Teman-teman sekalian, Kalau kita diskusi dengan teman-teman dari Bakosurtanal dan Kemlu, kekhawatiran akan hilangnya pulau terluar kita (yang sudah diakui oleh para tetangga kita) oleh okupasi asing sangatlah berlebihan. Saya malah khawatir akan isu menarik investasi pada pulau-pulau tersebut....saat ini mungkin kebijakan menarik investasi itu bisa dimaklumi....tetapi di masa mendatang akan terjadi saling menyalahkan. Hal ini sudah terjadi pada pulau-pulau kecil kita yang dijadikan resort oleh perusahaan asing/patungan. Saya melihat sendiri, bagaimana seorang komandan kodim mengusir para turis keluar dari pulau tersebut, karena menurut komandan tersebut...pulau itu milik Indonesia (kesalahan ini sampai dibenarkan oleh pangdam...karena menurutnya disitu tidak dipasang bendera merah putih dan tulisan "petunjuk".yang ada semuanya menggunakan bahasa Inggris). Ini terjadi bukan di pulau terluar tapi masih di pulau pada laut dalam indonesia. Bagaimana seandainya untuk pulau terluar...??? Beberapa pulau yang dilindungi, juga ada yang dipermasalahkan oleh para prajurit TNI...karena mereka dilarang memasukinya ....
Ada isu lain yang saya amat khawatirkan, yakni begitu mudahnya kita melepas tanggung jawab sebagai negara dengan mengatakan kita hanya membuang-buang uang ....atau mencarikan investor untuk membangun daerah terpencil.......Saya sering merenung...betapa sedihnya warga negara Indonesia yang harus tinggal dan menjaga pulau-pulau kecil kita, serta daerah perbatasan terpencil...jika untuk menyediakan kebutuhannya saja negara harus menunggu investor....Bagaimana kewajiban negara melindungi segenap rakyatnya dan seluruh tanah airnya. Salam Aunur Rofiq ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, March 28, 2010 5:24:29 PM Subject: Re: [referensi] Re: (Bangun Apa?) Investasi Dikhawatirkan Pinggirkan Rakyat Lokal Pengamanan pulau terluar selalu dikatakan prioriitas. Dananya banyak bertebaran di berbagai departemen. Namun hanya sedikit yg konkrit, sebagian besar hanya utk meeting, seminar dan sejenisnya. Issue okupasi juga suka dibesar2kan krn semua pulau sudah bernama dan sudah ada patoknya. Patroli jg rutin diakukan dgn dukungan APBD. Di lapangan isuenya soal berebut backing illegal fishing and traficking. Anda harus kesana utk ikut bicara. Jangan sampai seperti salah seorang teman kIta yg planner itu, yg bikin RTRW natuna tanpa pernah kesana, sehingga hasilnya jadi bahan terawaan semua. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! ________________________________ From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Date: Sun, 28 Mar 2010 02:35:24 -0700 (PDT) To: referensi<refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] Re: (Bangun Apa?) Investasi Dikhawatirkan Pinggirkan Rakyat Lokal Mengurus pulau2 terluar (92 buah?) utk konteks Indonesia memang bukan pekerjaan yg amat menyenangkan ....tetapi itu adlh kewajiban negara yg tak enak namun suci ......janganlah ketika suatu saat nanti salah satu pulau terluar kita dicaplok orang lain (mudah2an tak akan terjadi) lalu pertanyaan “mau bangun apa dipulau terluar” (walau tak ada pretensi negatip dari pertanyaan ini ) ingin tidak dikecam orang....... ... Sebuah keluarga yg memiliki 7 anak lalu yg 2 orang cacat/ lumpuhpun belum tentu si orangtua lalu menyia2kan yg cacat dan tak mau mengurusnya walau mereka sadar itu hanya akan membuang tenaga dan biaya saja........ .. Urusan perbatasan/ pulau terluar kalau hanya dgn Malaysia atau SIngapura saja sih masih mending ......coba bgmn kalau urusannya dgn Australia yg masih ada kaitannya dgn ‘british rules the waves’ itu ......kita tahu pulau terpencil Christmas punya Australia walau amat terpencil namun lumayan bisa utk basis pertahanan mereka hanya krn sejarah ‘rules the waves’ itu ....... ‘sengketa’ pulau Pasir/Ashmore Reef di Timor bukan perkara mudah utk dimenangkan Indonesia... ......... Memang benar pertanyaannya ..... kalau Cuma berupa gundukan batukarang tanpa sumber air mau bangun apa dipulau terluar?.... ....tapi pertanyaan demikian kalau sampai dilontarkan oleh seorang planner sebaiknya jangan kenceng2 ......takut terdengar oleh masyarakat non-planner diluar sana........ . Mengelola pulau terluar seberapapun berat, seberapapun miskin dan amat tak menguntungkan kondisinya .......ada 2 aspek kepentingan yg sama/ berbeda antara negara sebagai pemiliknya (sektor hankam sbg yg paling waswas) dan pihak2 yg ingin/ mau mengelolanya. ....... Bagi negara..... asalkan jelas bhw pulau itu dikelola dan secara hukum internasional ia semakin jelas posisinya sbg milik Indonesia dan semakin jauh kemungkinannya dari sengketa dgn negara tetangga ......walau secara material brkali tidak terlampau menguntungkan misalnya ...itu tentu masih bagus dan bersyukur bagi negara kita....... Bagi swasta (lokal/ asing) yg berminat mengelolanya ........tentu setidaknya terdapat alasan positip kuat sebagai landasannya. ...... utk kasus pulau Nipah misalnya... kalau benar Singapura akan menyewa/ mengelolanya ........satu plus point awal adalah setidaknya ...kalau ia mau dibuat sbg resort pariwisata ......setidaknya penduduk Singapura akan bosan kalau setiap kali harus hanya berurusan dgn pulau2 mereka sendiri yg itu2 terus .....utk petualangan sport boating misalnya ......pulau2 mereka sendiri jaraknya terlampau dekat sehingga kurang ada ‘tantangan’nya .....sementara itu kalau pulau Nipah jaraknya jelas ‘lumayan’ (tapi tidak terlampau jauh) dan masih ada lumayan ‘tantangannya’..... Masalah air bersih dll tentu sdh menjadi kalkulasi ...... Utk pulau2 terluar kita yg lain ......bagi kita... sinar matahari yg sehari2 memanggang kita rasanya sudah bukan lagi sesuatu yg istimewa atau malahan menjadi semacam ‘musuh’ (kita perlu peneduh, payung, sunscreen dsb) .......tapi bagi orang2 Inggris, AS atau Eropa Utara ......matahari sepanjang tahun adalah ‘keajaiban’ yg luar biasa .......dgn uang yg melimpah mereka akan memburunya sambil berlibur.... ..... Kalau misalnya dipakai utk resort pariwisata .......pulau yg tak dihuni malah memberi keuntungan yg lumayan ....setidaknya investor yg utk proyek wisatanya nanti akan kedatangan wisman2 ya berbikini .....mereka tak perlu pusing menghadapi demo oleh penduduk asli yg macam model FPI..... yg tentunya menghendaki wisman harus berpakaian brukut tidak keliatan auratnya.... .... Utk pulau tak berpenghuni ......arsiteknya bisa amat leluasa merancang desain proyeknya tanpa hrs pusing memikirkan titik singgungnya dgn kawasnpenduduk lokal ........keperluan air bersihpun tentu sudah masuk dlm kalkulasi teknik/ financing ....... investor tinggal memasarkan ‘pulau’nya melalui internet dgn selling point ‘pulau yg dijamin amat terpencil’ dan menjadi ‘surga dunia’........salam, aby -----Original Message----- From: i_gume...@.. ....> Date: Sun, 28 Mar 2010 06:56:41 To: <refere...@yahoogrou ps.com>; <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Fw: Re: [plbpm] (Tgp) InvestasiDikhawatir kanPinggirkan Rakyat Lokal Mau bangun apa di pulau terluar? Di kepri, dr 19 yang bisa dihuni cuma 2. Yang lain cuma gundukan batu karang, dgn beberapa pohon, tdk ada air.

