Rekans ysh, ....semoga kajian dan peran rekans selanjutnya juga tidak hanya berorientasi antroposentris makro saja tetapi juga aspek-aspek ekologis mikro (lokal) sehingga lebih konseptual dan membumi... ....lahirnya kesadaran eksistensi vernakulerism maupun pemahaman melalui pendekatan fenomenologis juga karena aspek ekologis tidak dipandang enteng sebagai bagian dari eksistensi kepentingan antropogenik tersebut... .....eksistensi (unsur, sumber daya, potensi, risiko, dsb) alam bukan sekadar tempat atau lokasi yang bersifat pasif atau pelengkap penderita...bahkan perlakuan manusia terhadapnya dapat menjadi bumerang masa depan generasi (alam dan manusia) penerusnya....
Salam, ATA 2010/1/29 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Pak Risman, saya baru tahu dari Pak Deden rabu kemarin bahwa cara berpikir > yang struktural-hirarkis dengan model-model kota ideal yang diambil dari > khasanah "barat" (bukan menegasikan barat ya) jika diterapkan di habitat > kehidupan kita adalah "memaksakan" cara pikir tertentu pada situasi lokal > yang penuh keunikan. Saya melihatnya semacam "kolonialisasi baru" dan itu > menurut Pak Deden berbau Chicago dan Los Angeles dengan landasan "mean-end" > approach. Jika kita ingin mengembangkan nasionalisme kita dalam bidang > intelektual (planning) dan "bangga suka desa" atau "kampung" (dengan menu > tempenya) menjadi sumber teori bagi perencanaan ruang-ruang kota kita, > tampaknya hirarki yang idealistis konon memang harus ditinggalkan, minimal > dikaji secara kritis se kritis-kritisnya. Hasilnya mungkin adalah > modifikasi, persenyawaan atau percampuran pemikiran lokal dan yang lain, > maka jadilah posmodernisme dalam perencanaan ruang kota. Jika kita tetap > keukeuh dengan imajinasi struktural-hirarkis seperti Eyang saya ABY yang > terhormat, tampaknya kita terjebak pada "planning for the sake of > planning".....Apakah begitu, nyuwun sewu Eyang ABY.... > > Seminar kemarin menginspirasi bahwa kampung dan desa menjadi sumber teori > perencanaan ruang kota....jika dulu kita disebut "bangsa tempe" adalah > berkonotasi rendah-lemah, maka sekarang harus dimaknai secara baru....tempe > atau krupuk harus menjadi kebanggaan kita....meskipun tidak soliter dari > gagasan-gagasan orang lain.... > > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On *Fri, 1/29/10, R Maris <[email protected]>* wrote: > > > From: R Maris <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010 > To: [email protected] > Date: Friday, January 29, 2010, 11:31 AM > > > > Pak Mod, Pak Aby, Pak Djarot, teman-teman, > Yah begitulah Pak Aby, kini sakkenanya saja ngopi dan nginep, sepanjang > asam urat mengizinkan, harap maklum. > Sangat ingin meninjau lagi konsepsi Pak Aby tentang membangun hirarki > kota-kota Nusantara. Mulai Kota Kecil Pusat Layan Desa, sampai ke Metropolis > dan Megapolis itu, dan bagaimana yang dua terakhir ini perlu didistribusikan > secara pintar ke tiap pulau; mulai dengan Makasar, target berpenduduk lima > juta bukan? Sungguh perlu satu badan independen pemerhati, peneliti, dan > pengawal pembangunan kota berencana --- say, metropolis Banda Aceh, Medan, > Pakanbaru, Palembang, Pontianak, Ketapang, Pangkalan Bun, Banjarmasin, > Balikpapan, Tanjung Redeb, Manado-Bitung, Makasar, Bari (di Buru), Masohi, > Ambon, Fakfak, Jayapura, Merauke, Kupang, Waingapu, Mataram, Banyuwangi, > Probolinggo, Pekalongan, Tegal, Banten, Merak-Cilegon. Kemudian megapolis > Jakarta-Bandung, Cirebon-Cilacap, Semar-Joglo, dan Suramadu-Jombang- Kediri, > masing-masing berapa, 25 juta penduduk pemukim? Jadi seratus juta di Jawa > nan sesak sudah dapat kita sediakan ruang urban yang relatif baik dan rapi, > tidak ekstensif lapar lahan. Kita tanya kawan-kawan di DitJen Taru, apa > versi terbaru 'National Urbanization Policy'? Tentu untuk gambaran program 5 > - 10 tahun sudah ada PP No 26 Th 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah > Nasional; yang barangkali lebih lancar geraknya jika bisa diterangkan > melalui kebijakan perkotaan nasional dari setiap Presiden+Kabinet yang > sedang berkuasa. Termasuk alokasi anggaran technical assistance, fora, serta > insentif/disinsenti f konstruksi kota-kota. Apa kata DPD? > Pak Aby dan Pak Mod, kali ini terdorong semangat saya oleh karena melihat > begitu berjubel-jubelnya uang negeri ini: semua software di atas barangkali > tak akan memakan biaya lebih dari 10 mobil menteri dan10 rumah anggota DPR. > Kemudian program kabinetnya coy! Bertangkaikan jembatan Selat Malaka, > jembatan Selat Sunda, jaringan Nasional jalan, energi dan infrastruktur > lainnya, peningkatan pelayanan pelabuhan, revitalisasi industri manufaktur, > pendidikan, kesehatan, wah, rasanya physical planner itu akan dipisuhi > masyarakat jika tak membantu menjawab: DI MANA dan KAPAN? Dan tentu saja, > sebaiknya dijawab SEPULUH TAHUN sebelum upacara ground breaking! > Terima kasih kepada Pak Djarot mengingatkan kita akan Perancis, negeri > termaju di Eropa pada masanya itu, saking majunya di tahun 1789 saja semua > raja dan bangsawan di guillotine, menjadi Republik dengan perlu bersusah > payah melalui fase Napoleon dan Kekaisaran segala. Sungguh dipujiken jika > Pak Darwis bisa bercerita di sini tentang peran keilmuan Perancis bagi Asia > Tenggara, Indonesia khususnya --- ingat saya terakhir Denys Lombard dengan > bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya. Hallo Pak Dadang DJPR, ingat studi orang > Perancis tentang Dayak di tengah Kalimantan itu, saya berikan situ karena > saya tak bisa berbahasa Perancis? > Pak Mod dan Pak Djarot, berbagai cara pandangan hidup cq filsafat yang > dibawa oleh semua pendatang ke arkipelago yang begini terbuka, sejak > Mongol/Proto Melayu, Vietnam/Deutero Melayu, India, China, Arab, Barat, dll > pastilah berinteraksi dengan manusia Nusantara yang sudah ada sejak dua > setengah juta tahun itu, Jawa phitecantropus erectus dan orang Flores atau > keturunannya. Saya duga ada tiga macam godokan yang terjadi: gado-gado, > bawang, dan hidangan (Padang). Gado-gado budaya umumnya di semua pesisir; > berlapis-lapis kulit bawang umumnya tercipta di pedalaman yang jika dikupas > satu persatu menyisakan keheningan buddhistik barangkali, atau pemujaan > nenek-moyang dan animistik. Yang hidangan itu, Pak Mod, salah satu contohnya > Minangkabau, semua pikiran yang datang jadi piring lauk-pauk tersendiri, > tetap terpisah dan jelas, boleh dimakan boleh tidak: asal nasinya tetap saja > matriarchy, adat mamak-kemenakan, adat Datuk Katumanggungan dan Datuk > Perpatih Nan Sebatang; Adityawarman boleh datang boleh pergi, tak setapak > lahan atau sebuah dangau yang dapat diakunya sebagai hak milik. > Maka bicara-bicara mazhab dalam Indonesian School of Planning, tidakkah > sekurangnya akan terdapat tiga buah, berlandaskan tata serapan gelombang > alam pikiran dunia itu? > > Wassalam, > Risman Maris > > > On Jan 23, 2010, at 8:01 AM, hengky abiyoso wrote: > > > > Halo pak Risman ysh, > > Trims atas sapaan hangatnya …. Sudah agak lama gak jumpa ya? ….. saya > sebenarnya ingin banyak men-stigma-in bapak dan ingin banyak mendengar > stigma-an > dari bapak lho…. Tapi bgmn kalau caranya sambil kita kopi darat dan > nginep lagi di cipanas spt waktu itu?….. atau barangkali cukup sore2 saja > gitu kita stigma2an berdua dikantornya mas Panpan sambil godain pak Eka > kalau kebetulan beliau pas lewat?...... .salam, > > aby > > --- On *Fri, 1/22/10, R Maris <par...@indo. net.id>* wrote: > > > From: R Maris <par...@indo. net.id> > Subject: [referensi] Tantangan 2010 > To: [email protected] > Date: Friday, January 22, 2010, 1:00 AM > > > STOP PRESS! STOP PRESS! BREAKING NEWS ........ !!!! > > Kepala Negara, Bapak SBY, berapat komunikasi di Bogor dengan segenap > pimpinan lembaga tertinggi negara yaitu DPR, MPR, MA, KY, MK, BPK. Dalam > konferensi pers Kamis sore 21 Januari 2010 seusai rapat tersebut Bapak SBY > menyatakan, telah dibahas dan disepakati untuk sepanjang 5 tahun ke depan > semua lembaga negara sangat memperhatikan 13 poin masalah/issues beserta > ancang-ancang pokok penyelesaiannya ...... > > > > > *From: * Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. > com<http://mc/[email protected]> > > > > *Subject: * *Re: [referensi] Tantangan 2010* > > *Date: * January 22, 2010 8:45:32 PM GMT+07:00 > *To: * refere...@yahoogrou > ps.com<http://mc/[email protected]> > *Reply-To: * refere...@yahoogrou > ps.com<http://mc/[email protected]> > > Sahabats, > > Teman saya Darwis Khudori yang bekerja di Perancis menulis bahwa eropa dan > amerika berakar pada pohon yang sama, sedangkan nusantara memiliki akar yang > berbeda. Tampaknya kiat mesti jernih memandang persoalan filsafat barat dan > timur ini. India dan Cina punya akar pohon yang berbeda pula. Saya tidak > tahu apakah ilmuwan filsafat (maksudnya sarjana filsafat) dan jurusan > filsafat juga tertarik meneliti "filsafat vernakular" ini ??? > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk. > <http://realmwk.wordpress.com/>wordpress.<http://realmwk.wordpress.com/> > com <http://realmwk.wordpress.com/> [Blog Resmi MWK] > http://forumriset. > <http://forumriset.wordpress.com/>wordpress.<http://forumriset.wordpress.com/> > com <http://forumriset.wordpress.com/> [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologi <http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/> > arsitektur. > <http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/>wordpress.<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/> > com <http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/> > > --- On *Thu, 1/21/10, R Maris > <par...@indo.<http://mc/[email protected]> > net.id <http://mc/[email protected]>>* wrote: > ............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... > ......... ......... > ............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... . > > > >

