Pak Djarot ysh,

Benar, dengan perspektif simbolisme aspek intangible menjadi berarti. Peter Nas 
dalam Urban Symbolism (1993) menyatakan simbol bisa berupa obyek, perbuatan 
maupun bentuk ekspresi lain yang mewakili sesuatu yang biasanya sebuah gagasan 
yang abstrak sifatnya. Hanya saja perlu kita sadari bahwa sebuah simbol 
perkotaan (urban symbol) bisa dimaknai secara berbeda-beda baik oleh 
penggagasnya, pemimpin yang berkuasa, rakyat jelata, arsitek, perencana, 
pengusaha, dlsbnya. Ada multi-interpretasi makna sebuah simbol, yang bisa 
dipengaruhi oleh mereka yang mencoba membacanya, yang kemudian dapat pula 
mempengaruhi orang lain yang mencoba membacanya. Lantas mereka yang mencoba 
membaca maknanyapun dipengaruhi oleh suasana batin ybs yang tidak datang begitu 
saja, tapi dipengaruhi oleh berbagai aspek ybs alami sejak tumbuh dewasa, dalam 
keluarga, sekolah, tempat kerja, dlsbnya.

Saya melihat dalam menyikapi gagasan ttg ibukota barupun kita semua berbeda 
pendapat karena kita mempunyai perbedaan interpretasi dalam memaknai gagasan 
tsb. Hal ini tentu wajar saja. Pada akhirnya memang apakah sebuah gagasan akan 
terlaksana atau tidak bergantung pada pemimpin yang berkuasa dan bagaimana ybs 
memaknai gagasan tsb, yang suatu saat bisa mempengaruhi banyak orang dalam 
memaknai hal yang sama. Bisa saja ybs terlihat lebih tradisional daripada 
rasional atau sebaliknya. Yang penting menurut saya dalam kerangka 
demokratisasi, semua pendapat yang berbeda dapat dicermati bersama sehingga 
keputusan dapat diambil dalam 'hikmat kebijaksanaan'. Selain itu dalam kerangka 
desentralisasi, hubungan antara pusat dan daerah bisa dipererat dengan 
penguatan peran daerah dalam pengambilan keputusan. 

Salam,

Wilmar

--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Wilmar, jika benar perspektifnya adalah simbolisme, maka tentu tidak 
> terbatas pada aspek geografi, geometri yang lebih tangible. Jika kita 
> berpikir simbolisme, maka ada aspek-aspek intangible yang ikut bermain, 
> secara disadari ataukah tidak. Pada waktu membangun Monas, misalnya, ada 
> interpretasi bahwa konsepnya adalah Lingga-Yoni dan itu tentunya referensi 
> dari Hindu sekte tertentu. Jika dalam sorotan saya, aspek titik tengah 
> menjadi penting sebab mengandung nilai transenden (boleh saja disebut 
> metafisika, meskipun tidak selalu demikian). 
> 
> Kenapa dulu Bung Karno selalu membawa tongkat komando yang unik, sementara 
> sekarang presiden kita tidak demikian, tentu ada pemikiran khas di balik 
> perilaku beliau. BK adalah pemimpin dalam situasi transisi, dari budaya 
> tradisional ke yang rasional (yang konon diklaim lebih tinggi). Nah, apakah 
> para presiden kita sekarang ini cenderung lebih rasional dan mengabaikan 
> aspek irrasional (metafisika) yang umum ada dalam kehidupan tradisional ? 
> Pertanyaannya, apakah dengan pemimpin (cara berpikir) rasional kehidupan akan 
> menjadi lebih baik atau maju ? Tugas kita barangkali adalah menyeimbangkan 
> atau mensinerjikan pemikiran tradisional dan rasional sehingga menjadi 
> kekuatan yang unik mampu menemukan solusi-solusi bagi problema arsitektur dan 
> planning yang kita hadapi. Mohon pencerahan.
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 


Kirim email ke