Milisters ysh,
Ibu Prof. Dr. Budhi TS menulis :
“…..Setuju banget pak, tapi saya pribadi tidak tahu di kemendagri siapa yang
paling 'enak' diajak action/ omong2 perihal kota. Dulu jaman IUIDP kita punya
kelompok TKPP atau IMG dimana mendagri aktif terlibat, bersama2 pak
sidabutar/pu, pak saad basaib/bappenas, pak arlen pakpahan/keuangan, waktu itu
depdagri pak sudarsono. Sekarang generasi
muda Dagri yg 'care' ttg perkotaan siapa ya?.......”
Bekerja per model n modal pertemanan yg akrab tentu memiliki sisi
keuntungannya … plus poinnya banyak urusan jd cpt n lancar jalannya …..namun
model (budaya kerja) begini juga spt ada plus minusnya jg …….kalau tak kenal
siapapun lalu maka urusan jd mandeg/ tak sanggup mengerjakan …..sistem
pemerintahan oligarki berwarna takterlalu jauh dari situ ….negara hanya
dikelola oleh sedikit sekali orang yg saling bertemanan ……yg tak dikenal tak
disertakan…..
Utk konteks tertentu itu tdk buruk namun dinegara demokrasi dan yg katanya
sedang mengembangkan good governance ini…. kiranya model kelembagaan/
pelembagaan sistem kerja scr konstitusional/ dilindungi UU utk jngk panjang
akan tak lbh buruk hasilnya …..dlm hal ini penataan ruang/ pengembangan sistem
kota secara nasional memerlukan apa yg biasa disebut namanya sbg l/k. lembaga
“Komisi Nasional Independen” (semacam KNKT, Komnas HAM, KPK, KPPU dsb…. Yg scr
nasional sama levelnya dgn eksekutif/ seluruh kabinet dan bukan hanya satu/ dua
kementerian yg kiranya terkait….. kalau mengacu ke BKTRN … kementerian terkait
malahan lbh luas : selain Deppagri ada jg Dephankam, Deptan, BPN .. dan kenapa
pula Dep Perin Deparbud tak dimasukkan serta?.....
Dgn Komisi Nasional (Independen, yg personelnya dipilih terbaik dari rakyat dan
diangkat oleh DPR) tak akan ada lagi ewuh pakewuh kpd eksekutif dari
kementerian apapun …..tak akan ada lembaga eksekutif manapun dari kabinet yg
akan pandang enteng dan sulit ditemui…… begitu komisi independen ini menelpon
mereka akan bergegas menerima atau kalo gak DPR akan naik pitam mendengar
Komisi Independennya dilecehkan eksekutif……
Dgn Komisi Independen yg dibentuk secara konstitusional tak akan ada lagi
pertanyaan “generasi muda Dagri yg ‘care’ ttg perkotaan siapa ya?”…….brani2 gak
ker mrk akan tahu sendiri akibatnya …….hanya bedanya ….kalau DPR membentuk
Pansus …. Warna terkuat dari kinerjanya adalah politik dan kepanjangan (saling)
kepentingan partai2 …..sementara itu kalau Komisi Nasional Independen …..warna
terkuat kinerjanya adalah sisi ilmiah, obyektivitas selain juga kesantunan
berbahasa dan bersikap kpd eksekutif………
Pada sisi lain lagi ……pd akhirnya yg terbanyak “mewarnai” pembangunan perkotaan
adalah setidaknya para industrialis (trmsk pula pengembang) sbg bagian dr
ujung tombaknya yg penting dan sektor informal sbg katup pengaman kesempatan
kerja…… jadi akhirnya tanpa kerjasana yg luas tetap saja tak akan ada kelompok
kecil hebat yg dpt bekerja sendiri mengubah keadaan………salam, aby
Tuesday, February 2, 2010 2:14 PM
From: "Budhy TS Soegijoko" <[email protected]>
Setuju banget pak, tapi saya pribadi tidak tahu di kemendagri siapa yang paling
'enak' diajak action/ omong2 perihal kota.
Dulu jaman IUIDP kita punya kelompok TKPP atau IMG dimana mendagri aktif
terlibat, bersama2 pak sidabutar/pu, pak saad basaib/bappenas, pak arlen
pakpahan/keuangan, waktu itu depdagri pak sudarsono. Sekarang generasi muda
Dagri yg 'care' ttg perkotaan siapa ya?
On Feb 2, 2010, at 8:46 PM, Risfan Munir wrote:
> Bu Yati dan Rekans ysh,
>
> Dalam kaitan dengan MANAJEMEN perkotaan, mungkin dengan otonomi
> daerah, satu faktor penentu skenario NUDS (kecepatan desentralisasi)
> menjadi jelas. Dalam kaitan kelembagaan mungkin Kemdagri,
> khususnya DJ Otda dan Bangda juga perlu diajak lagi (bukan hanya PU
> disamping Bappenas). Karena pada era otonomi daerah ini, terutama
> Otda termasuk yang masih kuat pengaruhnya. Jangan sampai timbul
> kesan 'urusan perkotaan' adalah bagian dari urusan ke-PU-an semata
> (parsial lagi).
> Sementara dari PU sendiri sekarang ada DJPenataan Ruang dan DJ Cipta
> Karya. Disamping Kementerian Perumahan Rakyat, dimana para
> pengembang (the real urban developer) bernaung. Nampaknya MANAJEMEN
> koordinasi di tingkat nasional ini perlu perhatian tersendiri.
>
> Perhatian ke aspek MANAJEMEN ini penting, mengingat instrumen bagi
> NUDS seperti IUIDP yang mengandalkan loan kemungkinannya tidak
> sekuat dulu. Sekarang mau tak mau geser ke mengandalkan otonomi
> kota, yang dana 'pembangunan' nya sudah bergeser 'anggaran
> pelayanan', selain besarnya juga terbatas.
>
> Salam,
> Risfan Munir