Dear Temans, 


Berikut ini tulisan opini di Kompas hari ini. Saya setuju isi tulisan itu dan 
cenderung mengatakan Gus Dur
mempraktekkan fenomenologi tanpa pusing berteori tentang fenomenologi.
Beberapa hari ini saya larut mengenang beliau dan hipotesisnya: Gus Dur
seorang Fenomenolog. Apakah begitu ? Pandangan saya ini bukan karena saya 
pernah disebut "mirip Gus Dur"
karena gendut dan suka ngantuk. Jika temuan saya ini
benar, maka hati-hati belajar fenomenologi lho, sebab efeknya gendut
dan ngantuk-an hehehe....bahkan dianggap mencla-mencel.....silahkan dikomentari 
opini Kompas atau opini
saya ini. Menurut saya, tulisan ini mampu menjelaskan sebagian sisi dan praktek 
kerja fenomenologi.



Gus Dur sebagai "Orang Asing"

Jumat, 8 Januari 2010 | 02:57 WIB

Oleh Wildan Pramudya 



Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak
Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun,
penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan
semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing. Mengenang 
Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam 
kerangka pemikiran sosiolog Jerman,
Georg Simmel. Dalam salah satu tulisannya, The Stranger, Simmel
memberikan pengertian yang kompleks, khas, dan unik atas konsep orang
asing.



Bagi Simmel, orang asing bukan sebuah tifikasi identitas (orang yang
tidak dikenali asal-usulnya) , melainkan suatu tifikasi relasi tertentu
seseorang dalam suatu komunitas. Tipe relasi yang dimaksud adalah
relasi interseksi yang dibangun atas dasar kedekatan (nearness), tetapi
sekaligus berjarak (remoteness) .



Dalam relasi interseksi, orang asing menjadi bagian dari komunitas,
tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari komunitas tersebut karena
ia tetap mampu mengambil jarak dengannya. Orang asing adalah orang yang berada 
di dalam sekaligus di luar komunitas.



Gus Dur tepat disebut sebagai orang asing karena selama ini Gus Dur
mengembangkan relasi interseksi tersebut tidak saja di dalam komunitas
NU, tetapi juga dengan kekuasaan dan berbagai komunitas lain yang lebih
luas.


Kritik pedas



Terlahir sebagai cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari; dididik secara
kultural di dalam tradisi NU, memulai dan memantapkan karier politik di
NU merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah elemen penting dan tak
terpisahkan dari komunitas NU. Namun, pada saat yang
sama, tidak jarang sikap Gus Dur berseberangan dengan tokoh-tokoh
penting lainnya di NU dan secara terbuka kerap melancarkan kritik pedas
terhadap beberapa kiai nahdliyin, seolah-olah ia tidak sedang menjadi
bagian dari NU.



Begitu pula relasi Gus Dur dengan kekuasaan. Pada era Orde Baru, Gus Dur kerap 
mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto,
tetapi—pada saat yang sama—”mengambil” dan menerima Pancasila, yang
menjadi kebijakan politik resmi Orde Baru itu, sebagai asas NU.



Hal ini berlanjut saat Gus Dur sendiri berada dalam pusat kekuasaan,
yaitu sebagai presiden ke-4 RI. Saat itu Gus Dur secara sinikal
menyebut para anggota DPR ibarat murid taman kanak-kanak. Padahal, DPR saat itu 
diisi oleh banyak anggota yang berasal dari
partai koalisi yang justru mendukung dan memilihnya sebagai presiden.
Dengan sikapnya itu, Gus Dur dianggap tidak konsisten, mencla-mencle,
dan berkhianat pada ikatan koalisi besar partai politik yang mendukungnya. 
Klimaksnya, Gus Dur pun dilengserkan dari kekuasaan oleh orang-orang yang dulu 
pernah mendukungnya.



Kendati begitu, dari situ kita bisa memetik pelajaran. Pertama, dengan
relasi interseksi sejatinya Gus Dur berupaya untuk tetap
(ber)independen terhadap segala bentuk ikatan, sekalipun itu ikatan
dengan komunitas paling primordial baginya: NU, ataupun kekuasaan yang
sesungguhnya bisa sangat menguntungkan dirinya. Kedua, Gus Dur berusaha
mene- rapkan suatu perspektif sosial yang lebih obyektif dalam
memandang individu, kelompok, atau institusi.



Obyektivitas 



Persis dijelaskan Simmel bahwa orang asing adalah orang dengan
pandangan yang obyektif. Obyektivitas orang asing adalah suatu
pandangan yang hanya mungkin diperoleh dalam suatu relasi interseksi,
yaitu kedekatan dan keberjarakan. Ini berbeda dengan obyektivitas kaum
ilmiah positivistik yang hanya memandang sesuatu dengan mengambil jarak
dari obyek.



Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas, seperti umat Konghucu
dan Ahmadiyah, misalnya, bisa dipahami dalam kerangka obyektivitas
orang asing ini. Gus Dur membela keberadaan mereka atas dasar pandangan
obyektif dengan meneropong keberadaan mereka tidak hanya dari kejauhan,
tetapi juga dari dekat. Dengan cara ini, Gus Dur mampu memahami cara
hidup dan berkeyakinan mereka secara adil dan apa adanya. Maka, dengan
cara pandang ini, tidak heran jika kemudian Gus Dur bisa diterima dan
dikagumi oleh banyak orang dari berbagai kelompok dan golongan.



Terhadap lawan-lawan politiknya sekalipun, Gus Dur taat menerapkan
pandangan obyektif semacam ini dan sangat piawai menjalin relasi
interseksi dengan mereka. Dengan demikian, di mata Gus Dur, secara
obyektif keberadaan lawan politik adalah sekaligus kawan politik.
Sungguh ini sebuah estetika politik yang mungkin tidak mudah dilakukan
tokoh politik lainnya.



Wildan Pramudya Aktif di LP3ES 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com


      

Kirim email ke