Pak Wilmar ysb,

Saya kira tidak, anda banyak memberikan pencerahan baru di sini. Saya
masih penasaran dengan analisis anda via Deden mengenai Palangkaraya
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5425> , suatu waktu
tolong dibabarkan.

Mengenai berbagai pendekatan dan pertimbangan, benar telah banyak
diuraikan. Selain permasalahan sosial-politik-ekonomi yang bisa
diperdebatkan, ada hal-hal yang sangat mendasar dari gagasan pemindahan
itu, seperti terakhir salah satu telah anda ungkapkan, namun perlu
narasi yang bagus untuk diungkapkan secara ilmiah. Saya dan Pak Wawo
sebenarnya telah hampir sampai pada suatu kesepakatan
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5297> , serta berbagai
kaitan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5295>  untuk
sampai ke situ. Sehingga berdasarkan teori Waworoentoe 2008, tidak ada
yang perlu diragukan tentang kesetimbangan ruang akibat pemindahan
lokasi itu. Dan mengenai syarat dan kriteria lokasi itu, saya juga
toleran dengan teori itu (500-800 m, serta bisa dimanapun), dan kalau
boleh menambahkan di tahun 2009 ini adalah: nilai ruang/nilai lahan ~ 0
(mendekati 0). Saya cenderung pada prasyarat : "... 1 Akademisi telah
berhasil menyumbang `teori dan aplikasi nilai lahan' dalam penataan
ruang kota yang efisien dan ekonomis; 2 Konsultan telah mampu menghitung
dalam satuan m2 (meter persegi) berikut tingkat ketelitiannya dari
rujukan citra 1:1000; 3 Pemerintah telah mampu menganggarkan 1T/tahun
untuk pembangunan infrastruktur utama; 4 Harapan masyarakat dalam hal
ini diwakili oleh komitmen yang kuat dari Kepala Negara untuk melakukan
hal itu pada awal masa pemerintahannya. ...". Kelihatannya dari 4 itu,
hanya point 1 dan 2 yang bermasalah; namun dalam 3 tahun terakhir ini
konsultan2 PZ terutama di wilayah saya sudah banyak berlatih. Dan untuk
point 1 sedang kita coba memodelkannya
<http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/message/429> , serta diskusi
dan rumusannya belum selesai, mudah-mudahan 2010. Nah, dengan beberapa
progres ini, mohon anda kembangkan lagi dan dapat menjadi masukan untuk
tim-nya Pak Alim, Pak Koes, Pak Aby, Mbak Nita, dkk. Mungkin Pak Eko,
Pak BTS, dkk juga akan memberikan masukan serupa kepada tim. Termasuk
Pak Djarot dkk sepertinya.

Sementara demikian dulu. Salam erat. Happy New Year 2010.

-ekadj


--- In [email protected], "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:
>
> Pak Eka yth,
>
> Terima kasih atas rujukannya ke diskusi di masa lalu. Mohon maaf kalau
apa yang saya sampaikan hanya mengulang apa yang pernah dibahas.
>
> Mengenai saran lokasi, saya pikir saya lebih percaya kalau sebaiknya
kita bangun kriterianya bersama (barangkali inipun sudah dibahas
sebelumnya), lalu dari sana kita dapatkan lokasi potensialnya dari
usulan pemda. Ini akan membuat daerah punya rasa memiliki ibukota
negaranya.
>
> Kalau belajar dari Brasilia dan Islamabad, yang satu pendekatan
metafisik satunya lagi historis. Saya pikir Bung Karno dulu itu sudah
hebat menentukan letak Palangkaraya secara geografis/geometris,
melepaskan diri dari hal metafisik yang sangat kental dalam kosmologi
nusantara, maupun aspek historis. Untuk Indonesia di masa depan saya
kira kita bersama bisa lebih baik merumuskan kriteria sebuah ibukota.
>
> Salam,
>
> Wilmar
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Pak Wilmar saya potong sebentar, saya kurang tahu kalau Hawaii itu
> > dekatan dengan Mekkah. Mengenai hijrah
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/978> ini, kok
> > solusinya sama dengan usulan saya dulu
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1091> ? Mengenai
saran
> > lokasi, anda yang dalam posisi down atau bottom boleh dong kasih
> > pendapat. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], "wilmarsalim" <wilmar@> wrote:
> > >
> > > Pak Risfan yth,
> > >
> > > Pada saat reformasi dimulai tahun 1998 saya melihat hal itu tidak
akan
> > berjalan kalau faktor kedekatan jarak yang mempermudah kolusi dan
> > korupsi penguasa dan pengusaha tidak diputus terlebih dahulu.
Makanya
> > saat itu saya menganalogikan dengan peristiwa Hijrah, yang saya
pahami
> > sebagai fase untuk menarik diri, menjaga jarak dari praktek-praktek
yang
> > kurang benar, untuk menata masyarakat menjadi madani, lalu
memberikan
> > teladan pada seluruh bangsa. Ini bukan berarti meninggalkan seluruh
> > jazirah dan bangs Arab dalam kegelapannya kan? Mekkah, di mana Kabah
> > berada, tetap dijadikan pusat dunia Islam, yang beberapa tahun
sesudah
> > Hijrah 'terbebaskan' dari kebathilan. Saya jadi kurang mengerti
dengan
> > analogi burung onta yang bapak maksud. Mohon penjelasan.
> > >
> > > Selanjutnya, saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa sebuah
ibukota
> > tidak perlu besar ukurannya, lebih kompak lebih baik. Kita perlu
> > memikirkan kriteria apa saja untuk dapat menjadi ibukota yang baik.
> > Kalau masalah lokasinya, justru dalam era desentralisasi ini
sebaiknya
> > kita tidak menentukan secara top-down seperti itu. Skema yang saya
> > bayangkan adalah secara bersama dibicarakan kriteria ibukota baru
> > tersebut, kemudian ditawarkan kepada pemerintah daerah, siapa yang
dapat
> > menyediakan lokasinya, sesuai kriteria yang disepakati. Pembiayaan
> > seminimal mungkin bisa menjadi salah satu kriterianya.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Wilmar
> > >
> > > --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote:
> > > >
> > > > Pak Ekadj dan rekans ysh,
> > > >
> > > > Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan
ibukota
> > ini.
> > > > Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari
> > eforia setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
> > > >
> > > > Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun
dalam
> > skala besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan
tenaga
> > kerja dalam jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional,
karena
> > dari sebelumnya dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar
sbg
> > salah satu jalan keluar persoalan ekonomi.
> > > >
> > > > Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan
terganggu
> > karena "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi
> > sebaiknya dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak
terkendala
> > masalah Jakarta.
> > > >
> > > > Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya":
Pemindahan
> > untuk atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin
> > counter-magnet.
> > > > Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> > > > Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
> > > >
> > > > Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan
> > ibukotanya kok spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman
pula
> > badannya. Ibukotanya "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha
rakyatnya
> > kan tetap di tempat yang sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin
> > negeri ini jauh dari yang dirasakan rakyatnya.
> > > >
> > > > Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama.
Pemerintah
> > pusat, pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan
otonomi
> > daerah ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita
> > juga belum tahu kalau "departemen jadi kementerian" semua,
barangkali
> > fungsi Ibukota juga lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala
> > negara, para menteri, duta besar dan sedikit para penasihat dan
> > asistennya. Selebihnya yang operasional, lokasinya tidak harus di
tempat
> > yang sama. Sehingga ibukota ini bisa cukup sebagai "kawasan
> > pemerintahan" di antara Balaraja dengan Serang sana, kalau akses ke
> > bandara jadi pegangan.
> > > >
> > > > Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu
masih
> > akan konsisten sepanjang waktu.
> > > > Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk
> > memperbaiki sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan
> > antar daerah sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> > > > Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia.
> > Sehingga tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> > > > Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak,
> > pertumbuhan ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> > > > Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang
implikasinya
> > sangat besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul
akhirnya
> > membanjir ke kota-kota besar lagi.
> > > >
> > > > Salam,
> > > > Risfan Munir
> > > >
> > >
> >
>


Kirim email ke