Koko, Bappenas ngurusi transmigrasi saya tdk tahu (bukan orang Bappenas), tapi 
yg jelas bukan saya yg ngurusi hehe...

Koko, Pak Risfan, maaf saya tidak tahu kalau sudah jadi "kementrian" karena di 
websitenya masih pakai nama "departemen"... hari gini rasanya banyak orang 
tidak hafal siapa2 saja nama menteri, beda dgn masa Pak Harto ya?  :)
http://www.nakertrans.go.id/?

Pak Risfan, saya sependapat, rasanya penjelasan bapak lebih baik dari saya...:)

salam.





--- On Tue, 12/29/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota baru (Pak Eko)
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 29, 2009, 11:38 PM







 



  


    
      
      
      Pak Ekadj dan rekans ysh,

Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota ini.
Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari eforia setelah 
kemenangan pada Pemilu kemarin.

Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam skala 
besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dalam 
jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena dari sebelumnya 
dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg salah satu jalan keluar 
persoalan ekonomi.

Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu karena "ibu 
kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi sebaiknya dipindah 
supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala masalah Jakarta.

Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan untuk 
atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin counter-magnet.
Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.

Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan ibukotanya kok 
spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula badannya. Ibukotanya 
"hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya kan tetap di tempat yang 
sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin negeri ini jauh dari yang dirasakan 
rakyatnya.

Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah pusat, 
pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi daerah 
ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita juga belum tahu 
kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali fungsi Ibukota juga lebih 
terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala negara, para menteri, duta besar dan 
sedikit para penasihat dan asistennya. Selebihnya yang operasional, lokasinya 
tidak harus di tempat yang sama. Sehingga ibukota ini bisa cukup sebagai 
"kawasan pemerintahan" di antara Balaraja dengan Serang sana, kalau akses ke 
bandara jadi pegangan.

Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih akan 
konsisten sepanjang waktu. 
Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk memperbaiki sektor 
energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan antar daerah sekarang nyata 
pd ketimpangan ketersediaan listrik.
Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia. Sehingga tidak 
ada kendala hubungan antar pulau.
Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak, pertumbuhan 
ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya sangat besar 
bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya membanjir ke kota-kota 
besar lagi.

Salam,
Risfan Munir







From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Sent: Wednesday, December 30, 2009 12:33 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] Re: Ibukota baru (Pak Eko)

  
 > Masalah Jawa sudah padat penduduknya. Mengapa ibu kotanya yg dipindah?
 Mengapa bukan manusianya yg dipindah dgn transmigrasi?

 Pak Eko ysb, mau nanya, kalau ditransmigrasikan lokasinya dimana? Trims.
 Salam.

 -ekadj

 --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote:
 >
 > Dear all,
 >
 > Saya sependapat dgn Koko dan Pak BTS, pemindahan masalah ibu kota kita
 lihat urgensinya dulu...
 >
 > Memecahkan masalah Jakarta, masalah apa?
 >
 > Masalah transportasi? apakah harus dgn memindahkan ibu kota? Tidak
 bisakah dgn pembangunan public transport yg lebih baik (subway,
 monorail, tramway, dll)? Kalau ibu kota dipindahkan apakah dgn demikian
 Jakarta dibiarkan sendirian dgn masalahnya? Kalau Jakarta ditangani dan
 ibu kota dipindahkan, punya uangkah kita?
 >
 > Masalah banjir? Tidak bisakah ditangani dgn pembangunan infrastruktur
 banjir yg memadai? Kalau ibu kota dipindahkan apakah Jakarta lalu
 dibiarkan? Kalau ditangani keduanya, adakah uangnya?
 >
 > Masalah gempa, meledaknya krakatau, ibu kota kalau begitu harus jauh
 dr Jakarta, tidak bisa di Tangerang, Jonggol, dst... Tapi lalu apakah
 ibu kotanya dipindah dan Jakarta dibiarkan saja dgn resiko seperti itu?
 yah kalau penduduk Jakarta banyak yg mati itu salah sendiri kenapa tdk
 mau pindah, begitukah?.. .
 >
 > Masalah Jawa sudah padat penduduknya. Mengapa ibu kotanya yg dipindah?
 Mengapa bukan manusianya yg dipindah dgn transmigrasi?
 >
 > Belajar dr pengalaman negara lain dan sejarah bangsa sendiri perlu,
 tetapi masalah kita yg spesifik lah yg perlu didalami sebelum
 memutuskan.. .
 >
 > Sekali lagi saya tdk anti ide pemindahan ibu kota, tapi saya kok
 menangkap kesan kita putus asa dgn masalah Jakarta lalu hendak melarikan
 diri (maaf kalau kesan saya salah)... Kenapa masalahnya tdk kita hadapi
 head on? Apakah dgn memindahkan ibu kota lalu Jakarta kita biarkan?
 Kalau tdk kita biarkan artinya kita punya 2 pengeluaran negara yg besar:
 (1) mengatasi masalah Jakarta dan (2) memindahkan ibu kota...
 >
 > ini masalah keterbatasan anggaran dan opportunity cost... ketika angka
 kematian ibu dan bayi di beberapa propinsi masih tinggi, kemiskinan dan
 pengangguran yg signifikan, tingkat persaingan dgn China dan Vietnam yg
 menajam, krisis ekonomi yg belum sepenuhnya pulih, dst.. tentu kalau
 anggaran pemerintah kita tdk terbatas tidak ada masalah..
 >
 > salam.



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke