Referensiers ysh. Saya lanjutkan lagi cuplikan pada bagian awal:
"Pada tanggal 13 Februari 1891, sebuah ekspedisi mulai menempuh jalan keluar dari Padang Panjang, sebuah kota kecil di Sumatera Barat, sebuah titik di pinggiran, sebuah stasiun di Hindia Belanda zaman akhir penjajahan, di luar stasiun itu kereta tak dapat kemana-mana. Tujuan ekspedisi itu adalah mensurvei wilayah di luarnya untuk sebuah rel baru menuju Siak, melintasi pulau itu, menuju pantai timurnya. Yang memimpin ekspedisi ini adalah Dr. Jan Willem IJzerman, insinyur utama Jawatan Kereta Api Belanda. Waktu itu usianya empat puluh tahun dan ia semacam manusia renaisan. Selain barangkali menjadi teknisi paling berpengaruh di balik pembangunan jalur-jalur kereta baru di Hindia Belanda, ia dikenal sebagai arkeolog amatir dan anggota masyarakat arkeologi di kota bangsawan Yogyakarta. Menjelang akhir hidupnya, dalam tahun 1924, IJzerman pun telah dikenal sebagai penggagas satu-satunya perguruan tinggi teknik dan yang pertama di Hindia Belanda zaman akhir penjajahan. Patung dadanya telah ditaruh di Taman IJzerman, dekat kampus sekolah itu di Bandung." "Selain IJzerman dan tiga orang Belanda lain,ada sekitar selusin hamba-hamba Jawa, dua puluh orang Jawa pekerja kereta api, sekitar 120 pembantu yang direkrut dari orang-orang Sumatera setempat. Ekspedisi itu membawa kopor-kopor, tempat-tempat tidur lapangan, kursi, lembaran kulit imitasi untuk berteduh, kasur-kasur, amunisi, kawat, tali, paku, parafin, sumbu, kamera foto, dan makanan." Perjalanan diperkirakan selama 2 minggu dengan menempuh hutan perawan. "... Salah satu orang Belanda dalam ekspedisi itu, Van Bemmelen menangkap momentum lain dalam penginderaan istimewa terhadap modernitas kolonial ini. Ketika mereka berjuang keras sepanjang salah satu sungai yang belum dijinakkan itu. "Dalam kebahagiaan saya, saya berteriak kepada (IJzerman) dan mendesaknya untuk mengagumi keindahan yang baru muncul di tepi kanan. 'Aku hanya melihat ke tepi kiri,' teriaknya menjawab, 'disinilah jalur kereta api itu harus diletakkan.'" "... Semula, kami berniat untuk memeriksa garis bujur maupun lintang titik penting dengan bantuan kronometer dan pengamatan astronomi, untuk pengukuran yang tersisa harus digunakan Smalcalder boussole paten. Tetapi segera, menjadi jelas bahwa, mengingat waktu yang terbatas yang kami miliki dan mengingat kekuatan kami yang terbatas, kami terpaksa puas dengan pengukuran sambil lalu saja yang dibuat dengan kompas sederhana dan pita pengukur". Dalam catatan terakhir setelah menyelesaikan ekspedisi di Siak, Van Bemmelen mencatat pengalaman di perjalanan sebagai "hari-hari kebebasan, kehidupan berkemah tanpa batas-batas, dan petualangan". Sementara demikian. Salam. -ekadj

