Pak Aby ysh, sebenarnya saya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya
teknologi transportasi udara itu bisa mudah dan murah. Hal ini saya
mengaca pada fenomena Perang Pasifik
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2291>  yang sedang
dipelajari Pak Eko itu, yang dalam hitungan bulan bisa menghasilkan
puluhan landasan pacu. Malah sesuai penuturan Pak Wawo, ada landasan
pacu yang dibuat dalam hitungan jam, yaitu ketika pesawat menerjunkan
zeninya, berputar-putar menunggu mendarat sampai pasukan zeni itu
selesai membersihkan area pendaratan. Dan terkadang landasan pacu ini
hanya digunakan beberapa minggu saja karena strategi 'loncat katak'. Hal
ini ironi dengan pencapaian kita sendiri, sudah berapa bandara yang kita
bangun sendiri setelah kemerdekaan? Sebagian besar bandara-bandara kita
dibangun pada masa Perang Pasifik yang 3 tahunan itu. Dengan menyediakan
berbagai possibility pada berbagai tempat, saya kira selain memecahkan
masalah isolasi, juga dapat membangkitkan potensi lain. Sementara
demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
>
> Milisters ysh,
>
> Ttg ‘teknologi’ pengembangan kota2 besar dilokasi2
terpencil….. sebenarnya kalau kita mau tengok analogi spt
“teknik menanam tanaman buah dlm drum”….. pd dasarnya
kita dpt melihat analogi spt bhw  pot/ drum perlu diisi dgn media
tanah dgn  komposisi dan struktur yg ideal spt berupa a/ campuran
tanah, b/ pupuk kandang dan c/ sedikit pasir lalu bak tanaman disiram
air dan dipupuk secara teratur dan terbukti… tanaman spt durian,
mangga, rambutan, jambu, anggur dsb dpt tumbuh dan berbuah
subur……
> Kalau awam yg berimajinasi apapun ttg kota sih gak papa, namanya awam
……tapi tentu agak disesalkan kalau sampai terjadi ahli tata
ruang jg terbawa2 berimajinasi jg spt awam (mdh2n gak, spy gak perlu
stigma)  … bhw asal bicara ttg pengembangan kota baru ditempat
lain … hampir tak ketinggalan lalu dibicarakan  jg ttg
kemungkinan mindahin ibukota’ (spt seolah tak ada imajinasi/
artikulasi lain)…… pdhal bukankah sebagai ‘teknolog
dibidang menata ruang’ ... bukankah planolog jg sebenarnya perlu
dan bisa dn harus amat bisa ….analog dgn insinyur pertanian yg
mengembangkan habitat buatan bagi pohon2 buah didalam drum lalu drum itu
dpt diletakkan dimana saja?...... dan berbuah?.......
> Pdhal kalau kita mau scr sederhana saja menelaah apa isi
‘drum’ daripada pohon tanaman bernama “kota besar
buatan” itu?........ kita bisa identifikasikan bhw kota besar
(agr layak memiliki bandara intl) itu setidaknya memerlukan jumlah
tertentu  total penduduknya (population treshold)…. Ia perlu
jumlah tertentu minimum SDM Â kota tsb dgn penghasilan menengah atas
..… agar kota itu jg memiliki daya beli dan pola konsumsi yg
membangkitkan perekonomian wilayah……  kota itu jg perlu
employment  resources … bukan hanya berupa  aktivitas
pemerintahan, namun utamanya ekonomi  dan kewirawastaan…
seperti  industri manufaktur atau industri jasa…….. tak
lupa juga perlu pengembangan vista kota…. Krn kota buatan ditempat
terpencil  bukan hanya utk sekedar jaga2 melayani kalau ada pesawat
yg nyasar dan terpaksa mampir mendarat saja…… namun juga akan
diperuntukkan bagi ruang tinggal dan bekerja  selama bertahun2 utk
mereka yg akan
> di(tugas)migrasikan menuju kota terpencil tsb … bahkan beserta
keluarganya ……jg demi utk menarik arus migrasi dan pembentukan
aglomerasi selanjutnya…… jg kelak pariwisata…...
> Krn itu kalau planolog tak mengakrabkan diri dgn logika spt Â
tabulampot (tanaman buah dalam pot) tadi itu… sulit rasanya akan
muncul artikulasi2 keruangan  baru  (pdhal jg gak baru) Â
dinegeri ini seperti  teknik migrasi kerah putih…… teknik
semai industri manufaktur memimpin ….. teknik desain kota besar
dan teknik land readjustment … dan bukankah perlu dikuatirkan Â
jangan2Â  hanya akan muncul artikulasi teknik keruangan dari itu
keitu lagi…. Teknik zonasi ….. building code…. garis
sempadan …. RTRWN …… RDTR…. krn mengembangkan/
menata ruang  kota2 dikawasan terpencil itu  beda besar
paradigmanya dgn  penataan ruang dikawasan maju
…..…paradigma yg pertama  bukannya
‘mengendalikan’ tapi sebaliknya
….’menggalakkan’ pemanfaatan ruang ……walau
kelak bila kawasn terpencil itu jadi maju lalu boleh saja mulai muncul
kebutuhan ‘pengendalian pemanfaatan ruang’ spt apa yg
terjadi dikawasan maju……….


Kirim email ke