Mas Koko ysh,
Utk soal subsidi sumbernya dari www.nusacendanabiz.com 

--- On Fri, 1/8/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:


From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re : (1) Bandara Intl dan Kota2 Kita di Timur
To: [email protected]
Date: Friday, January 8, 2010, 2:11 PM


  






Pak Aby,

Boleh tahu darimana informasi sbb:

"..bandara El Tari Kupang sbg bandara ibukota propinsi yg notabene juga 
melayani flight ke dan dari Australia gitu saja jg sampai kini msh disubsidi 
oleh Angkasa Pura Denpasar dan Surabaya ……krn merugi maka tak kunjung bisa 
meningkatkan mutu fisiknya.."


Saya punya catatan tersendiri mengenai hal ini.
Itulah mengapa seharusnya Airport tax itu masuk saja dalam komponen tiket.. 
ngapain di-kutip secara tunai.
Akhirnya ada potensi kebocoran lah sana sini.. 
Angkasa Pura juga sudah terlalu lama menikmati monopoli.. tanpa persaingan 
usaha yg sehat, konsumen hanya bisa pasrah.


Salam,
-K-







  








Milisters ysh, 



Berawal dr kebutuhan mutlak  akan alat transport lewat udara yg praktis dan 
cepat….…  lalu muncul kebutuhan sarana pesawat2  berbadan  lebar utk kenyamanan 
penerbangan … lalu muncul berikutnya “kebutuhan sarana airport2  internasional 
disana-sini” mengingat  perlunya kelengkapan dan kenyamanan  berbagai  
fasilitas naval aids maupun fasilitas utk passengers spt restoran, lounge 
maupun emergency services, hotel, kota transit/ emergency yg menyenangkan (lho 
pdhal katanya teknologi dn ekonomisasi transportasi dpt atasi masalah jarak!?) 
……. Semuanya  itu pd dasarnya menyiratkan suara hati  spontan dan stngh sadar  
bhw setiap penduduk kelas menengah pd tiap negeri dan bangsa  itu pada dasarnya 
mendambakan adanya  idealisme konstelasi “sistem kota2 secara nasional”  
beserta prinsip2  jarak2nya yg fungsional…. yg selain perlu “integrated” namun 
juga perlu  “sistematik” maupun jg perlu  “cerdas”….…… 

Lalu pd saat yg sama muncullah pula nalar  “tapi ya nggak mungkinlah bhw 
disini-sana  (itu artinya lalu pakai “prinsip  jarak”) dpt dgn mudahnya 
didirikan  bandara apalagi bertaraf internasional ….. yg pemakaiannya a.l. 
sekedar ditujukan utk jaga2 melayani pendaratan pesawat yg alami gangguan, atau 
kesulitan isi BBM atau nyasar macam alm Adam Air ketika dlm perjalanan Jkt-Mks 
alat navigasinya rusak dan mendarat di bandara Tambolaka Sumba bbrp waktu 
lalu……. 

Sebenarnya pemikiran demikian sih bebas2 saja bukannya ga boleh…. Namun yg agak 
naif adlh bila itu krg dikaitkan dgn proyeksi pengembangn kota besar pd lokasi 
bandara intl yg dimaksud……. Krn bandara internasional dan kota kecil dgn total 
jmlh  penduduk dan struktur SDM setara kecamatan…... wah…. pdhal bandara El 
Tari Kupang sbg bandara ibukota propinsi yg notabene juga melayani flight ke 
dan dari Australia gitu saja jg sampai kini msh disubsidi oleh Angkasa Pura 
Denpasar dan Surabaya ……krn merugi maka tak kunjung bisa meningkatkan mutu 
fisiknya (lha wong bayar airport tax hanya 10rb saja masih pd pengin lolos atau 
mending perang mulut) …. Dan lalu dgn ringan dan tak terlampau serius kini 
muncul kebutuhan baru-beda intl airprt ditempat lain lagi di NTT…… dan tak 
dikaitkan dgn proyeksi pengembangan kota besar dilokasi yg sama?....... 

  

  

  

  












      

Kirim email ke