Pak Eko dan rekans ysh,

Dasar membicarakan Palangkaraya sejarah ya. Seingat saya dulu BK melontarkan 
ide Palangkaraya sebagai ibukota, kalau tak salah, ide spontan itu diliputi 
suasana saat Cilik Riwut pemimpin dari Kalteng menyatakan bergabung dengan RI. 
Jadi mesti juga dipertimbangkan suasana sebab turunnya ide itu (asbabun nuzul).

Bahwa BK menuangkan ide hingga rancangan fisiknya (sempat saya lihat bukunya di 
Gramed). Tapi saya tidak tahu apakah sampai ketetapan hukum Keppres misalnya.

Tapi sejarah kan juga mencatat beliau kan juga merancang kota Jakarta (dibantu 
Henk Ngantung dan Silaban)dan direalisasikannya untuk kawasan sekitar 
Monas-Gambir, bundaran HI, hingga Semanggi-Senayan. Sebagaimana yang kita 
nikmati bagusnya dan kelayakannya hingga saat ini. 
Sehingga bisa diartikan juga beliau akhirnya tetap memilih Jakarta sebagai 
ibukota.

Ini kalau kita mencoba merefer Palangkaraya ke sejarah tersebut. Namun, dalam 
sejarah selanjutnya tampaknya teori lokasi lah yang bicara. 

Menurut saya teori lokasi lah backbone ilmu PWK yang relatif kokoh. Mengingkari 
teori lokasi akan membuat kita gak punya pegangan. Perencanaan growth-pole 
misalnya, kalau tanpa mengindahkan teori lokasi, maka secara keprofesian tidak 
bisa dipertanggung-jawabkan. Kalaupun pemerintah (dan dewan) yang mengambil 
kebijakan (mengingkari teori lokasi) maka secara profesi Planner perlu 
menyatakan opini profesinya. Dengan demikian ilmu PWK tidak disalahkan karena 
hal yang diluar pertimbangan ilmunya. Barangkali ini yang dinamakan disiplin 
ilmu?

Karena kita sudah mulai banyak menggunakan instrumen hukum sebagai alat 
penegakan penataan ruang. Mungkin dimasa depan planner juga perlu menyiapkan 
diri seperti petinggi BI saat ini. Apakah dulu kebijakan diambil dengan 
pertimbangan tepat, apa asumsinya? bagaimana justifikasi keilmuannya? bagaimana 
proses pengambilan keputusannya? Bukankah begitu?

Salam,
Risfan Munir



Pada Kam, 31 Des 2009 02:37 CST Eko B K menulis:

>lokasi ibu kota yg koordinatnya berada di tengah2 sebuah negara itu kira2 apa 
>maksudnya ya? kalau kondisi alamnya kurang mendukung seperti Palangkaraya dgn 
>gambutnya masa harus memaksakan di tengah2 juga? lha kalau koordinatnya ada di 
>tengah laut?....:)
>
>Paris dan London berkembang karena pasukan Romawi memilih lokasi2 tsb yg baik 
>dr segi pertahanan, transportasi, dan kesediaan air...selanjutnya adalah 
>sejarah, pilihan didasarkan pertimbangan yg bersifat arbitrary, yg penting dr 
>segi alam lokasi tsb mendukung, tidak harus di tengah2 sebuah negara...
>
>kalau masalahnya adalah keadilan spasial dr segi jarak, maka solusinya bukan 
>lokasi yg berada di tengah2, tapi transportasi yg memadai dan terjangkau 
>(affordable) dari berbagai daerah ke ibu kota tsb... 
>
>salam..
>
>
>
>--- On Thu, 12/31/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:
>
>From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
>Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota baru, Palangkaraya, dana
>To: [email protected]
>Date: Thursday, December 31, 2009, 3:53 AM
>
>
>
>
>
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>      Tentang Palangkaraya :
>
> 
>
>Saya pernah tinggal 6 bulan di Palangkaraya. Tanahnya gambut. Kita gali tanah 
>setengah meter saja ketemu air. Kondisi ini membuat masyarakat cukup susah 
>membangun septic tank. Terus kalau orang meninggal, ia harus dikubur dalam  
>kotak semen kedap air. Oleh karena itu di sana, kuburan itu sudah disediakan 
>terlebih dahulu dalam kotak-kota semen kedap air sehingga bila ada yang 
>meninggal tinggal dimasukkan saja mayatnya.
>
> 
>
>Karena tanahnya gambut, maka perlu teknologi tertentu untuk bangunan tinggi.  
>Kehidupan ekonomi stabil, segala kebutuhan disupply dari Banjarmasin yang 
>ditempuh sekitar 5 jam oleh truk-truk kecil. Truk besar tidak bisa lewat 
>karena lebar jalan regionalnya hanya 6 meter.
>
>
>
>Setiap kemarau kota ini terancam asap dari kebakaran gambut dengan emisi 
>karbon yang sangat tinggi. Energi listrik tergantung pada generator yang ada 
>di Banjarmasin. Tak heran kalau 2 hari sekali lampu mati (sedih deh... kalau 
>lampu mati...cari hiburan juga susah).
>
>
>
>Palangkaraya tanahnya datar. Drainase tidak jalan (dalam arti tidak mengalir). 
>Air genangan cepat kering karena rembas ke bawah. Akibatnya sampah-sampah 
>padat menumpuk. Pengumpulan sampah jarang dilakukan karena tidak mempunyai TPA.
>
>
>
>Masyarakat Palangkaraya didominasi atas 3 suku besar yaitu:  Dayak, Jawa, dan 
>Banjar. Suku Jawa dimaksud di sini di luar Suku Madura. Mereka masih benci 
>sama Suku Madura (ingat peristiwa Sampit dan Sambas menjelang tahun 2000 yang 
>lalu).
>
>
>
>Yang enak di Palangkaraya adalah jalan raya lebar-lebar dan  tertata dengan 
>baik dengan median yang besar-besar. Lalu lintas lancar, kicau burung di 
>mana-mana.
>
>
>
>Jadi kalau Palangkaraya jadi ibukota RI.... ah enggak ah!
>
>
>
>Thanks. CU. BTS.
>
>
>
>--- On Thu, 12/31/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:
>
>
>
>From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
>
>Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota baru, Palangkaraya, dana
>
>To: refere...@yahoogrou ps.com
>
>Date: Thursday, December 31, 2009, 1:58 AM
>
>
>
>  
>
>
>
>20T =~ APBD DKI Jakarta 1 tahun =~ Gono-gini Halimah.
>
>
>
>-K-
>
>
>
>Pedal Powered BikeBerry
>
>
>
>From: "Benedictus Dwiagus S." <bdwia...@gmail. com> 
>
>Date: Thu, 31 Dec 2009 01:14:34 +0000
>
>To: <refere...@yahoogro u ps.com>
>
>Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota baru, Palangkaraya, dana
>
>
>
>  
>
>
>
>Bagaimana opportunity cost 20T itu?
>
>
>
>Kalau 20T, knapa gak dikasih ajah ke KTI, buat bangun2 macam2, jadi stimulus. 
>Daripada pindah ibukota ke palangkaraya.
>
>
>
>Bagaimana?
>
>Hehehe
>
>»»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!!
>
>
>
>From: "wilmarsalim" <wil...@hawaii. edu> 
>
>Date: Wed, 30 Dec 2009 23:57:04 -0000
>
>To: <refere...@yahoogro u ps.com>
>
>Subject: [referensi] Re: Ibukota baru, Palangkaraya, dana
>
>
>
>  
>
>
>
>Pak Eka dan rekan-rekan ysh,
>
>
>
>Terima kasih, rupanya sudah banyak yang dibahas di sini. Sayang saya tidak 
>bisa mengakses modelnya.
>
>
>
>Ttg Palangkaraya, silakan baca keterangan Wijanarka berikut: http://www.unika. 
>ac.id/warta/ 05082006. htm. Selain itu kondisi politik dan perekonomian juga 
>tidak memungkinkan saat itu. 
>
>
>
>Kalau sekarang, apabila perhitungan rekan-rekan membangun ibukota baru hanya 
>butuh Rp. 20 T itu masih akurat, it's a peanut. Dengan memotong anggaran 
>Dephankam dan Polri masing2 5% saja dan memfokuskan 10% anggaran PU untuk 
>ibukota baru maka dalam 3 tahun selesai pembangunannya. Bila diawali dengan 
>studi yang matang serta penentuan lokasi di tahun 2010, lalu konstruksi 
>2011-2013, lalu proses transisi di 2014, tahun 2015 kita bisa merayakan hari 
>kemerdekaan ke-70 di ibukota baru. Tentu ini hanya di Republik Mimpi
>
> hihi..
>
>
>
>Salam,
>
>
>
>Wilmar
>
>
>
>--- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
>>
>
>> 
>
>> Pak Wilmar ysb,
>
>> 
>
>> Saya kira tidak, anda banyak memberikan pencerahan baru di sini. Saya
>
>> masih penasaran dengan analisis anda via Deden mengenai Palangkaraya
>
>> <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5425> , suatu waktu
>
>> tolong dibabarkan.
>
>> 
>
>> Mengenai berbagai pendekatan dan pertimbangan, benar telah banyak
>
>> diuraikan. Selain permasalahan sosial-politik- ekonomi yang bisa
>
>> diperdebatkan, ada hal-hal yang sangat mendasar dari gagasan pemindahan
>
>> itu, seperti terakhir salah satu telah
>
> anda ungkapkan, namun perlu
>
>> narasi yang bagus untuk diungkapkan secara ilmiah. Saya dan Pak Wawo
>
>> sebenarnya telah hampir sampai pada suatu kesepakatan
>
>> <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5297> , serta berbagai
>
>> kaitan <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5295> untuk
>
>> sampai ke situ. Sehingga berdasarkan teori Waworoentoe 2008, tidak ada
>
>> yang perlu diragukan tentang kesetimbangan ruang akibat pemindahan
>
>> lokasi itu. Dan mengenai syarat dan kriteria lokasi itu, saya juga
>
>> toleran dengan teori itu (500-800 m, serta bisa dimanapun), dan kalau
>
>> boleh menambahkan di tahun 2009 ini adalah: nilai ruang/nilai lahan ~ 0
>
>> (mendekati 0). Saya cenderung pada
>
> prasyarat : "... 1 Akademisi telah
>
>> berhasil menyumbang `teori dan aplikasi nilai lahan' dalam penataan
>
>> ruang kota yang efisien dan ekonomis; 2 Konsultan telah mampu menghitung
>
>> dalam satuan m2 (meter persegi) berikut tingkat ketelitiannya dari
>
>> rujukan citra 1:1000; 3 Pemerintah telah mampu menganggarkan 1T/tahun
>
>> untuk pembangunan infrastruktur utama; 4 Harapan masyarakat dalam hal
>
>> ini diwakili oleh komitmen yang kuat dari Kepala Negara untuk melakukan
>
>> hal itu pada awal masa pemerintahannya. ...". Kelihatannya dari 4 itu,
>
>> hanya point 1 dan 2 yang bermasalah; namun dalam 3 tahun terakhir ini
>
>> konsultan2 PZ terutama di wilayah saya sudah banyak berlatih. Dan untuk
>
>> point 1 sedang kita coba memodelkannya
>
>> <http://groups. yahoo.com/ group/perkotaan/ message/429> , serta
>
> diskusi
>
>> dan rumusannya belum selesai, mudah-mudahan 2010. Nah, dengan beberapa
>
>> progres ini, mohon anda kembangkan lagi dan dapat menjadi masukan untuk
>
>> tim-nya Pak Alim, Pak Koes, Pak Aby, Mbak Nita, dkk. Mungkin Pak Eko,
>
>> Pak BTS, dkk juga akan memberikan masukan serupa kepada tim. Termasuk
>
>> Pak Djarot dkk sepertinya.
>
>> 
>
>> Sementara demikian dulu. Salam erat. Happy New Year 2010.
>
>> 
>
>> -ekadj
>
>> 
>
>> 
>
>> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "wilmarsalim" <wilmar@> wrote:
>
>> >
>
>> > Pak Eka yth,
>
>> >
>
>> > Terima kasih atas rujukannya ke diskusi di masa lalu. Mohon maaf kalau
>
>> apa yang saya sampaikan hanya mengulang apa yang pernah dibahas.
>
>> >
>
>> > Mengenai saran
>
> lokasi, saya pikir saya lebih percaya kalau sebaiknya
>
>> kita bangun kriterianya bersama (barangkali inipun sudah dibahas
>
>> sebelumnya), lalu dari sana kita dapatkan lokasi potensialnya dari
>
>> usulan pemda. Ini akan membuat daerah punya rasa memiliki ibukota
>
>> negaranya.
>
>> >
>
>> > Kalau belajar dari Brasilia dan Islamabad, yang satu pendekatan
>
>> metafisik satunya lagi historis. Saya pikir Bung Karno dulu itu sudah
>
>> hebat menentukan letak Palangkaraya secara geografis/geometris ,
>
>> melepaskan diri dari hal metafisik yang sangat kental dalam kosmologi
>
>> nusantara, maupun aspek historis. Untuk Indonesia di masa depan saya
>
>> kira kita bersama bisa lebih baik merumuskan kriteria sebuah ibukota.
>
>> >
>
>> > Salam,
>
>> >
>
>> > Wilmar
>
>> >
>
>
>
>
>
>    
>     
>
>    
>    
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>      


      

Kirim email ke