selalu forever … nggak pernah pake resesi…… nggak pernah pake sepi, jatuh bangun atau bangkrut…… tinggal tarik pajak, sedikit ngutang ke LN dan tetapkan APBN…. lalu dari situ para birokrat bisa kerja dan pensiun seumur hidup… bisa golf… istrinya bisa jalan2 ke PI atau Plaza Senayan…. anaknya bukan lagi ke Trisakti.. malah ke AS…. yg artinya dgn governing activities saja ekonomi dipandang masih bisa jalan terus seumur hidup….. salam, aby

