Quo Vadis ...tanggapan rekans yang sudah Putri Solo ?

Salam,
ATA

2010/2/25 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Eyang ABY, dalam banyak kasus, peran pimpinan sangat menentukan. Tampaknya
> situasi semacam ini nyaris tidak terbantahkan, mungkin akan menjadi seperti
> hukum gravitasi saja. Sikap seperti ini bukan dilandasi sentimen atau
> diskriminasi mengabaikan yang kecil-miskin-tersingkir-difabel, melainkan
> inisiatif selalu datang yang serba kuat suberdayanya, kuat daya tahannya,
> kuat daya pikirnya, kuat kemauannya, kuat visinya, serba kuat dalam banyak
> hal termasuk jaringannya.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 2/25/10, hengky abiyoso <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: hengky abiyoso <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id]
> QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;
> Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL] [1 Attachment]
> To: [email protected]
> Date: Thursday, February 25, 2010, 10:36 AM
>
>
>
> Milisters ysh,
>
> Bhw terlihat disini keinginan walikota Jokowi utk ingin lbh meraih sukses
> pemerintahan lbh besar  lagi ........ditambah dgn cerita contoh dari rekan
> Djarot ttg manajemen RSUD Bantul yg menunjukkan praktek ttg good governance
> disuatu wilayah  yg  terlihat berjalan semakin baik dan hasilnya
> memperlihatkan kepuasan  masyarakat  .........namun perlu diingat bhw bagi
> masyarakat .....bila misalnya saja  ada 2 pilihan antara (1) miskin dan
> sempit lapangan kerja dan ada terdpt pelayanan good goernance spt biaya
> rumah sakit yg murah dan baik ......atau (2) banyak kesempatan kerja dan
> trdpt sistem upah yg baik dan segala sesuatunya harus bayar ........belum
> tentu bhw masyarakat akan memilih no (1) atau keadaan yg pertama diatas  
> .......dimana
> banyak diketahui dan dialami bhw yg namanya gratis atau murah itu tak
> selamanya nyaman, memuaskan dan terhormat .........utk konteks tertentu/
> dibbrp  tempat  lain ada saja model pelayanan gratis spt jankesmas/
> pengobatan gratis .......namun dikeluhkan bahwa  yg sekedar  namanya
> tempat duduk sajapun tidak disediakan ........jadi semenjak mengantri sampai
> memperoleh pelayanan ....masyarakat terpaksa terus-menerus berdiri ......blm
> lagi bhw bisa saja obat yg didapat adalah serba sederhana/ ala kadarnya  
> ........krn
> itu janganlah kita mengira bhw pemda/ pemerintah yg terlalu banyak berpikir
> bhw pemerintah/ pemda   adalah ‘segalanya’ dan atau adalah  tempat  ‘pusat
> kehidupan/ pusat kegiatan’ yg terhebat sekali dan luar biasa (saya tak
> katakan  pak Jokowi gitu lho) ...........bukan tak mungkin itu  malahan
> akan menciptakan bias baru dari  visi lama .......ialah (mengajak
> masyarakat luas) menganggap bhw  apa yg dikerjakan oleh pihak pmerintah
> adalah  selalu serba paling the best dan  ‘segalanya’ ......dan tanpa
> sadar  masyarakat  malahan spt diajak menjauh dari pemahaman ttg
> “mekanisme pasar bebas”  (laissez-faire) yg sebenarnya itu lbh merupakan  
> mekanisme
> liku2 kehidupan dan transaksi  yg riil/ nyata dan paling fair dimasyarakat
> dn itu justru bukanlah sesuatu yg jahat dan tak adil........ ..
>
> Tak harus memakai  segala data dan sistem yg serba njlimet dipemda.....
> ...asalkan segala sesuatu yg serba akan mendatangkan  investasi dan
> peluang2 kesempatan kerja baru terus saja dikembangkan ......dgn sendirinya
> pastilah masyarakat  akan otomatis  lbh sejahtera hidupnya
> .........faktanya di Solo sendiri cukup banyak rencana investasi pembangunan
> fisik yg dampak gandanya kpd perluasan kesempatan kerja maupun kpd geliat
> perkembangan  dari multisektor yg lain sudahlah pasti .......salam, aby
>
> *  *
>
> *  *
>
> *From: **"Walikota Joko Widodo" *
>
> Date: Fri, 19 Feb 2010 10:28:26 +0000
>
>
>
> Click here for 
> English<http://us.mc585.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&.tm=1267033090&.rand=64mkr9tkjgabs#Dear>
> version
>
>
>
> Rekan Yth,
>
>
>
> Sebagai walikota dari sebuah kota berpenduduk 700,000 di daerah Jawa Tengah
> , saya terus berupaya agar masyarakat lebih dekat berinteraksi dengan
> pemerintah daerah,  dan meningkatkan kesadaran mereka akan isu perkotaan
> dan berpastisipasi aktif di dalam keiatan pembangunan perkotaan.
>
> Untuk itu, saya ingin belajar dari pengalaman kota lain yang telah berhasil
> melibatkan warganya dan aparat kelurahan dalam melakukan pengumpulan dan
> pengintegrasian data sosial-ekonomi ke dalam proses perencanaan, dan
> berkontribusi dalam penyusunan insiiatif pembangunan yang lebih efektif.
>
> Dengan ini, saya ingin bertanya kepada anggota komunitas “Urban
> Development” untuk berbagi pendapat mengenai hal sebagai berikut:
>
> ·         Berdasarkan pengalaman anda; apakah data yang akurat akan membuat
> proses monitoring permasalahan,  pelayanan dan upaya peningkatan kinerja
> lebih efektif?
>
> ·         Berdasarkan pengalaman anda, bagaimanakah cara menyusun data
> sosial ekonomi sehingga lebih mudah dimengerti dan aksesible bagi warga dan
> aparat kelurahan dalam proses penyusunan kebijakan?
>
> ·         Apakah ada sistem data yang inovatif yang didesain untuk
> memungkinkan walikota untuk berkooordinasi dengan lebih baik dengan kepala
> teknis di setiap departemen? Jika ada, mohon informasinya mengenai sistem
> ini.
>
> Di akhir query ini, saya juga mencari contoh pengalaman dan cerita sukses
> mengenai investasi lokal yang mampu menghasilkan metode pengumpulan data di
> tingkat komunitas yang dapat dipercaya oleh warga
>
> Terima kasih sebelumnya atas saran dan perhatian anda untuk mendukung upaya
> kami meningkatkan tata pemerintahan lokal dan meningkatkan partisipasi
> warga.
>
> Salam,
>
> Walikota Joko Widodo
>
> City of Solo Government, Solo
>
> --- On *Mon, 2/22/10, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>* wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id]
> QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;
> Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, February 22, 2010, 5:39 PM
>
>
>
>   Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat kecil.
>
> Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan dikelola dengan TI
> dan kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat dipantau
> dengan seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis" yang akan
> mereka terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya dengar,
> sistem pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari budaya kerja para
> karyawan, sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola keuangan
> mereka. Saya dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI ini, yang
> transparan semacam itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD Bantul
> semakin maju karena telah ada di hati setiap warga Bantul, masyarakat puas
> dengan layanan dan karyawan puas dengan penggajian yang transparan.
>
> Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan publik,
> alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai kondisi semacam itu
> tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu selalu ada dialog -
> tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya dilandasi prinsip keadilan
> substansial.
>
> Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan
> angka-angka, tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses
> memperjuangkan keadilan dan hormat pada profesi serta menjunjung tinggi
> etika, rasanya ekselen juga !!!
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On *Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. 
> com>*wrote:
>
>
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id]
> QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;
> Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM
>
>
> Pak Aby yang baik,...
>
> saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan saya untuk
> mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu RUU
> Perkawinan dulu pak ,.. huehehehehee
>
> Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem informasi untuk
> koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat memungkinkan, ... contoh
> yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan yang linked
> (secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke Dinas
> Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring perkembangan
> pelayanan puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat kecamatan,..
> ... dan bisa mengkoordinasinya pula secara online,....
>
> salam,
> dwiagus
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:
> >
> > Halo mas Dwi yg baik,
> > Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan jawaban dari
> Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru berasal dari
> mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo sendiri maupun
>   oleh orang bukan asli Solo  lho.........
> > Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya sih
> syaratnya KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya silahken nanya
> sendiri kpd yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto misalnya .. semenjak
> mengawini ibu Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran) kariernya  lalu
> melesat dan bahkan sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan itupun ada yang
> bilang ..gara2 ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu bintangnya redup dan
> lengser..... . lalu Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri Solo dan
> hasilnya?... . ia menjadi menteri termuda (usia 36 tahun) bahkan kemudian
> menjadi ketua DPR dan malah skrg meraih gelar doktor dari UGM....... Amien
> Rais, Jendral Djoko Santoso dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) apalagi
> ........selain pada mengawini putri Solo mereka sendirioun konon juga asli
> Solo ......jadi maka gak usah ditanya lagilah bgmn hasil kariernya... ....
> > Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo itu
> ......silahken anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo
> ato belum....... kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya
> gimanalah gitu caranya ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses besar
> gitu lho ......salam,
> > aby
> >
> > Â
> >
>
>
>
>
>  
>

Kirim email ke