Ok setuju pak, tapi bgm memulainya? Waktu saya nyebutkan tim2 kerja yg
dulu pernah secara bersama2 bekerja, bukan bermaksud exclusive. Tapi
lebih sebagai penggerak awal. Tentu semua fihak perlu dilibatkan, tapi
pada saat dan kesempatan yg pas, utk permasalahan yg pas pula. Mis
sekarang dirasakan perlunya ada urban land policy yg pro poor, tentu
bpn, dsb perlu dilibatkan, kalau tidak yg berprakarsa. Mis
pengembangan kota yg potensial utk pariwisata, menbudpar dan tentunya
local stakeholder, perlu terlibat. Dst. Tapi bgm hal ini dimulai? Anda
menyarankan Komisi Nasional Independent (tentunya utk pengelolaan
perkotaan?), kembali lagi siapa yg memprakarsainya? Oleh karena itu,
bisa nggak local gvt/local stakeholder lainnya yg ambil inisiatif dan
kita dukung,dgn teori,gagasan, atau ide2 yg bisa kita sumbangkan?
Mohon sumbangsaran,utk kita semua tentunya.
On Feb 3, 2010, at 8:02 AM, hengky abiyoso wrote:
Milisters ysh,
Ibu Prof. Dr. Budhi TS menulis :
“…..Setuju banget pak, tapi saya pribadi tidak tahu di kemendagri
siapa yang paling 'enak' diajak action/ omong2 perihal kota. Dulu
jaman IUIDP kita punya kelompok TKPP atau IMG dimana mendagri aktif
terlibat, bersama2 pak sidabutar/pu, pak saad basaib/bappenas, pak
arlen pakpahan/keuangan, waktu itu depdagri pak sudarsono. Sekarang
generasi
muda Dagri yg 'care' ttg perkotaan siapa ya?.......”
Bekerja per model n modal pertemanan yg akrab tentu memiliki sisi
keuntungannya … plus poinnya banyak urusan jd cpt n lancar jalannya
…..namun model (budaya kerja) begini juga spt ada plus minusnya jg
…….kalau tak kenal siapapun lalu maka urusan jd mandeg/ tak sanggup
mengerjakan …..sistem pemerintahan oligarki berwarna takterlalu
jauh dari situ ….negara hanya dikelola oleh sedikit sekali orang yg
saling bertemanan ……yg tak dikenal tak disertakan…..
Utk konteks tertentu itu tdk buruk namun dinegara demokrasi dan yg
katanya sedang mengembangkan good governance ini…. kiranya model
kelembagaan/ pelembagaan sistem kerja scr konstitusional/ dilindungi
UU utk jngk panjang akan tak lbh buruk hasilnya …..dlm hal ini
penataan ruang/ pengembangan sistem kota secara nasional memerlukan
apa yg biasa disebut namanya sbg l/k. lembaga “Komisi Nasional
Independen” (semacam KNKT, Komnas HAM, KPK, KPPU dsb…. Yg scr
nasional sama levelnya dgn eksekutif/ seluruh kabinet dan bukan
hanya satu/ dua kementerian yg kiranya terkait….. kalau mengacu ke
BKTRN … kementerian terkait malahan lbh luas : selain Deppagri ada
jg Dephankam, Deptan, BPN .. dan kenapa pula Dep Perin Deparbud tak
dimasukkan serta?.....
Dgn Komisi Nasional (Independen, yg personelnya dipilih terbaik dari
rakyat dan diangkat oleh DPR) tak akan ada lagi ewuh pakewuh kpd
eksekutif dari kementerian apapun …..tak akan ada lembaga
eksekutif manapun dari kabinet yg akan pandang enteng dan sulit
ditemui…… begitu komisi independen ini menelpon mereka akan
bergegas menerima atau kalo gak DPR akan naik pitam mendengar Komisi
Independennya dilecehkan eksekutif……
Dgn Komisi Independen yg dibentuk secara konstitusional tak akan ada
lagi pertanyaan “generasi muda Dagri yg ‘care’ ttg perkotaan siapa
ya?”…….brani2 gak ker mrk akan tahu sendiri akibatnya …….hanya
bedanya ….kalau DPR membentuk Pansus …. Warna terkuat dari
kinerjanya adalah politik dan kepanjangan (saling) kepentingan
partai2 …..sementara itu kalau Komisi Nasional Independen …..warna
terkuat kinerjanya adalah sisi ilmiah, obyektivitas selain juga
kesantunan berbahasa dan bersikap kpd eksekutif………
Pada sisi lain lagi ……pd akhirnya yg terbanyak “mewarnai”
pembangunan perkotaan adalah setidaknya para industrialis (trmsk
pula pengembang) sbg bagian dr ujung tombaknya yg penting dan sektor
informal sbg katup pengaman kesempatan kerja…… jadi akhirnya tanpa
kerjasana yg luas tetap saja tak akan ada kelompok kecil hebat yg
dpt bekerja sendiri mengubah keadaan………salam, aby
Tuesday, February 2, 2010 2:14 PM
From: "Budhy TS Soegijoko" <[email protected]>
Setuju banget pak, tapi saya pribadi tidak tahu di kemendagri siapa
yang paling 'enak' diajak action/ omong2 perihal kota.
Dulu jaman IUIDP kita punya kelompok TKPP atau IMG dimana mendagri
aktif terlibat, bersama2 pak sidabutar/pu, pak saad basaib/bappenas,
pak arlen pakpahan/keuangan, waktu itu depdagri pak sudarsono.
Sekarang generasi muda Dagri yg 'care' ttg perkotaan siapa ya?
On Feb 2, 2010, at 8:46 PM, Risfan Munir wrote:
> Bu Yati dan Rekans ysh,
>
> Dalam kaitan dengan MANAJEMEN perkotaan, mungkin dengan otonomi
> daerah, satu faktor penentu skenario NUDS (kecepatan desentralisasi)
> menjadi jelas. Dalam kaitan kelembagaan mungkin Kemdagri,
> khususnya DJ Otda dan Bangda juga perlu diajak lagi (bukan hanya PU
> disamping Bappenas). Karena pada era otonomi daerah ini, terutama
> Otda termasuk yang masih kuat pengaruhnya. Jangan sampai timbul
> kesan 'urusan perkotaan' adalah bagian dari urusan ke-PU-an semata
> (parsial lagi).
> Sementara dari PU sendiri sekarang ada DJPenataan Ruang dan DJ Cipta
> Karya. Disamping Kementerian Perumahan Rakyat, dimana para
> pengembang (the real urban developer) bernaung. Nampaknya MANAJEMEN
> koordinasi di tingkat nasional ini perlu perhatian tersendiri.
>
> Perhatian ke aspek MANAJEMEN ini penting, mengingat instrumen bagi
> NUDS seperti IUIDP yang mengandalkan loan kemungkinannya tidak
> sekuat dulu. Sekarang mau tak mau geser ke mengandalkan otonomi
> kota, yang dana 'pembangunan' nya sudah bergeser 'anggaran
> pelayanan', selain besarnya juga terbatas.
>
> Salam,
> Risfan Munir