Pak Risfan yth,

Pada saat reformasi dimulai tahun 1998 saya melihat hal itu tidak akan berjalan 
kalau faktor kedekatan jarak yang mempermudah kolusi dan korupsi penguasa dan 
pengusaha tidak diputus terlebih dahulu. Makanya saat itu saya menganalogikan 
dengan peristiwa Hijrah, yang saya pahami sebagai fase untuk menarik diri, 
menjaga jarak dari praktek-praktek yang kurang benar, untuk menata masyarakat 
menjadi madani, lalu memberikan teladan pada seluruh bangsa. Ini bukan berarti 
meninggalkan seluruh jazirah dan bangs Arab dalam kegelapannya kan? Mekkah, di 
mana Kabah berada, tetap dijadikan pusat dunia Islam, yang beberapa tahun 
sesudah Hijrah 'terbebaskan' dari kebathilan. Saya jadi kurang mengerti dengan 
analogi burung onta yang bapak maksud. Mohon penjelasan.

Selanjutnya, saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa sebuah ibukota tidak 
perlu besar ukurannya, lebih kompak lebih baik. Kita perlu memikirkan kriteria 
apa saja untuk dapat menjadi ibukota yang baik. Kalau masalah lokasinya, justru 
dalam era desentralisasi ini sebaiknya kita tidak menentukan secara top-down 
seperti itu. Skema yang saya bayangkan adalah secara bersama dibicarakan 
kriteria ibukota baru tersebut, kemudian ditawarkan kepada pemerintah daerah, 
siapa yang dapat menyediakan lokasinya, sesuai kriteria yang disepakati. 
Pembiayaan seminimal mungkin bisa menjadi salah satu kriterianya.

Salam,

Wilmar

--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj dan rekans ysh,
> 
> Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota ini.
> Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari eforia 
> setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
> 
> Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam skala 
> besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dalam 
> jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena dari sebelumnya 
> dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg salah satu jalan 
> keluar persoalan ekonomi.
> 
> Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu karena 
> "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi sebaiknya 
> dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala masalah Jakarta.
> 
> Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan untuk 
> atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin counter-magnet.
> Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
> 
> Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan ibukotanya kok 
> spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula badannya. Ibukotanya 
> "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya kan tetap di tempat yang 
> sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin negeri ini jauh dari yang 
> dirasakan rakyatnya.
> 
> Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah pusat, 
> pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi daerah 
> ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita juga belum tahu 
> kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali fungsi Ibukota juga 
> lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala negara, para menteri, duta 
> besar dan sedikit para penasihat dan asistennya. Selebihnya yang operasional, 
> lokasinya tidak harus di tempat yang sama. Sehingga ibukota ini bisa cukup 
> sebagai "kawasan pemerintahan" di antara Balaraja dengan Serang sana, kalau 
> akses ke bandara jadi pegangan.
> 
> Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih akan 
> konsisten sepanjang waktu. 
> Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk memperbaiki 
> sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan antar daerah 
> sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia. Sehingga 
> tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak, pertumbuhan 
> ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya sangat 
> besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya membanjir ke 
> kota-kota besar lagi.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 


Kirim email ke