Rekan H. Ekadj, Dwi, EkoBK dan milisters ysh, Ttg istilah ‘bandara internasional’, benar bhw kriteria utamanya adalah keharusan adanya fasilitas customs dan imigrasi….. namun bandara2 demikian pd umumnya runwaysnya dibuat lbh panjang dan lebar demi utk akomodasi pesawat2 besar yg umumnya dipergunakan utk penerbangan antar benua…….. namun walau banyak bandara dgn skedul internasional memakai kata ‘intl’ belakangnya … nyatanya salah satu bandara internasional tersibuk didunia spt London Heathrow Airport malah dgn pedenya tidak membubuhkan kata ‘intl’ dibelakangnya…….. sebaliknya banyak airport dikota2 kecil AS memakai kata ‘intl’ dibelakangnya namun tak memiliki skedul penerbangan penumpang internasional dan hanya memiliki fasilitas customs dan imigrasi yg melayani charter, cargo dan penerbangan umum…. Atau ada yg mensyaratkan pesawat internasional utk bbrp jam sebelum mendarat agar memberitahukan dulu agar dpt memperoleh layanan customs dan imigrasi….. Bagi Indonesia setidaknya pengelolaan/ pembangunan bandara jg pertama jangan sampai merugi/ subsidi terus…… jadi kiranya perlu diupayakan agar kelas bandara agak2 sesuai dgn potensi ekonomi kota terkait…..atau mungkin dibalik.....kota2 agar ditingkatkan vitalitasnya demi agar vitalitas bandaranya menjadi lbh ekonomis dan strategis........ utk rekan EkoBK…. Benar bandara intl yg paling perlu imigrasi dan customsnya… utamanya kalau hanya utk layanan cargo atau pesawat charter… tapi kalau utk passengers aplgi negara2 kaya dgn demand pariwisata dan travelnya yg amat tinggi….. terminal yg tidak representatip, kotor, toiletnya mampet atau bau tentu malu2in dan dirasanin oleh mereka bahkan ditulis di internet……. Krnnya sebaliknya dari itu… bandara intl perlu sekaligus dibuat cantik, lengkap dgn segala fasilitasnya, toko cendera mata khas nasional dsb…. Demi citra, juga demi kontribusi sektor pariwisata pada perekonomian dan budaya (mudah2an pak Suhadi ysh senang mendengarnya) negara dan bangsa…… dan kalo sdh gitu .... maka mudah2an dpt diterima pandangan bhw makanya pengembangan vitalitas kota2 besar jangan dianggap sbg menyisihkan pertanian dan perdesaan atau pedalaman....... tapi justru sebaliknya.... agar membuat integrasi desa-kota semakin baik....... Airport intl sering menuanrumahi penerbangan domestik, dan dibanyak negara2 kecil… airportnya banyak yg sekalian dibuat ‘internasional’ (St. Lucia, Malta dsb)…. krn kalau nggak lalu bgmn bangsa lain mau berinteraksi kesana?.......dan walau jumlah penduduknya sedikit kepala negaranya juga tidak lalu hanya cukup selevel camat atau bupati saja krn mrk juga memerlukan hub internasional yg selevel dgn banyak negara lain….. kebetulan jg banyak negara kecil dgn jmlah penduduk sedikit namun letaknya yg strategis membuatnya menjadi hub persinggahan internasional….. dan negara dgn jumlah penduduk kecil gitu jg tidak lalu penduduknya lbh banyak kerja tani diladang…. banyak diantaranya berusaha dibidang keuangan dan perbankan… dan tentu juga pariwisata, industri dsb…… Banyak pula bandara yg semula ‘internasional’ lalu malah diubah menjadi bandara domestik spt contohnya Don Mueang Intl Airport di Bangkok diganti perannya oleh Suvarnabhumi, Tokyo Intl Airport (Haneda) diganti oleh Narita, demikian juga di Taiwan, Hyderabad, India, Seoul, Shanghai dan tak kurang juga dikampung kita sendiri…... Bandara Halim Perdanakusumah Intl Airport diganti peran internasionalnya oleh Bandara Soekarno Hatta….. sementara sekian dulu dan salam pake stigma dikit, aby

