Pengamanan pulau terluar selalu dikatakan prioriitas. Dananya banyak bertebaran 
di berbagai departemen. Namun hanya sedikit yg konkrit, sebagian besar hanya 
utk meeting, seminar dan sejenisnya.
Issue okupasi juga suka dibesar2kan krn semua pulau sudah bernama dan sudah ada 
patoknya. Patroli jg rutin diakukan dgn dukungan APBD. Di lapangan isuenya soal 
berebut  backing illegal fishing and traficking. 
Anda harus kesana utk ikut bicara. Jangan sampai seperti salah seorang teman 
kIta yg planner itu, yg bikin RTRW natuna tanpa pernah kesana, sehingga  
hasilnya jadi bahan terawaan semua. 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Date: Sun, 28 Mar 2010 02:35:24 
To: referensi<[email protected]>
Subject: [referensi] Re: (Bangun Apa?) Investasi Dikhawatirkan Pinggirkan 
Rakyat Lokal


Mengurus pulau2 terluar (92 buah?) utk konteks Indonesia memang bukan pekerjaan 
yg amat menyenangkan  ....tetapi itu adlh kewajiban negara yg tak enak namun 
suci ......janganlah ketika suatu saat nanti salah satu pulau terluar kita 
dicaplok orang lain (mudah2an tak akan terjadi)  lalu pertanyaan “mau bangun 
apa dipulau terluar” (walau tak ada pretensi negatip dari pertanyaan ini )  
ingin tidak dikecam orang..........

Sebuah keluarga yg memiliki 7 anak lalu yg 2 orang cacat/ lumpuhpun belum  
tentu si orangtua lalu menyia2kan yg cacat dan tak mau mengurusnya walau mereka 
sadar itu hanya akan membuang tenaga dan biaya saja.......... 

Urusan perbatasan/ pulau terluar kalau hanya dgn Malaysia atau SIngapura saja 
sih masih mending ......coba bgmn kalau urusannya dgn Australia yg masih ada 
kaitannya  dgn ‘british rules the waves’ itu ......kita tahu pulau terpencil 
Christmas punya Australia  walau amat terpencil namun lumayan bisa utk basis 
pertahanan mereka hanya krn sejarah ‘rules the waves’ itu  ....... ‘sengketa’ 
pulau Pasir/Ashmore Reef di Timor bukan perkara mudah utk dimenangkan 
Indonesia............

Memang benar pertanyaannya  ..... kalau Cuma berupa gundukan batukarang  tanpa 
sumber air mau bangun apa dipulau terluar?........tapi pertanyaan demikian 
kalau sampai dilontarkan oleh seorang planner sebaiknya jangan kenceng2 
......takut terdengar oleh masyarakat non-planner diluar sana.........

Mengelola pulau terluar seberapapun berat, seberapapun miskin dan amat tak 
menguntungkan kondisinya .......ada 2 aspek kepentingan yg sama/ berbeda antara 
negara sebagai pemiliknya (sektor hankam sbg yg paling waswas) dan pihak2 yg 
ingin/ mau mengelolanya........

Bagi negara..... asalkan jelas bhw pulau itu dikelola dan secara hukum 
internasional ia semakin jelas posisinya sbg milik Indonesia dan semakin jauh 
kemungkinannya dari sengketa dgn negara tetangga ......walau secara material 
brkali tidak terlampau menguntungkan misalnya ...itu tentu masih bagus dan 
bersyukur bagi negara kita.......

Bagi  swasta (lokal/ asing) yg berminat  mengelolanya  ........tentu setidaknya 
terdapat  alasan  positip kuat  sebagai landasannya....... utk kasus pulau 
Nipah misalnya... kalau benar Singapura akan menyewa/ mengelolanya ........satu 
plus point awal adalah setidaknya ...kalau ia mau dibuat sbg resort  
pariwisata  ......setidaknya penduduk Singapura akan bosan kalau setiap kali 
harus hanya berurusan dgn pulau2 mereka sendiri yg itu2  terus .....utk 
petualangan sport boating misalnya  ......pulau2 mereka sendiri jaraknya 
terlampau dekat sehingga kurang ada ‘tantangan’nya  .....sementara itu kalau 
pulau Nipah jaraknya jelas ‘lumayan’ (tapi tidak terlampau jauh) dan  masih ada 
lumayan  ‘tantangannya’.....
Masalah air bersih dll tentu sdh menjadi kalkulasi ......

Utk pulau2 terluar kita yg lain  ......bagi kita... sinar matahari yg sehari2 
memanggang kita rasanya  sudah bukan lagi sesuatu yg istimewa atau malahan 
menjadi semacam ‘musuh’ (kita perlu peneduh, payung, sunscreen dsb) .......tapi 
bagi orang2 Inggris, AS atau Eropa Utara ......matahari sepanjang tahun adalah 
‘keajaiban’ yg luar biasa .......dgn uang yg melimpah mereka akan memburunya 
sambil berlibur.........
Kalau misalnya dipakai utk resort pariwisata .......pulau yg tak dihuni malah 
memberi keuntungan  yg lumayan ....setidaknya investor yg utk proyek wisatanya 
nanti akan kedatangan wisman2 ya berbikini .....mereka tak perlu pusing 
menghadapi demo oleh penduduk asli yg macam model FPI..... yg tentunya 
menghendaki wisman  harus berpakaian brukut tidak keliatan auratnya........
Utk pulau tak berpenghuni ......arsiteknya  bisa amat leluasa merancang desain 
proyeknya tanpa hrs pusing memikirkan titik singgungnya dgn kawasnpenduduk 
lokal ........keperluan air bersihpun tentu sudah masuk dlm kalkulasi teknik/ 
financing  ....... investor tinggal memasarkan ‘pulau’nya melalui internet dgn 
selling point  ‘pulau yg dijamin amat terpencil’ dan menjadi ‘surga 
dunia’........salam, 
aby
 
 
-----Original Message-----
From: i_gume...@......>
Date: Sun, 28 Mar 2010 06:56:41 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: Re: [plbpm] (Tgp)
InvestasiDikhawatirkanPinggirkan Rakyat Lokal

Mau bangun apa di pulau terluar? Di kepri, dr 19 yang bisa dihuni cuma 2. Yang 
lain cuma gundukan batu karang, dgn beberapa pohon,  tdk ada air. 
 
 
 
 


      

Kirim email ke