Setuju sekali Pak Aby, desain kota itulah yang mampu visioning banyak kalangan. nanti jadinya "begini". Nah, kalu sudah bagus bungkusnya, sekarang kontennya gimana? Tidak bisa juga bungkusnya saja bagus tapi isinya bodong. Isinya itulah yang masih dikelola dengan cara-cara purbakala oleh manajemen kota kita. Sistem sewerage, waste management, air bersih, perumahan, dsb. Absennya jeroan-jeroan inilah yang membuat sungai dan bantarannya dijadikan tempat tinggal informal, sungai jadi saluran air kotor raksasa, tempat buang sampah dsb. Jadi bukan karena mereka tidak peduli dsb. Masalah dan tantangannya memang tidak sederhana. Tidak bisa tidak, reformasi tata kelola kota, penguatan sektor publik, dsb, menjadi bagian pokoknya yang harus dibenahi... Kalau tidak? Kota itu tidak lebih jadi ajang spekulasi kapital saja... para kapitalis jadi spekulanya, para pejabat jadi makelarnya, sumberdaya publik yang tidak pernah terpupuk jadi umpannya, dan para profesional jadi pelayan-pelayannya... Rakyat miskin kota? Tidak jadi apa-apa. Mereka hanya jadi pengisi ruang-ruang sisa kota yang dibiarkan menunggu spekulan peminatnya...
Salam, Jehan --- On Tue, 3/2/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: Desain Kota [referensi] Memahami Permukiman dan Pengaturannya [1 Attachment] To: [email protected] Date: Tuesday, March 2, 2010, 10:15 PM [Attachment(s) from hengky abiyoso included below] Menyangkut konteks Jakarta Utara dan kawasan2 pesisir serta lahan basah pd umumnya ......khususnya berkait sistem sewerage, manajemen banjir dan nasib sungai2 .......nampaknya pemerintah dan para pihak perlu bekerja keras membalikkan paradigma pandangan masyarakat bhw .....sungai yg semula adalah bagian belakang dan bawah yg kotor, berbau dn menjijikkan serta sbg tempat membuang sampah dn warga seolah boleh sesukanya memperluas pekarangannya dgn mengurug dan mempersempit tepi sungai ........ itu harus diubah...... .... Pada RDTR/ RTRW yg baru berikutnya kelak .... sungai hrs diubah menjadi ‘riverfront atau riverside’ yg desain viewnya dn arsitekturnya harus dibuat menjadi sesuatu yg membanggakan ..........dan bukannya menjadi bagian ‘tak sedap’ dan ‘kotor’ serta tempat penduduk boleh seenaknya ‘memperluas lahan pekarangannya dgn cara mengurug tepi sungai yg berakibat ‘mempersempit lebar sungai’ ............ Bagi kota2 kawasan2 pesisir dan berlahan basah atau rendah spt Jakarta, Palembang, Banjarmasin, Semarang bawah, Makasar dsb ........ pmrth perlu menetapkan standar .....menghitung dan menetapkan kebutuhan mutlak total sungai2 dengan penetapan kelebarannya ... kedalamannya maupun desain distribusi anak2 cabang sungainya dan dgn itu mengubah bila perlu RDTR pada RTRW periode berikutnya (kalau kini DKI merehabilitasi RTH dgn membongkar pompa bensin .......pd RDTR/ RTRW berikutnya kelak bila perlu memperlebar sungai2 tertentu selain banjirkanal dgn membebaskan lahan yg diperlukan) ........kalau soal sbrp tinggi warga akan mengurug ketinggian lahannya masing2...itu tidak masalah..... .... Sungai2 beserta desain kelebarannya, desain kedalamannya serta desain distribusi anak2 cabang sungainya justru harus menjadi bagian awal dari fokus penetapan desain kota khususnya kota2 dgn topografi rendah ..........sungai2 yg lebar dan kejernihan airnya justru perlu digali keindahannya agar menjadi bagian khas dan menarik dari desain kota spt apa yg telah dibuat di New York/ Manhattan ...Sidney ...Rotterdam ...Amsterdam dsb......... . Lampiran : Kota2 muara sungai dengan desain yg menawan --- On Mon, 3/1/10, Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> wrote: From: Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Memahami Permukiman dan Pengaturannya To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, March 1, 2010, 1:39 PM

