Kalau Penalosa telah kemana2 mengajarkan ttg how to design cities for happiness dgn caranya dan dgn daya yg (lumayan) ada..... lalu kita ingat brp jumlah penduduk negerinya dan brp GDPnya ......lalu kita mengingat2 berapa jumlah penduduk kita (235 juta) dan berapa GDP kita (sekitar US$4500) ..lalu berapa angka pengangguran kita (9 juta pekerja)...berapa angka penduduk (dibawah garis) miskin kita (belasan juta jiwa) ....lalu kita sebagai negara dgn penduduk banyak (235 juta) seharusnya memiliki basis ekonomi manufaktur yg kuat (dibanding Colombia yg hanya 45 juta jiwa, perekonomiannya ditopang dgn kedatangan 2 juta wisman dan masih mengekspor minyak pula) .....kita harus ingat bhw apa yg bisa dibangun/ dibuat oleh kota2 kita agar muncul happiness bagi penduduknya tidaklah akan secara mentah2 sama persis dgn mereka....... Apa yang dpt membuat penduduk kota menjadi happy pada dasarnya bagi tiap2 orang tidaklah sama ........happines utk anak2 berbeda dgn happiness utk para muda atau orang2 tua .....bagi orang2 tua sendiri happiness itu juga tidak sama satu sama lain.....bagi tiap2 kelas pendapatan happinessnya saling berbeda .....bagi beda profesi happinessnyapun saling berbeda pula....... bagi seorang pemulung apa yg kota dpt membuatnya menjadi happy adlh bila kota cukup banyak sampah non-organiknya dan disana tak terlampau banyak terdapat jumlah pemulung lain sebagai pesaingnya .....bagi pengemudi angkotpun demikian juga ...kota yg indah adlh kota yg banyak penumpangnya dan tak terlampau banyak terdapat angkot pesaingnya .... bagi birokrat, akademisi dan bisnisman pandangan2nyapun saling jauh berbeda .....bagi businessman dan industrialis serta para pekerja ....kota yg membuat mereka happy adalah kota2 yg penuh dgn pencakar langit, penuh dgn pabrik2 dn tak lupa jg seyogyanya penuh dgn masyarakat pendapatan menengah atasnya ......karena itu para perencana kita (se)harus(nya) dapat menyimpulkan .....bgmn mereka harus mendesain kota2 agar dapat menyenangkan seluruh warganya...... Walau ada bahaya pemanasan global dan penggundulan hutan ....nampaknya para perencana kota kita bukannya lalu harus mengurungkan semangat utk mendorong dibangunnya semakin banyak pencakar langit dikota2 besar kita (krn itu 2 hal yg berbeda)..... merekapun rasanya tak perlu ikut repot latah meramaikan mode kota dgn jalan2 tanpa asap kendaraan bermotor dan semacamnya pd hari2 tertentu .....krn itu biasanya lbh merupakan jatah kelatahan para walikota hasil menyontek kota2 negara maju dan rasanya sampai bbrp dekade kedepan masih tak akan banyak planner kita menjadi walikota ......krn jabatan walikota nampaknya msh lbh merupakan porsi mainan dan tawarmenawar partai2 politik........ Bagi para pakar perencana kota ....rasanya perlu diingat ....happiness warga kotanya tak semata2 diukur dari bgmn cantiknya kota dan seberapa luas ruang2 hijaunya.....namun lbh pada bgmn mula2 pekerjaan dan pendapatan yg baik dpt mudah diperoleh setiap warganya......bgmn jarak2 antar kota dan sistem hirarkhi kota dpt ditegakkan dgn baik dan industri manufaktur dpt dikembangkan dimana2 krn kita negara dgn penduduk (amat)banyak......dan barulah setelah itu terserah para arsitek, sosiolog atau para politikusnya mau menyontek model kota siapa.........salam, aby --- On Sat, 3/13/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (1) Can We Design Cities for Happiness? To: [email protected] Date: Saturday, March 13, 2010, 8:26 AM Enrique Peñalosa Londoño, mantan walikota Bogota, Colombia 1998-2001, yg sebenarnya potensial utk menjadi capres pada 2010 ini tetapi ia malah memilih nyalon menjadi walikota utk yg kedua kalinya dan malah gagal..... Ia kemudian memperoleh sponsor dari World Bank dan ITPD untuk berkeliling dunia memberikan kuliah tentang ‘bgmn menjadi walikota yg baik’...... Apa yg telah diperbuatnya semasa menjadi walikota dari ibukota Bogota yg berpenduduk 7 juta jiwa dari negeri berpenduduk 45 juta jiwa dgn tingkat urbanisasi 74% dan ber GDP US$9200 itu banyak sekali ....spt a.l. membuat Transmilenio, sistem BRT yg diconteknya dari Curitiba yg kemudian iapun dicontek pula walau setengah2 oleh Sutiyoso ....membangun puluhan gedung sekolah baru selain memperbaiki 150an yg lama, membereskan ribuan tempat parkir dikotanya, menanam 100.000 pohon dsb.....dsb. ...... Walau Colombia blm dpt dikatakan sbg negara sangat kaya ....namun apa yg dibuat oleh Penalosa di Bogota ataupun Jaime Lerner di Curitiba yg kemudian ditiru oleh banyak negara lain ...nampaknya tak terlepas dari kenyataan bhw sbg orang (dinegara) kulit putih (Penalosa/ Spanyol; Lerner/ Portugis) ....mereka memang terbiasa dgn budaya membuat inovasi berkelas dunia .....dan inovasi tak harus selalu datang dari negara termaju dan kota terbesar.... ..... --- On Mon, 3/8/10, w_binta...@yahoo. com <w_binta...@yahoo. com> wrote: From: w_binta...@yahoo. com <w_binta...@yahoo. com> Subject: [referensi] w_binta...@yahoo. com has shared: Can We Design Cities for Happiness? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, March 8, 2010, 7:20 PM artikel menarik, tks. salam, W. Bintarto Can We Design Cities for Happiness? Source: shareable.net w_binta...@yahoo. com sent this using ShareThis.

