Milisters ysh,

Ttg ‘teknologi’ pengembangan kota2 besar dilokasi2 terpencil….. sebenarnya 
kalau kita mau tengok analogi spt “teknik menanam tanaman buah dlm drum”….. pd 
dasarnya kita dpt melihat analogi spt bhw  pot/ drum perlu diisi dgn media 
tanah dgn  komposisi dan struktur yg ideal spt berupa a/ campuran tanah, b/ 
pupuk kandang dan c/ sedikit pasir lalu bak tanaman disiram air dan dipupuk 
secara teratur dan terbukti… tanaman spt durian, mangga, rambutan, jambu, 
anggur dsb dpt tumbuh dan berbuah subur…… 
Kalau awam yg berimajinasi apapun ttg kota sih gak papa, namanya awam ……tapi 
tentu agak disesalkan kalau sampai terjadi ahli tata ruang jg terbawa2 
berimajinasi jg spt awam (mdh2n gak, spy gak perlu stigma)  … bhw asal bicara 
ttg pengembangan kota baru ditempat lain … hampir tak ketinggalan lalu 
dibicarakan  jg ttg kemungkinan mindahin ibukota’ (spt seolah tak ada 
imajinasi/ artikulasi lain)…… pdhal bukankah sebagai ‘teknolog dibidang menata 
ruang’ ... bukankah planolog jg sebenarnya perlu dan bisa dn harus amat bisa 
….analog dgn insinyur pertanian yg mengembangkan habitat buatan bagi pohon2 
buah didalam drum lalu drum itu dpt diletakkan dimana saja?...... dan 
berbuah?....... 
Pdhal kalau kita mau scr sederhana saja menelaah apa isi ‘drum’ daripada pohon 
tanaman bernama “kota besar buatan” itu?........ kita bisa identifikasikan bhw 
kota besar (agr layak memiliki bandara intl) itu setidaknya memerlukan jumlah 
tertentu  total penduduknya (population treshold)…. Ia perlu jumlah tertentu 
minimum SDM  kota tsb dgn penghasilan menengah atas ..… agar kota itu jg 
memiliki daya beli dan pola konsumsi yg membangkitkan perekonomian wilayah……  
kota itu jg perlu employment  resources … bukan hanya berupa  aktivitas 
pemerintahan, namun utamanya ekonomi  dan kewirawastaan… seperti  industri 
manufaktur atau industri jasa…….. tak lupa juga perlu pengembangan vista kota…. 
Krn kota buatan ditempat terpencil  bukan hanya utk sekedar jaga2 melayani 
kalau ada pesawat yg nyasar dan terpaksa mampir mendarat saja…… namun juga akan 
diperuntukkan bagi ruang tinggal dan bekerja  selama bertahun2 utk mereka yg 
akan
 di(tugas)migrasikan menuju kota terpencil tsb … bahkan beserta keluarganya 
……jg demi utk menarik arus migrasi dan pembentukan aglomerasi selanjutnya…… jg 
kelak pariwisata…...
Krn itu kalau planolog tak mengakrabkan diri dgn logika spt  tabulampot 
(tanaman buah dalam pot) tadi itu… sulit rasanya akan muncul artikulasi2 
keruangan  baru  (pdhal jg gak baru)  dinegeri ini seperti  teknik migrasi 
kerah putih…… teknik semai industri manufaktur memimpin ….. teknik desain kota 
besar dan teknik land readjustment … dan bukankah perlu dikuatirkan  jangan2  
hanya akan muncul artikulasi teknik keruangan dari itu keitu lagi…. Teknik 
zonasi ….. building code…. garis sempadan …. RTRWN …… RDTR…. krn mengembangkan/ 
menata ruang  kota2 dikawasan terpencil itu  beda besar paradigmanya dgn  
penataan ruang dikawasan maju …..…paradigma yg pertama  bukannya 
‘mengendalikan’ tapi sebaliknya ….’menggalakkan’ pemanfaatan ruang ……walau 
kelak bila kawasn terpencil itu jadi maju lalu boleh saja mulai muncul 
kebutuhan ‘pengendalian pemanfaatan ruang’ spt apa yg terjadi dikawasan 
maju………. 
 
 
 
 


      

Kirim email ke