Uda Ekadj dan Rekans ysh,
 
Saya baca risalah Machiaveli itu waktu mahasiswa dulu. Seingat saya dia menulis 
berdasarkan "realita" (fenomena?) membangun dan memelihara "kekuasaan".
Dengan keawaman saya dalam bidang politik kayaknya tulisan M lebih realistis. 
Kalau dikritik tidak etis, barangkali "realita kekuasaan" itu yang tidak etik, 
bukan penulisnya. Bahwa realita itu disampaikan ke raja yang dipilihnya, itu 
mungkin yang dikritik.
 
Sepertinya di dunia politik banyak "mitos" yang ditanamkan, bukan "realita". 
Akibatnya banyak kebohongan, kemunafikan. Kalau masyarakat tidak mau tertipu 
oleh "pemimpin" sebaiknya tahu realita/fenomena.
 
Contoh mitos, "Hanibal itu raja kuat, memakmurkan bangsanya; SAYANG DIA KEJAM", 
Kenyataannya kata Machiavelli, "Awalnya Hanibal membangun kekuasaan dengan 
KERAS, karena itu kepemimpinannya sangat efektif dan KUAT. Dengan itulah dia 
bisa memakmurkan bangsanya."
 
Mungkin masyarakat sekarang juga perlu belajar realita, bukan mitos dan 
retorika visi, misi. Kalau calon pemimpin kuat, kaya raya, mau menggratiskan 
semua pelayanan. Mestinya ditanyakan "uangnya dari mana", pekerjaan asalnya 
apa?. (Jangan harap bersih 100%, nanti tertipu). Bandingkan saja di antara 
mereka. 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 


--- On Thu, 1/21/10, ffekadj <[email protected]> wrote:


From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Il Principe
To: [email protected]
Date: Thursday, January 21, 2010, 9:01 AM


  




Referensiers ysh,
Ada satu buku yang sedang saya cari-cari, yaitu "Il Principe" (The Prince, Sang 
Raja), karya Niccolo di Bernardo dei Machiavelli  (1469-1527). Sebuah buku yang 
sangat terkenal sepanjang masa, pernah dilarang oleh Paus Clement VIII, dan 
menimbulkan salah penafsiran berabad-abad; juga memunculkan stigma: 
'Makiavelist', pencinta kedigjayaan, menghalalkan segala cara untuk memelihara 
kekuasaan, dlsb.
Namun Foucault L4 (lu lagi lu lagi), menjelaskan bahwa ada 'kesalahan persepsi' 
berabad-abad tentang maksud Machiavelli, sebagaimana disebut dalam tulisannya 
"Governmentality" (terjemahan tidak sempurna dan tidak lengkap tersedia di 
milis Kebudayaan). Saya menangkap dari Foucault bahwa Il Principe merupakan 
tulisan fenomenologi tentang seorang 'Prince' yang dikarakterisasi satu prinsip 
('princ'iple) dalam posisi 'princ'ipal- nya dengan eksternalitas dan 
transendental, untuk mengukuhkan 'princ'ipality- nya. Jadi sebenarnya pada era 
itu (awal abad 16) sudah ada 'gerakan reformasi dan dekonstruksi' di daratan 
Eropah, yang kemudian dikenali sebagai Renaissance Age (era pencerahan, raushan 
fikr, aufklarung). Selain Machiavelli terdapat beberapa penulis lain yang 
meng-kawal-i era tersebut, namun memang hanya tulisan Machiavelli yang diserang 
habis-habisan selama berabad-abad. Terdapat berbaris-baris penentangnya, 
seperti Ambrozio Politi, Innocent Gentiller,
 de La Perriere, Th Elyott, P Paruta, dll, ini di era abad 16 saja. Namun baru 
dua abad kemudian ada pendapat yang berbeda disampaikan oleh JJ Rousseau yang 
berbicara tentang 'ruang kedaulatan'; serta dua abad kemudian hal ini 
diperjelas lagi oleh seorang Foucault.
Kurang lebih penafsiran Foucault: analisis tentang The Prince sudah diwarnai 
berabad-abad dengan konsep 'the art of government' (padahal Machiavelli hanya 
berbicara tentang 'fenomenologi' , ini tafsiran saya atas tafsiran Foucault); 
dan aspek 'mentality' dapat dipisah dari ruang 'soverignity' .
Demikian. Salam.
-ekadj







      

Kirim email ke