Pak BTS dan teman-teman semua, Sebenarnya bukan perkara Gayus atau pajak corporate, tetapi ini adalah gunung es dalam ranah penggunaan dana publik.
Dana publik yang dikumpulkan dari publik tidak digunakan semestinya dan tidak sedikit yang akhirnya masuk kantong pihak-pihak tertentu, entah menggunakan pengelapan pajak, manipulasi pajak, uang lembur, uang rapat, uang meresmikan, dll. Bagaimana sekarang ini lebih didorong sebagai good and clean governance. Salam, Agus Priyono ----- Original Message ----- From: Bambang Tata Samiadji To: [email protected] Sent: Thursday, March 25, 2010 9:26 PM Subject: Bls: [referensi] Kasus Gayus Bikin Orang Malas Bayar Pajak Dear all. Gara-gara Gayus, masyarakat pembayar pajak jadi malas membayar pajak karena curiga uang pajaknya disalahgunakan. Pola pikir tersebut jelas salah besar. Lucunya kesimpulan macam itu keluar dari Pengamat Perpajakan. Kalaupun benar Gayus itu manipulator pajak, yang dimanipulasi adalah pajak badan (corporate), bukan pajak pribadi yang setiap tahun kita bayar. Jadi nggak ada alasan memboikot tidak bayar pajak. Selama ini pajak-pajak pribadi kita yang terkumpul langsung digunakan untuk membiayai pemerintahan. Pajak-pajak pribadi ini memang bisa bocor atau disalahgunakan, tapi modusnya melalui laku korupsi di pemerintahan, bukan modus seperti yang dilakukan Gayus. Thanks. CU. BTS. --- Pada Kam, 25/3/10, [email protected] <[email protected]> menulis: Dari: [email protected] <[email protected]> Judul: [referensi] Kasus Gayus Bikin Orang Malas Bayar Pajak Kepada: Tanggal: Kamis, 25 Maret, 2010, 6:47 AM Dan oh ya, kasus mantan Dirjen Pajak yang mempunyai harta 30-an milyar rupiah dari hasil "hibah" bisa menambah "kemalasan" ini lho. Benar, membayar pajak memang kewajiban setiap warga negara, namun ke mana setiap rupiah uang itu digunakan, setiap warga negara tentu saja berhak tahu. Salam, CA Source: http://www.detikfinance.com/read/2010/03/25/110533/1325041/4/kasus-gayus-bikin-orang-malas-bayar-pajak --begins-- Kasus Gayus Bikin Orang Malas Bayar Pajak Wahyu Daniel : detikFinance detikcom - Jakarta, Kasus makelar kasus (markus) pajak senilai Rp 25 miliar yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak Gayus Tambunan, berpengaruh buruk terhadap citra pemerintah di bidang pajak. Masyarakat menjadi makin malas membayar pajak karena uang hasil pajak rawan disalahgunakan. Demikian disampaikan oleh Pengamat Perpajakan Kodrat Wibowo kepada detikFinance, Kamis (25/3/2010). "Maraknya pemberitaan mengenai Gayus ini akan berefek buruk terhadap upaya pemerintah meningkatkan penerimaan pajak. Karena orang akan berpikir buat apa bayar pajak kalau ternyata uangnya disalahgunakan," tuturnya. Kodrat mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan dan Ditjen Pajak harus segera menjelaskan kepada masyarakat bahwa kasus Gayus ini merupakan permainan oknum yang memanfaatkan celah aturan perpajakan. "Ini harus segera dijelaskan, agar masyarakat mengerti. Pemerintah harus jelaskan bahwa kasus ini merupakan perbuatan oknum. Masyarakat yang tadinya berharap banyak dari pajak, saat ini jadi antipati," katanya. Di samping itu, target penerimaan pajak pemerintah tahun ini juga bisa terganggu. Jadi usaha pemerintah untuk menggiatkan masyarakat untuk membayar pajak akan luntur akibat kasus ini. "Target penerimaan pajak bisa gagal karena orang malas bayar pajak," tandasnya. Gayus Tambunan merupakan pegawai pajak dengan golongan IIIA. Namun kekayaan Gayus cukup membuat geleng-geleng diantaranya rumah mewah di Gading Park View dan apartemen di Cempaka Mas termasuk mobil mewah yang terparkir di halamannya. Pengadilan Negeri Tangeran memvonis Gayus Tambunan bebas dalam perkara penggelapan pajak pada 12 Maret 2010. Nama Gayus muncul setelah mantan Kabareskrim Susno Duadji bersuara soal adanya makelar kasus pajak senilai Rp 25 miliar. Kapolri Jenderal BHD kemarin menyatakan ada seorang tersangka dalam kasus Gayus Tambunan. Tersangka itu berinisial R. Mabes Polri pada Jumat (19/3/2010) menyatakan, Robertus adalah konsultan pajak yang menyetorkan Rp 25 juta ke rekening Gayus Tambunan, pegawai Ditjen Pajak. --ends-- Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links ------------------------------------------------------------------------------ Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)

