Milisters ysh,
Walau  pd posting sblm ini saya katakan bhw utk kawasan tertinggal (85% wilayah 
nasional) diperlukan enjinering utk pembentukan bbrp kota2 besar tertentu 
(...berbarengan dgn enjinering migrasi/ memindahkan SDM unggulan ....serta jg 
enjinering penyemaian  pecahan2 kecil industri2 memimpin/ enjinering 
trans-investasi.....) .... tdk berarti bhw itu adlh satu2nya agenda penting 
tata  ruang pembentukan kota di kawasn tertinggal.........

Sbgmn pd umumnya enjinering adalah  ilmu logik, bukan ilmu kebatinan/ ilmu 
sihir dan setiap orang dpt mempelajarinya scr transparan, dan ia memiliki ciri 
khas  transparansi mekanisme kerjanya  .... transparansi perkembangan 
teknologinya ....transparansi persentase keberhasilan/  kegagalannya ataupun 
apa bahayanya  (spt dlm penerbangan konon resiko kecelakaan adalah 1:1.000.000 
penerbangan)........ maka  sewajarnya pulalah bhw PWKpun hrs mampu menunjukkan 
ancer2 ttg ‘berapa lama’ wktu yg dibutuhkan oleh suatu  macam teknologi PWK  
itu bekerja dan efek/ manfaatnya yg pertama mulai muncul serta  dpt dirasakan 
(sbg contoh ... dlm teknologi farmasi/ obat2an ....tingkat kecanggihan suatu 
macam obat termasuk jg dinilai dr berapa  menit sejak ia mulai masuk kedlm 
tubuh baik secara oral/  intravena lalu  diserap oleh darah dan mulai bekerja 
menunjukkan hasilnya ........jg dlm teknologi komputer ......daya kerjanyapun  
utk menilai apakah ia cepat
 atau lamban bahkan diukur  dlm persekian detik .......atau dlm teknologi 
otomotif  kemampuan gerak dinilai spt  dari keadaan diam utk mencapai kecepatan 
100km/jam  diperlukan waktu brp detik dsb)...........

PWK sbgmana merupakan  bagian dari rumpun sains  ‘teknologi’ (dibidang  
keruangan)  ...iapun seharusnya  berani dgn pedenya dan menganggapnya wajar 
memamerkan kepastian hasil nyata daya kerjanya ........ Enjinering PWK utk 
kawasan tertinggal amat perlu mendemonstrasikan bgmn tak hanya merencana 
penataan  ruang kota saja (yg belakangan banyak mulai dicibir sbg kok hanya 
merencana penataannya saja ....lalu tak jelas bgmn dn kapan pembentukan 
kotanya, serta kapan dpt dirasakan manfaatnya ) .......iapun  tentu dituntut  
hrs dpt mendemonstrasikan  bgmn teknologinyapun itupun  dpt bekerja  dgn pasti  
membentuk perkembangan kota ...... dan mampu pula menunjukkan berapa cepat ia 
dpt menunjukkan hasilnya itu  mulai come into effect dan dpt dirasakan 
manfaatnya diihitung semenjak pertama teknologi  itu  diterapkan ........  

Tak berlebihan pula bila  PWK seharusnyapun dpt memamerkan pula ‘apa saja’  
rentang papar produk teknologi keruangan yg dpt dibuatnya .......tak ubahnya 
tukang las listrik jg  kalau ditanya apa yg dapat ia bikin ..... mereka   dgn 
lancar biasanya dpt katakan bhw mereka dpt membuat apa saja pekerjaan las 
.....sejak dari  mulai   tingkat  membikin kandang burung, kucing dan kelinci 
....pagar rumah , ranjang besi  sampai kepada membuat karoseri bak truk, mobil 
panser ataupun kapal tanker raksasa  ..........lalu dgn itu manusia tanpa ragu 
mulai ‘mengakui’ bhw teknologi mengelas memang ya benar amat strategis dan 
bermanfaat bagi kehidupan/ kesejahteraan manusia .......... 

Maka  begitu pulalah seharusnya dgn teknologi2 lainnya .....spt teknologi sipil 
dpt membuat gedung pencakar langit dan jembatan....... teknologi arsitektur dpt 
membuat hati bangga, rasa megah dan nikmat serta  betah, teknologi gigi palsu 
dpt mengatasi masalah gusi ompong  dan tentulah pd gilirannya  PWK juga harus  
dpt menunjukkan  ........nih, suatu ruang yg bgmnpun tadinya asal muasalnya ... 
dimanapun ...toh  ia dpt  dibentuk/ diolah  menjadi  ruang yg nyaman, indah, 
dpt mendukung produktivitas dan menciptakan kesempatan kerja  .......dpt 
menjadi habitat  manusia yg menyenangkan dan  tanpa merusak alam 
..........salam,
aby

--- On Fri, 3/19/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: (5) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan Pembentukan Ruang
To: [email protected]
Date: Friday, March 19, 2010, 10:06 AM








Milisters ysh, 
Serba sebaliknya  dari apa yg ada dikawasan maju .....dikawasan tertinggal, PWK 
selain perlu lbh berunjuk gigi dgn aspek enjineringnya berupa karya2 nyata lbh 
drpd aspek legal regulatorik serta 'pengendalian'nya  ......otoritas,  
akademisi dan profesional  PWK juga perlu membalikkan sikapnya dari yg biasanya 
menjadi pihak yg dibutuhkan  .....agar menjadi pihak yg ramah dan persuasif kpd 
para investor, SDM kelas menengah ... juga perlu lbh mengakrabkan  diri dgn 
dunia/ psikologi  industri,  kewiraswastaan/ entrepreneurship pada umumnya 
serta manufaktur pd  khususnya ........oleh krn paradigma  PWK dikawasan 
tertinggal lalu utamanya bukan lagi sekedar RTRW, RTRWN, RPJM atau apalah 
lagi namanya... namun terbalik menjadi  : 
........(1) REMSDM atau rencana ‘enjinering  ttg bgmn memigrasikan  SDM kelas 
menengah atas’  dari kawasan maju utk diupayakan ditarik/ didorong pindah  
menuju kawasan tertinggal (atau = enjinering  bgmn memindahkan manusia  SDM 
kelas menengah dari habitat lama yg nyaman dikawasan maju pindah ke habitat 
baru yg serba tertinggal) ...... utk ini kaitan kebutuhan yg tak terpisahkan 
adlh pekerjaan dan gaji yg tetap tinggi yg ini dpt dijawab dgn industri 
manufaktur dan lingkungan/ arsitektur serta infrastruktur kota yg  relatif 
lengkap............... 
 ........(2) REPIKM atau rencana enjinering  utk mendorong penanaman/  
pemindahan sebagian investasi dari kegiatan2 (industri 2) memimpin  yg memusat 
dikawasn maju agar memindahkan sebagian kecilnya saja (shg samasekali tak 
mengganggu kinerja totalnya) kekawasan tertinggal ...........sbg ujung tombak  
pemicu aktivitas awal  dikawasan tertinggal (diperlukan seleksi,  bukan asalkan 
sebarang industri yg tak meyakinkan potensinya lalu disuruh pindah) .... ini 
berkait erat dgn poin (1) diatas 
..........(3) REUPKB atau rencana enjinering utk mengupayakan berkembangnya 
kota2 besar/ utama dikawasan tertinggal agar menjadi kota2 besar yg dinamis, 
menjadi kota utama bisnis dan berperan penuh sebagai bagian dari ‘mesin 
pertumbuhan dan mesin perekonomian nasional kita ....... poin (3) ini 
diperuntukkan kpd poin (1) dan jelas  tak terlepas dari aspek penggalakan 
arsitektur dan lingkungan serta upaya agar kota2 utama diwilayah tertinggal 
juga a.l. dpt  lebih bertampang kota modern/ internasional .....dgn atribut yg 
mudah dikenali dan disukai para bisnisman spt  ttg perlu adanya (sebanyak2) 
pencakar langit dan berbagai atribut2 lain pd  umumnya ttg kota modern) agar ia 
semakin menarik bagi investasi baik  oleh domestik maupun asing ........ 
  
Dgn demikian jelas bhw bbrp  kata2/ kalimat2  kunci paradigma Penataan Ruang  
dikwsn tertinggal yg adalah sekitar 85 % wilayah nasional kita adalah a.l. 
........ (1) ‘penggalakan’ enjinering pembentukan ruang kota (besar)  lbh utama 
 daripada PR sbg produk legal regulatorik dan yg amat kuat bersifat 
pengendalian  .......(2)enjinering utk memigrasikan SDM kelas kreatif/ kelas 
menengah/ kerah putih  sbg kandidat pelaku utama perekonomian kawasan  
.......(3)enjinering filialisasi industri memimpin/ enjinering persemaian 
industri manufaktur  shg kawasan tertinggal berangsur menjadi lbh maju krn 
berkembangnya budaya industri manufaktur perkotaannya  ........(4)enjinering 
ttg proyeksi pengembangan desain serta size kota2 tertentu dikawasan tertinggal 
agar menjadi kota2 besar yg vital .........(5) janganlah terlampau terpaku pd 
masalah tataruang nonperkotaan spt a.l.masalah tumpangtindih kehutanan dan 
agrikultur dan semacamnya  ......krn itu
 bukanlah satu2nya agenda penting tata ruang diwilayah   ......salam, 
aby 



      

Kirim email ke