Dear All,
Kenapa ya, dalam sistem 'governace' kita selalu atau sering atau
sebagian besar "sangat" tergantung pada pimpinan/kepemimpinan. Klo
ganti kepemimpinan ganati pimpinan sistem bisa berubah sangat radikal.
Bahkan terkadang "sangat" merubah suatu peraturan. Dan peraturan itu
terkadang (klo ga sering) mengikat dan atau berdapak pada masyarakat.
Seperti perijinan 1 pintu (bukan satu atap) atau e-government atau
peraturan cara berpakaian atau larangan merokok, begitu ganti kepala
daerah, trus berubah klo atau tidak menjadi perhatian dari kepala
daerah berikutnya, sehingga aturan itu sering di langgar, bahkan oleh
aparat pemdanya. Padahal disitu dah ada DPR/D sebagai alat kontrol
pelaksanaan sistem. Jadi sistem itu tidak baku sesuai peraturan dan
perundangan. Oh ya ... DPR/D nya juga ganti ya, dan DPR/D ini juga
berhak menggagas peraturan.
Klo kebijakan pembangunan itu bisa berbeda, sangat tergantung pada
visi/misi pimpinan, pembangunan apa yang diprioritaskan, bukan merubah
atau menghilangkan peraturan yang sudah baik.
Rupanya masyarakat kita itu (mungkin) masih sangat takut sama pimpinan
bukan sama peraturan yang sudah disepakati sebelumnya. .. Bagaimana
ini bisa berubah ya ?

Salam
Atoksaja



On 2/23/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:
> Pak Dwiagus, tampaknya best practices sudah ada dan mudah ditemukan, tinggal
> bagaimana kita saja ya. Artinya, apakah kita punya skenario besar yang
> dilengkapi dengan detil skenario kecil-kecil menuju kepada visi yang jauh
> dan "terukur". Saya kok masih percaya kepada nasihat guru samurai saya,
> bahwa perang besar hakekatnya adalah sama saja dengan perang kecil-kecil
> yang sangat banyak. Memang persoalan leadership kadang hanyalah masalah ada
> tidaknya "lone samurai" dan "swordless samurai" di dalam teamwork yang
> terlibat dan mengawal perang itu.
>
> Kini sudah saatnya bertindak secara nyata dan dilandasi oleh "konsep perang"
> yang stratejik heheheheee.....untuk memenangkan perang bersama !!!!
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> wrote:
>
> From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id]
> QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;
> Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:55 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot,
> Iya pak. Di skala kecil, memang sdh byk yang coba utk kembangkan sistem
> informasi terpadu di RS. Tp ya itu, kuncinya di leadership kyknya.
> Di RS Zainal Abidin di Aceh juga mencoba yang sama. Tp masih terseok-seok
> sepertinya, ketika ganti kepemimpinan dan manajemen, tiba2 agak macet.
>
> Kalau di ngawi kalau ndak salah, sistem informasinya sudah sedikit
> menyangkut informasi sosial terkait kesehatan.
> Beberapa indikator status keshatan masyarakat jg terpantau oleh kantor
> kepala dinas. Jd memudahkan kepala dinasnya utk segera bertindak, kalau ada
> kasus2 tertentu. Akan lbh bagus lagi kalau sudah integrasi dengan sistem
> early warning .
>
> Bisa saja nanti dikembangkan jadi sistem informasi sosial-ekonomi daerah.
> Dengan sistem early warningnya. Misal kalau tiba2 ada desa yg tiba2 menurun
> produksi pertaniannya, langsung ada lampu merah kelap-kelip. Keren juga
> kayaknya.  Bisa jadi rumit, tapi tidak mustahil, apalagi kalau Putri Solo yg
> mengerjakannya.
> Hehehehhehee
>
> Salam, dwiagus
>
> »»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss... !!!From:
> Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> Date: Mon, 22 Feb 2010 17:39:56 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogrou
> ps.com>Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW:
> [se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data -
> Advice; Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat kecil.
>
> Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan dikelola dengan TI
> dan kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat dipantau
> dengan seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis" yang akan
> mereka terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya dengar,
> sistem pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari budaya kerja para
> karyawan, sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola keuangan
> mereka. Saya dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI ini, yang
> transparan semacam itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD Bantul
> semakin maju karena telah ada di hati setiap warga Bantul, masyarakat puas
> dengan layanan dan karyawan puas dengan penggajian yang transparan.
>
> Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan
>  publik, alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai kondisi
> semacam itu tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu selalu ada
> dialog - tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya dilandasi prinsip
> keadilan substansial.
>
> Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan
> angka-angka, tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses
> memperjuangkan keadilan dan hormat pada profesi serta menjunjung tinggi
> etika, rasanya ekselen juga !!!
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
> wrote:
>
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY:
> Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; Experiences.
> /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. Reply by
> 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Pak Aby yang baik,...
>
>
>
> saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan saya untuk
> mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu RUU
> Perkawinan dulu pak ,.. huehehehehee
>
>
>
> Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem informasi untuk
> koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat memungkinkan, ... contoh
> yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan yang linked
> (secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke Dinas
> Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring perkembangan
> pelayanan puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat kecamatan,..
> ... dan bisa mengkoordinasinya pula secara online,....
>
>
>
> salam,
>
> dwiagus
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:
>
>>
>
>> Halo mas Dwi yg baik,
>
>> Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan jawaban dari
>> Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru berasal dari
>> mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo sendiri
>> maupun   oleh orang bukan asli Solo  lho.........
>
>> Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya sih
>> syaratnya KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya silahken nanya
>> sendiri kpd yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto misalnya .. semenjak
>> mengawini ibu Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran) kariernya  lalu
>> melesat dan bahkan sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan itupun ada
>> yang bilang ..gara2 ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu bintangnya redup
>> dan lengser..... . lalu Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri Solo dan
>> hasilnya?... . ia menjadi menteri termuda (usia 36 tahun) bahkan kemudian
>> menjadi ketua DPR dan malah skrg meraih gelar doktor dari UGM....... Amien
>> Rais, Jendral Djoko Santoso dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) apalagi
>> ........selain pada mengawini putri Solo mereka sendirioun konon juga asli
>> Solo ......jadi maka gak usah ditanya lagilah bgmn hasil kariernya... ....
>
>> Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo itu ......silahken
>> anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo ato
>> belum....... kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya gimanalah
>> gitu caranya ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses besar gitu lho
>> ......salam,
>
>> aby
>
>>
>
>> Â
>
>>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

Kirim email ke